Muhammad Yamin & Sumpah Pemuda

Pemuda 25 tahun itu berasal dari Talawi. Ia gagal terpilih menjadi Ketua Kongres Pemuda II , karena berasal dari Jong Sumatera sedangkan peserta kongres menginginkan ketua yang netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi kedaerahan yang sudah ada. Terpilihlah Soegondo Djojopoespito. Sedangkan karena kemampuan Bahasa Melayu–Lingua Franca yang digunakan saat itu, yang belakangan diikrarkan menjadi Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia–Ia terpilih sebagai Sekretaris. Belakangan hari, ihwal Sumpah Pemuda kita akan lansung teringat kepadanya bukan kepada ketua kongres-Soegondo Djojopoespito.

Tiga hari lamanya kongres pemuda ini berlansung, mereka tidak hanya membahas masalah kepanduan dan kepemudaan tapi juga tentang kebangsaan dan tanah air dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Di penghujung kongres, sang pemuda itu yang duduk di sebelah Soegondo menyodorkan secarik kertas kepada seraya berbisik, “Ik heb een elganter formuleren voor de resolutie [saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes].”
Di atas secarik kertas itu, tertulis tiga frasa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Selanjutnya Soegondo memberi paraf pada secarik kertas itu yang menyatakan setuju, dan diikuti oleh anggota lainnya yang menyatakan setuju juga. Akhirnya ikrar dibacakan oleh Soegondo dan diikuti oleh semua peserta diiringi. Kongres diakhiri dengan gesekan Biola Wage Rudolf Supratman mengiringi Dolly Salim melantunkan lagu Indonesia Raya dengan lirik merdeka diganti dengan mulia. Indonesia Raya mulia…mulia.

Gedung Indonesische Clubhuis —nama lain asrama pelajar STOVIA yang berlolasi di Jl Kramat 106 Jakarta Pusat berubah menjadi hening dan syahdu. Pasang-pasang mata berkedip-kedip basah, bibir berkomat-kamit syukur berterimakasih kepada Allah.

Pemuda itu adalah Muhammad Yamin.
Yamin memang fenomenal dan penuh kontroversi. Belakangan ketika Orde Baru sedang melakukan de-Soekarnoisasi, namanya dimunculkan-disebut- sebagai pencetus Pancasila bukan Soekarno, bahkan simpang-siur ada yang menyebut lirik lagu Indonesia Raya juga ciptaannya karena diksi di lagu Indonesia Raya dengan mudah kita temukan pada puisiTanah Air” (1920) dan “Indonesia Tumpah Darahku” (1928) ciptaan Muhammad Yamin.

Jika Tan Malaka menjadi legenda dan misteri karena sepanjang hidupnya memang selalu nyaris berada “di bawah tanah”, maka Yamin tetap menjadi teka-teki (barangkali) karena ia selalu berdiri tegak “di atas tanah”, “di tengah pentas”, dengan sikap yang tegar di tengah arus zaman yang justru sedang tergesa-gesa dan tak sabar! Sama seperti Sjahrir. Namun karena ia tidak pernah sekolah dan tinggal di Eropa ia menjadi seorang Nasionalis Tulen bolej juga disebut seorang Soekarnois. Sedangkan Sjahrir Seorang Sosialis kanan yang kosmopolitan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Bertanah air satu
Berbangsa Satu
Berbahasa Satu

“INDONESIA”

Nasionalisme kita perihal Tanah Air dan Bangsa tak perlu diragukan lagi, tapi bagaimana dengan Bahasa , terutama kelas menengah yang ‘Keminggris’.

****

Al Albana, Andaleh 18 Safar 1430

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close