Kejar Daku Kau Kutangkap, Tiga Dara Usmar Ismail dan Tiga Dara

Saya memang tidak pernah menonton film Tiga Dara ‘milik’ Bapak Film Indonesia Usmar Ismail secata utuh. Hanya potongan-potongan pendek yang diunggah di situs video berbagi.

Dari berbagai resensi yang saya dapatkan dari media online dan sosial, film itu mendapatkan apresiasi yang luar biasa pada masanya. Bahkan hingga hari ini, Tiga Dara dan Kejar Daku Kau Tangkap disebut sebagai film genre komedi terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Kedua film tersebut disutradai oleh sineas hebat. Jika Tiga Dara oleh Usmar Ismail sedangkan Kejar Daku Kau Kutangkap karya Chaerul Umam-Sutradara pilih tanding setelah Usmar Ismail. Apalagi skenario Kejar Daku Kau Kutangkap juga ditulis oleh Sastrawan Ulung-Asrul Sani.

Lain halnya dengan Tiga Dara, Kejar Daku Kau Kutangkap, saya pernah menonton film serta versi layar kacanya di televisi.

Ramadhan dan Ramona memulai kisah cinta mereka dari sebuah sengketa. Ramadhan seorang wartawan photo memotret Mona tanpa izin, lalu memajang hasil jepretannya di rubrik “yang beruntung hari ini”, Mona berhak atas hadiah Rp 10.000 dari redaksi. Mona mengambil hadiah tapi mengancam Ramadhan karena telah memotretnya tanpa izin. Begitulah konflik di film ini dimulai oleh Chaerul Umam.

Kemahiran Chaerul Umam dan keunggulan naskah yang ditulis oleh seorang sastrawan benar-benar membuat film ini ‘hidup’. Belum lagi kemampuan akting Dedy Mizwar dan Lidya Kandouw. Gaya bicara dan gaya berjalan Ramadhan (Deddy Mizwar) kadang terlihat berlebih-lebihan, tapi ia benar-benar perwakilan lelaki muda yang terjebak gengsi dan cinta. Sementara, Ramona (Lydia Kandou) dengan telaten memberikan berbagai ekspresi wajah yang amat tepat serta sesuai dengan jalan dan emosi cerita.

Kejar Daku Kau Kutangkap ialah gambaran umum dan gambaran secara garis besar manusia-manusia modern yang memandang cinta sebagai cara menebus keberadaan dirinya. Cinta ialah proses takluk-menaklukkan yang panjang. Terjebak dalam gengsi dan harga diri.

Begitu pula halnya dengan Tiga Dara yang digarap Usmar Ismail pada tahun 1956 yang dibintangi oleh ; Mieke Wijaya, Chitra Dewi dan Idriati Ishak. Berikut ini salah satu adegan yang ada dalam film Tiga Dara Usmar Ismail

—-

Toto (Rendra Karno) begitu kikuk berjalan masuk ke ruang tamu. Sebelum lelaki itu berdiri di hadapannya, dengan cepat Nunung (Chitra Dewi) membenarkan letak kebaya dan rambutnya. Ia tak ingin tampak kusut tentu saja. Sekejap kemudian dia duduk dengan takzim lalu menyambar sebuah buku lalu pura-pura membaca.

“Saya mau mengajak kamu jalan-jalan sore”.
“Untuk apa? Saya tak berminat”.

Sejenak ia menyesali kata-kata pahit tanpa alasan keluar dari bibirnya yang manis itu. Tapi ia berpikir ini salah satu cara menunjukkan ia suka lelaki itu tapi dibakar cemburu mengapa justru adiknya-Nana (Mieke Wijaya) yang belakangan lebih kerap digandeng pergi ketimbang dirinya. Apakah ia tampak kurang menarik?

“Baiklah. Saya tak akan mengganggu Anda.”

Lelaki itu berdiri sendu bagai sebuah tiang pelabuhan tua yang berlumut dan kurang sinar matahari. Mendadak seluruh cita-citanya mengajak Nunung jalan-jalan sore, sebuah percobaan yang dilakukannya sungguh-sungguh selama beberapa pekan terakhir, terasa seperti kapal yang kandas.

“Nunggu apa lagi? Silakan pergi sendiri”.

