Kegenitan PSI Mendompleng Isu Sensasitif

Salah satu ciri generasi milenial berfikir cepat dan instan tanpa pendalaman. Begitu pula kiranya yang terjadi pada Partai Milenial ini. Partai yang mengaku milenial karena dihuni oleh generasi milenial. Partai besutan Grace Natalia. Digawangi oleh Isyana Bagus Oka, Tsamara. Mereka mengambil cerukan pasar generasi milenial. Dengan topik yang dekat dengan generasi milenial. Itu hanya salah satu cara selebihnya mereka menggaet suara dengan kebeningan punggawanya. Boleh cek ; selain Raja Juli dan Jeffrey Geovani siapa lagi tokoh partai ini dari kaum adam yang anda kenal?

Sebagai Partai yang mengaku sebagai partai mileniel PSI ingin terus ”mengudara” di trafik percakapan dunia maya, meskipun terkadang dengan cara-cara yang cacat peripikir. Yang penting viral begitulah kira-kira yang tujuan mereka.

Terbaru, PSI mengusik Perda Syariah. Sontak menjadi perbincangan warganet. Karena memang memang Partai ini lebih mentereng di dunia maya, sedangkan di dunia nyata boleh dibilang biasa saja.

Kebijakan soal perda syariah (atau semacamnya) muncul sebagai kelanjutan semangat otonomi daerah. Kebijakan atas pentingnya otonomi daerah mengacu pada dua hal penting: (1) respons atas watak sentralistik rezim Soeharto selama 32-an tahun; (2), mengamanatkan bahwa Indonesia itu beragam berbhineka. Satu kebijakan belum tentu tepat diimplementasikan di semua daerah seperti yang dijalankan pada masa Orde Baru. Perbedaan agama, bahasa, kultural, dan lain sebagainya harus menjadi pertimbangan, termasuk dari sisi ekonomi.

Kalau menilik dari nalar di atas, perda syariah itu bukan hanya sah, tapi juga kontekstual. Legitimasi politiknya ada, legitimasi hukumnya juga ada, dan punya landasan filosofis serta sosiologis. Apalagi, pembuatan perda itu otomatis sudah diawali dengan ‘pertarungan’ demokrasi. Di tingkat legislatif sudah ada pemilu yang jula memilih anggota legislatif daerah, di tingkat eksekutif sudah ada pilkada. Jadi sah pula secara nalar demokrasi. Perda Syariah dan lainya muncul dan berakar dari bawah (aspirasi rakyat) bukan sesuatu yang ditancapkan dari atas.

Dengan perangkat dan sistim demokrasi saat ini, mustahil Perda Syariah diterapkan di Bali atau Perda Injil di Sumatera Barat.
Jadi apa yang anda khawatirkan wahai anak muda [generasi milenial] dari perda syariah atau Injil ini?

****

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close