Apakah Presiden Kita Kafir?

Kemarin banyak yang membagikan video ini, sebagian besar pendukung Capres Petahana.

Biasanya saya jarang membaca komentar-komentar dari sebuah postingan selebook, kalau tertarik saya membaca postingan sampai selesai selanjutnya scroll down. Kuping saya tak siap membaca komentar-komentar yang boleh juga disebut kutukan dari hatter selebook tersebut. Biasanya akun seorang selebook diikuti tidak hanya oleh orang-orang yang menyukai postingan tapi sekaligus oleh orang-orang yang membencinya-hater.

Saya membuka kolom komentar. Pujian setinggi langit dihaturkan oleh Jokower Militan sebaliknya Probower Radikal mencela dan memaki habis-habisaan sang ustadz dengan pelbagai tuduhan. Mulai dari jukukan “dasar cebong”, ustadz gadungan” sampai ada yang menyebut sang ustadz sudah dijinakan dengan uang dan fasilitas lainnya.

Beberapa tahun lalu, ketika masih bekerja di CIMB Bintaro, setiap senin ba’da Zuhur ustadz Riyadh ini memberikan tausiah di Masjid yang terletak di Basement Griya CIMB. Materi yang dibawakannya Sirah Nabawiyah, bukan tema yang berat seperti di Video ini.

Sama halnya dengan ‘selebook’ tidak hanya diikuti oleh orang-orang yang menyukai postingannya tapi juga hater yang siap ‘membully‘ begitupula halnya kajian seorang ustadz pada zaman sekarang, tidak semua yang datang adalah mereka yang sepaham, tapi juga ada semacam ‘intel’ mencari-cari perbedaan dengan yang mereka pahami. Sebenarnya wajar saja sejauh semangatnya untuk menggali kebenaran yang bersifat inklusif-untuk diri sendiri-bukan untuk mendiskreditkan ustadz atau kelompok lain yang berbeda pemahaman.

Semangat negatif yang diusung ”intel” inilah yang selama ini memperuncing perbedaan yang berujung kepada saling mencela antar kelompok. Mereka (para intel) merekam, lalu memenggal-menggal video, syukur tidak menambah atau menghilangkan sebagian teks, sehingga teks tercabut dari konteks yang disampaikan ustadz. Lalu mengunggah potongan video yang sudah tercabut dari konteks di media sosial dan youtube dengan maksud mengambil keuntungan bagi kelompoknya sekaligus menjelekkan kelompok lain.

Jika dicermati lebih dalam dan dihayati pelan-pelan, potongan video ini tidak bermaksud melegitimasi capres kubu petahana dan tidak pula mencela kubu oposisi (setidaknya menurut pemahaman saya). Karena yang dijelaskan di video ini adalah pemerintahan bukan sosok Jokowi, meskipun penanya menyebutkan “Presiden Kita” tapi sang ustadz menjelaskan tentang pemerintahan bukan sosok. Saya percaya jika pertanyaan yang sama diajukan pada masa pemerintahan SBY, Megawati, Gus Dur, Soeharto, Soekarno bahkan jika Prabowo menang pada Pilpres mendatang, Ustadz Riyadh juga akan menjawab dengan jawaban yang sama dengan video ini.

Melihat komentar-komentar dari kubu Jokower Militan dan Prabower Radikal pada postingan video ini, ada benarnya juga sindiran Prabowo ; 50% rakyat indonesia ‘buta huruf‘, tentu saja bukan tidak mampu membaca aksara latin namun gagal memahami sebuah teks secara kontekstual.

Yuks, kita pelan-pelan memahami teks secara kontekstual.

Mohon maaf atas kekeliruan atau perbedaan dalam memahami potongan videoo ini.

Selamat menunaikan ibadah sholat jum’at

***

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close