Waktu

60, 12, 24, 7, 28, 29, 30, 31 hanyalah numerik yang disepakti untuk seragaman karena berbagai alasan kebutuhan. Ia (penanggalan) hanyalah kesepakatan. Pada kalender romawi (yang kita gunakan sekarang) awalnya setahun hanya 10 bulan, baru pada masa Kaisar Julius Caesar, merubahbya menjadi 12 bulan seperti penanggalan bangsa lainnya seperti Mesir, Babilonia, Sumeria, Asiria, Persia dan Tiongkok.

Penanggalan Romawi awal ; Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, September(Septieme/bulan ketujuh) , Oktober(Okta/bulan kedelapan) , Nopember dan Desember. Ia menambahkan namanya Julius (Juli) untuk bulan ketujuh dan Agustinus (Agustus) untuk bulan kedelapan. Maka tergeserlah susunan bulan dalam penanggalam Masehi, sehingga september yang berarti ketujuh bergeser menjadi bulan kesembilan, begitupun Okto(ber) yang berarti delapan tertegeser menjadi bulan kesepuluh. Lali kalender ini disemprnakan oleh Umar Kayyam dari Persia pada abad ke-11.

Bahkan tidak hanya siswa cerdas yang bisa akselerasi (meloncat). Penanggalan juga pernah meloncat Masehi. Paus Georgerius merubah kalender Julian dengan menetapkan bahwa tanggal setelah Kamis, 4 Oktober 1582 M besoknya Jum’at meloncat menjadi 15 Oktober 1582 M. Tak tanggung-tanggung meloncat sebanyak 11 hari.

Begitulah relativitas waktu, aneka penanggalan hanyalah tafsiran-tafsiran atas yang kita sebut ‘waktu’. Ada banyak kalender yang digunakan manusia di bumi saat ini ; Kalender Masehi, Hijriah, Saka, Yahudi (Ibrani), Mesir, Tiongkok dan banyak lainnya. Dengan perhitungan dalam setahun yang berbeda-beda pula.

Kisah Ashabul Kahfi yang diceritakan dalam Surah Al Kahfi. Setidaknya juga sedikit menceritakan tentang relativitas waktu. 300 tahun atau 300 tahun ditambah 9 tahun. Menjelaskan bahwa kalender (kesepakatan manusia) dalam mengukur waktu bersifat relatif.

Mengukur waktu relatif karena ‘waktu’ sendiri juga relatif. Dalam Shahih Bukhori dan Muslim diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah S.A.W bersabda ; ” ajal kalian dibanding umat-umat sebelum kalian bagaikan jarak antara sholat ashar dan terbenamnya matahari (magrib)”.
Hadist di atas menjelaskan bahwa jika diibaratkan dunia ini dimulai dari shubuh dan berakhir terbenamnya matahari (magrib) maka kedatangan islam saat ashar dan berakhir saat kiamat (magrib) begitulah kira-kira metafora dalam hadist ini. Keberadaam umat Islam sudah 1400 tahun lebih dan dunia belum juga Kiamat. Padahal Rasulullah pernah bersabda “jarak antara aku diutus seperti dua ini” sambil menunjuk dua jari (telunjuk dan jari tengah) dan membentangkannya. Jarak kedua jari sangat dekat. Maksudnya bahwa kedatangan kiamat sudah dekat.

Waktu yang relatif, kita menghitungnya juga berbeda-beda. Bahkan setelah menetap kekal di akhirat kelak, waktu tidak lagi bergerak linear seperti yang kita definisikan sekarang (kemarin, hari ini, esok).

Ya. Tentang waktu adalah relatif, ya absolut adalah kita bergerak kepada sesuatu yang akan abadi (kekal) yaitu kampung akhirat.

****

Al Albana, Andaleh 17 Safar 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close