Permainan Angka Dan Dominan Otak Kiri

Beberapa minggu lalu saya memberikan sebuah trik menebak pikiran tepatnya menebak angka dalam pikiran orang lain.

“Bebs, sini. Saya bisa membaca pikiranmu tepatnya angka yang ada dalam pikiranmu”

“Caranya yah?”

Dengan lagak yang di-Deddy Courbuzer-kan “kamu ingat satu angka, sebenarnya bisa angka berapa saja, tapi saya takut kamu keliru dalam menjumlahkan atau mengurangi sesuai intruksi, saya batasi saja dari angka 1 sampai 10. Sekarang ingat satu angka jangan beritahu ayah, cukup dalam hati, boleh juga ditulis jika takut lupa atau keliru dalam menjumlahkan atau mengurangi” terang saya sambil menjulurkan selembar kertas beserta pencil.

“Tak perlu yah, saya kuat matematika” jawabnya menyombongkan diri

Ini yang saya tak suka, bukan karena kejemawaannya dalam hal berhitung, tapi perihal kemalasan dalam menulis.

“Siap, mari kita mulai!, tambahkan angka yang kamu ingat tadi dengan 3, sudah? tambah lagi dengan 5, selanjutnya kurangi dengan 2” saya memberi instruksi.

Jeda sejenak, “tambah 4, cukup nanti terlalu panjang, ayah takut kamu keliru dalam menjumlahkan atau mengurangi, ilmu tembus pandang ayah untuk melihat otakmu agar terlihat angka yang kamu pikirkan tidak mempan” saya mengakhiri.

“Berapa hasil akhirnya?” tanya saja.

“14 yah” jawabnya.

Saya menatap jidatnya dengan tajam dengan seolah-olah sedang berpikir keras ala Deddy Courbuzer.

“Ayah bukan peramal, bukan pula paranormal, bukan pula dukun yang menyaru jadi ustadz, belum pernah juga orang datang minta untuk mengobati anaknya yang menderita skizoprenia, namun ayah bisa mengetahui angka yang kamu pikirkan, aaadaaaalaaaaah, treng….treng….treng…..4” saya mengacungkan empat jari ke atas, sambil meloncat.

Ia terkesima. Heran, “kok ayah tahu angka saya 4?”

“Itulah nama jurusnya membaca pikiran, yang tak pernah ayah pelajari kepada Deddy Corbuzer”

“Kok tak pernah ayah pelajari, maksudnya apa?” Sekarang ia tak hanya penasaran tapi sudah bercampur bingung dengan pernyataan ngawur saya.

“Agar kamu lebih yakin, mari kita ulangi lagi, dengan variasi yang berbeda, agar kamu tak menuduh jawaban ayah kebetulan tepat dengan angka rahasiamu” saya mengalihkan.

Dan saya pun meminta dia untuk memilih dan mengingat sebuah angka. Lalu memintanya mengikuti perintah saya untuk menambah, mengurangi dengan variasi angka yang berbeda-beda dan lebih panjang. Dan saya akhiri dengan memintanya menyebutkan hasil akhir. Selain dengan bergaya ala Deddy Corbuzer kadang agar terlihat ilmiah saya mencoret-coret kertas dengan angka-angka seperti rumus E= M C² milik Einsten sebelum menebak angka rahasianya.

Terus berulang-ulang hingga belasan kali, ia semakin penasaran dan memaksa saya untuk membongkar rahasia permainan menebak angka ini.

Saya mengelak “walapun ayah sekolah jurusan Fisika, kuliah Fakultas Teknik dan sangat rasional tapi ayah juga percaya ada hal-hal yang tak bisa dipecahkan oleh sains karena itulah ayah juga percaya metafisika, contohnya hal seperti ini, membaca pikiranmu”

“Ya, tapi kasih tahulah bagaimana caranya” ia terus mendesak.

“Kok, kamu bilang kasih tahu caranya?, kalau sains memang kita bicara tentang cara atau teknik, tapi ini metafisika yang tak bisa dipelajari atau diajarkan. Menguasai ilmu ini dengan melatih jiwa ; merendahkan diri, membersihkan hati dari segala prasangka, meninggalkan segala kefanaan dunia” saya berlagak seperti Rumi.

“Ahh, banyak cakap” ia mengejar dan menjambak rambut saya, “kasih tahu nggak, kalau nggak saya tarik lebih kencang lagi.

Yah, kalau sudah diancam begini terpaksalah ilmu yang saya dapatkan ketika SMA akan saya turunkan kepada murid kelas 3 SD.

“Ok, baiklah, tapi jangan kasih tahu temanmu ya, kecuali kamu juga berhasil membuatnya penasaran seperti yang ayah perbuat kepadamu.

“Ayah, hanya berfokus dengan angka yang ayah intruksikan, tidak memikirkan berapa angka rahasiamu, seperti ini ; tambahkan angka yang kamu ingat tadi dengan 3, tambah lagi dengan 5, selanjutnya kurangi dengan 2 tambah 4. Coba kamu selesaikan 3+5-2+4!”

“3+5-2+4= 10″ jawabnya.

