SANDIWARA RADIO

Sebagai anak desa yang melewati masa anak-anak pada 80-an, sandiwara radio inilah hiburan yang ‘didatangkan’ dari luar selebih aneka macam permainan yang kami buat sendiri.
Ada yang membaca atau Menonton Laskar Pelangi?, Ya. Maher, seorang tokoh yang selalu membawa radio saat bermain bersama teman-temannya. Bagi saya dan teman-teman pada masa itu juga punya teman seperti Maher yang selalu membawa radio. Dialah yang selalu kami harapkan untuk membawa radio saat bermain di areal persawahan, bebukitan dan sungai. Kekecewaan dan kemuraman terpencar di wajah kami saat ia datang tanpa radio. Sayang Allah telah memanggilnya sejak 8 tahun silam.

Mengenang kembali ; Brama Kumbara, Mantili adik Brama Kumbara pemilik Pedang Setan dan Pedang Perak, Sipenggoda-Lasmini- menenar cinta dimana-mana, menyimpan dendam membara kepada Brama Kumbara karena cintanya tak berbalas, Raden Bentar, dua isteri Brama Kumbara; Paramitha dan Dewi Harnum.

****
Seandainya dahulu diizinkan untuk menceritakan salah satu episode Sandiwara Radio dibawah ini sebagai ganti untuk tidak mengikuti penataran P-4 saya akan lakukan itu. Bahkan jika dianggap tidak sebanding dengan penataran P-4 yang berdurasi semingggu, mementaskan salah satu episode saya juga bersedia asal dibolehkan tidak ikut penataran P-4.

Kenangan saya tentang penataran P-4 bahkan lebih buruk daripada ospek. Sepekan yang menjenuhkan mendengarkan pemateri berbicara di depan menyampaikan materi yang sudah di dapatkan dari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan itu (PMP) pelajaran yang paling saya tidak sukai, bahkan ketika SMA saya lupa waktu kelas berapa? kebetulan pelajaran jatuh pada jam pertama. Saya minta izin kepada guru untuk sholat dhuha, lalu berlama-lama di mushola.

Belakangan saya baru tahu (setelah dikasih tahu oleh isteri) bahwa selama penataran P-4 berlansung ia dan teman-temannya memilih membaca komik seperti Doraemon dan lainnya. Sedangkan saya saat itu dengan ekpresi sedingin es batu tanpa pernah ngobrol dengan tetangga kanan-kiri membiarkan diri dihantam kejenuhan. Tak pernah terpikirkan untuk membawa bacaan untuk mengusir jenuh. Padahal peserta cukup ramai dan jarak pembicara dengan peserta cukup jauh, sehingga kecil kemungkinan ketahuan. Hanya satu hal yang saya tunggu-tunggu ketika itu, tertulis ISHOMA dijadwal kegiatan. Ya jatah nasi bungkus, berebut–seakan-akan tidak tidak kebagian–dan lalu menyantapnya di pinggir lapangan basket sambil menikmati deburan ombak diiringi belaian lembut angin pantai.

****

Al Albana, Andaleh, 16 Safar 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close