GENERALISASI AKIBAT FANATISME

Tak lama setelah pulang dari Amerika, pada tahun 1952 itu–kisah perjalanan ini diabadikan Buya dalam sebuah buku yang berjudul Empat Bulan di Amerika–Buya Kedatangan tamu, seorang pemuda “Subhanallah, Buya,” ujar pemuda itu, “Sungguh tak menyangka, ternyata di Makkah itu ada pelacur, Buya. Kok bisa ya?” katanya mengabarkan dengan bersemangat. “Oh ya,” sahut Hamka pendek.

“Saya baru saja dari New York, dan Masya Allah, di sana tidak ada pelacur,” jawabnya Hamka.

“Ah, mana mungkin, Buya, Di Makkah saja ada kok, tentu di Amerika jauh lebih banyak lagi,” kata pemuda itu.

“Kita memang dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Di New York tidak ada pelacur kalau tidak dicari. Di Makkah ada pelacur kalau itu yang dicari,” jawab Hamka bijaksana.

Menarik sekali cara seorang berilmu seperti Hamka menanggapi pertanyaan tendensius pemuda ini. Barangkali jika pertanyaan seperti itu dialamatkan kepada saya dengan kadar ilmu pas-pasan, akan menjawab dengan emosi dan menuduh pemuda itu telah menistakan Kota Suci Umat Islam. Dan ujung pada pertikaian (unfriend). Namun Buya Hamka menemukan cara memukul balik dengan cara yang elegan–mematikan tapi tak punya celah untuk diserang balik–.Saya membayangkan muka pemuda itu merah padam dan buru-buru pamit tanpa menghabiskan teh yang disuguhkan.

Kita memang akan menemukan sesuai dengan yang kita cari. Baik itu dalam kehidupan nyata apalagi di dunia maya. Jika smartphone di tangan ini digunakan untuk mencari yang buruk, nirfaedah itu pasti kita akan temukan dengan mudah, sama seperti saat kita mencari hal yang bermamfaat. Terlebih lagi untuk mencari-cari kesalahan atau keburukan seseorang atau kelompok untuk kita caci-maki itu akan sama mudahnya saat kita mencari kelebihan seseorang untuk disanjung dan puja-puji. Kita akan dipertemukan sesuai dengan yang kita cari.

20 tahun yang silam, saya pernah kehilangan sandal di Masjid Muhammadiyah. Apakah dengan kejadian ini saya boleh menyebut seenaknya ; jamaah Muhammadiyah suka maling sandal?, barangkali ada yang pernah waktu di kampus dulu pernah meminjamkan uang kepada aktifis HMI dan tidak dikembalikan, anda tidak bisa sesukanya menyebut HMI penipu?, bagi yang pernah kena tilang karena melanggar rambu lalu lintas saat berkendara lalu anda minta ‘damai’ dengan memberikan sejumlah uang, tentu tidak bisa sesukanya menyebut Institusi Polri mudah disuap. Saya pernah kecewa dengan layanan seorang dokter, tapi kalau sakit saya tetap ke rumah sakit. Dan karena itulah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada lema ‘oknum’.

Tidak sesederna itu kan?

Generalisasi yang tergesa-gesa seperti yang dilakukan pemuda di atas semakin marak terjadi saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari terlebih di dunia maya, apalagi di-asamgaram-i oleh fanatisme buta terhadap seseorang atau kelompok. Jadilah kegaduhan tiada henti saat ini.

****

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close