Tadi saat ayah tanyakan berapa hasil akhirmu jika dimasukan angka rahasiamu, hasilnya, kamu jawab 14 bukan? . Sedangkan hasil penjumlahan angka ayah saja tanpa memasukan angka rahasimu 10. Sekarang tinggal kita hitung selisihnya ; 14-10 = 4. Benarkan angka rahasiamu 4?”.

“Iya, coba ulang lagi”, ia sumbringah.

Kami ulangi beberapa kali. Setelah merasa yakin dan mantap, sekarang berganti posisi ; saya yang diminta memilih dan mengingat sebuah angka rahasia, ia yang memberikan intruksi dengan meminta menambah atau mengurangi. Berhasil. Ulangi lagi, kadang berhasil kadang salah, mungkin karena saya keliru dalam mengukuti intruksinya atau ia lupa dengan angka-angka yang dia sebutkan. Poinnya ia sudah paham. Ia pun dengan pede mendemonstarikan kemampuan barunya ini kepada ibu dan sepupunya.

Seminggu kemudian ia datang kepada saya “saya punya yang lebih hebat dari menebak angka yang ayah ajarkan” ia berlagak jemawa.

“Kalau ayah cuma bisa menebak angka yang ada dalam pikiran, tapi saya tahu hasil akhir dari penjumlahan dan pengurangan dengan memasukan angka yang dirahasiakan orang”, ia melanjutkan.

“Silakan, buktikan jurus barumu kisanak!” Saya mempersilakan.

“Seperti biasa, silakan pilih satu angka, ingat dalam hati rahasiakan dari saya”

“Sudah anak muda, hamba menunggu titah selanjutnya”

“Tambah angka yang ayah rahasiakan dengan 5, tambah 5 lagi, tambah 4, kurangi 2, silakan ditambah 3, sekarang kurangi dengan angka yang ayah rahasiakan!” Ia memberikan intruksi cenderung agak cepat.

Saya memikirkan angka 5 saat itu.

Ia melanjutkan “sudah, jangan sebutkan hasil akhirnya, saya tahu, hasil 15”, ujarnya diikuti tawa untuk membanggakan diri sendiri.

“Wah, ruaaar biasa, kok kamu tahu hasil akhirnya padahal ada angka yang ayah rahasiakan juga masuk kedalam komponen penjumlahan”, saya penasaran. “Coba ulang lagi, agar jelas”.

Sama seperti langkah sebelumnya dengan variasi angka yang berbeda, dan diakhirinya dengan menebak hasil akhir. Selalu benar.

Pada ulangan yang ketiga saya sudah mengetahui trik ini yaitu pada step terakhir ; ia minta saya mengurangi dengan angka yang saya rahasiakan. Misalnya angka yang saya rahasiakan 7, di step terakhir ia meminta saya mengurangi dengan angka rahasia (7). 7-7 = 0, otomatis hasil akhir adalah sumary dari angka-angka yang diintruksikannya.

Tapi saya tak ingin merusak kebanggaannya atas temuan permainan angka itu, saya terus memasang wajah exciting dan pura-pura belum tahu rahasia di balik permainan angkanya ini.

Diam-diam saya semakin sadar bahwa dia memang lebih dominan otak kiri dari pada otak kanan. Berbeda dengan harapan dan upaya-upaya yang saya lakukan selama ini. Padahal saya berharap dia mendalami ilmu sosial dan humaniora. Kuliah Fakultas Ilmu Budaya atau Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi untuk menuntaskan dendam saya yang salah jurusan. Dan punya sparing partner untuk ngobrol hal-hal seperti sastra, sejarah dan kebudayaan di rumah.

Menurut guru di sekolah, untuk pelajaran Bahasa Arab dan Sejarah Kebudayaan Islam ia menjadi rujukan. Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan ke sekolah saya bertanya bagaimana perkembangan pelajaran Bahasa Arabnya, ia menceritakan bahwa guru yang mengajar Bahasa Arab jika mengajukan pertanyaan kepada murid-murid walaupun ia mengangkat tangan tapi tak diberikan kesempatan untuk menjawab, “silakan siapa yang tahu jawabanya, jangan Alwi terus”. Saya senang sekali mendengar ceritanya ini. Hal-hal seperti ini yang membuat saya berharap ia kuliah jurusan Sastra Arab atau Hubungan International. Membayangkan ia seperti Ali Audah yang telah menterjemahkan biografi Nabi Muhammad, Abu Bakar Sidiq dan Umar bin Khatab karya Muhammad Husin Haekal dan karya sastra Timur Tengah lainnya berupa Novel dan puisi ke dalam Bahasa Indonesia.

Sepertinya saya hanya mewariskan warna kulit gelap kepadanya, sedangkan untuk ketertarikan terhadap disiplin ilmu, genetika ibunya lebih dominan. Ibunya Sains bangat, itulah yang diwarisinya.

Kalau memang begini, saya harus manut kepada nasihat Khalil Gibran “…Curahkan semua kasih sayang dan perhatianmu, tapi bukan memaksakan pikiranmu”.

****

Al Albana, Andaleh, 16 Rabiul Awal 1440

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close