Nunung merasa saatnya menekan gas agar Toto itu segera pergi dari hadapannya. Tapi lelaki itu masih di sana. Ia mengernyitkan dahi.

“Hmm, buku yang Anda baca posisinya terbalik.”

Dia kaget. Sial. Buku itu memang dipegangnya terbalik karena terburu-buru, bagian yang seharusnya di atas berada di bawah sehingga semua huruf yang ada di sana ikut jungkir balik. Tapi ia tak boleh kalah.

“Memang sengaja. Lagi mencoba membaca gaya baru. Siapa tahu bisa lebih cepat.”

Sungguh sebuah adegan dengan acting dan dialog yang cerdas.

Dengan modal membaca refrensi itu saya datang ke XXI menebus gerimis pada minggu Sore kemarin.

Badingkan adegan komedi yang dibuat oleh Usmar Ismail dengan adegan komedi yang dibuat oleh Monty Tiwa yang saya dapatkan kemarin di bioskop.
Film ini ingin memotret fenomena laki-laki misoginis yang lahir dari budaya patriarki. Tiga tokoh utamanya adalah Afandi (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting).

Setelah berbagai kebodohan dan kekonyolan yang dilakukan oleh tiga sekawan ini ; Affandi, menantu sekaligus sahabatnya Jay dan sahabat mereka lainnya Ricard mendapat hukuman oleh Jentu (Soleh Solihun) –orang yang diberikan wewenang oleh Ndoro Puteri (Cut Mini)– menyuruh mereka menguras kolam renang dengan menggunakan gayung dan menyikat lantai kolam renang dengan sikat gigi. Kelihatannya memang lucu dan konyol, kolam renang yang dilengkapi dengan katup buka-tutup untuk memasukan dan mengeluarkan air, malah dikuras dengan gayung. Lucu. Tapi kalau dalami lebih lama garing. Dangkal tanpa ‘kedalaman’.

Meskipun film adalah imajinasi bebas sutradara dan penulis naskah namun adegan demi adegan serta alur cerita mesti mengakar dan dekat dengan realitas. Bandingakan dengan adegan ‘Buku Berbalik’ dalam Tiga Dara-nya Usmar Ismail. Mengakar. Kuat. Dalam dan dekat dengan realitas.

Sedikit yang menarik dari film Tiga Dara yang saya tonton kemarin adalah sosok Ndoro Putri dan Jentu. Karakter yang dibangun oleh sutradara kuat dan mengakar. Setidaknya pada Ndoro Puteri memang terlihat sebagai seorang Priyayi yang berkuasa penuh sedangkan Jentu benar-benar memamfaatkan kesempatan langka ini untuk membalaskan dendam. Sebagai seorang ‘abdi dalem’ selama ini hidupnya hanya sebagai pelayan Ndoro Putri inilah saatnya memerintah tiga begundal, bodoh, konyol dan lagi malang.

Mebandingkan Tiga Dara, Kejar Daku Kau Kutangkap dengan film bergenre komedi saat ini ibarat siang dalam malam baik dari ide cerita sampai kepada pendekatan philosofis dari setiap alur cerita yang dibangun. Kecuali dalam hal sinematografis. Dengan kemajuan teknologi saat ini film-film sekarang memang jauh lebih unggul.

Ternyata film ini memang bukan sekuel atau reborn dari film Tiga Dara -nya Usmar Ismail. Tapi sekuel dari film Tiga Dara yang disutradarai oleh Monty Tiwa yang dirilis pada 2016. Film yang terpisah. Mereka memang licik ‘menjual’ kebesaran Film Tiga Dara Usmar Ismail dengan memberi judul yang sama.

Saya menyesal. Padahal jatah nonton sebulan sekali saya alihkan ke film ini yang semula saya rencanakan untuk Aruna Dan Lidahnya. Saya memilih ini karena kelawasannya, saya bilang ke anak dan isteri bahwa kita tak usah nonton Aruna Dan Lidahnya karena tidak boleh bawa Mie Ayam masuk Bioskop sedangkan Dian Sastro, Hana Al Rasyid dan Nicolas Saputera melahap aneka kuliner nusantara sepanjang film berlansung. Bisa apa?

****

Al Albana-Penonton Film Indonesia, Andaleh, 19 Safar 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close