Kilogram Baru Yang Membingungkan dan Sains Sebatas Pengetahuan

Pada 16 Nopember lalu, 60 negara berkumpul di Verseilles, Prancis untuk pemungutan suara dalam mendefinisikan ulang satuan kilogram di General Conference on Weights and Measures.

17 negara berkumpul di Paris, pada 1875, untuk menandatangani”Treaty of Meter”. Pertemuan itu untuk menyepakati standar meter dan kilogram. Nilai satu meter didefinisikan sebagai jarak antara dua goresan pada batang platina-iridium (meskipun kuliah di Teknik Kimia saya tidak paham logam ini). Sedangkan definisi satu kilogram diwakilkan pada bobot silinder metal (berbahan platina-iridium juga) yang diberi nama “Le Grand K”.
Kedua benda ini kemudian disimpan di International Bureau of Weights and Measures di Sevres, dekat Paris, dan dijaga sangat ketat.

Didasari kekhawatiran bahwa benda fisik bisa saja rusak, dihancurkan akibat bencana atau bahkan dicuri, maka dianggap perlu untuk memiliki standar baru berupa materi non-fisik. Pada tahun 1983, definisi 1 meter diperbaharui. Tepatnya pada General Conference on Weights and Measures (Konferensi Umum tentang Berat dan Pengukuran) ke-17. Satu meter ditetapkan sebagai “jarak yang ditempuh sinar laser dalam ruang hampa udara selama 1/299.792.458 detik.

Sedangkan untuk satuan waktu ; detik ilmuwan mendefinisikan satu detik sebagai jumlah waktu yang dibutuhkan atom cesium-133 (pernah dengan di film 22 Mile yang dibintangi Iko Uwais) untuk bergetar 9.192.631.770 kali.

Sebenarnya silinder metal untuk standar 1 kilogram juga sempat diketahui berkurang bobotnya secara misterius. Pada tahun 1990, sejumlah ahli menemukan “Le Grand K” jadi lebih ringan sekitar 50 mikrogram dibanding 6 duplikat resminya yang sudah disebar ke berbagai tempat. Standar dunia terancam kacau, namun sayangnya belum ada kesepakatan untuk menentukan standar baru.

Jumat minggu lalu, pada Konferensi Umum tentang Berat dan Pengukuran yang kesekian kalinya, peserta konferensi akhirnya menyepakati standar kilogram baru, dan akan diresmikan pada 20 Mei 2019 nanti.
Dengan kata lain, “Le Grand K” akan pensiun dan bergabung dengan kawannya batangan standar meter yang sudah masuk museum.
Dua instrumen penting yang digunakan untuk meredefinisi 1 kilogram, dipamerkan pada konferensi itu. Instrumen pertama adalah Kibble Balance, sebuah perangkat yang bekerja berdasarkan konstanta Planck.
Karena konstanta Planck itu rumitnya minta ampun, maka dihadirkanlah alat bantu berupa bola berbahan kristal-silikon yang konon adalah benda buatan manusia paling bulat di muka Bumi ini. Bobotnya pas satu kilogram. (sampai di sini sudah tidak paham).

Padahal, yang membuat saya rela menghabiskan waktu untuk membaca (meskipun tak pahan) sejumlah artikel tentang ini, berharap dengan redefinisi satuan berat yang baru ini akan mereduksi bobot saya dari 70 Kg menjadi 55 Kg. Ah.. ternyata tidak merubah bagi masyarakat umum, kecuali bagi para peneliti dan saintis. Berhubung karena saya bukan saintis, tapi suka memikirkan hal-hal yang tak penting seperti ini tak mengapa.

Dulu waktu SD, saya sangat tertarik pada IPS, oleh sekolah saya diikutkan cerdas cermat untuk pelajaran IPS. Masuk SLTP saya tertarik dengan Fisika bersamaan dengan minat saya pada pelajaran Bahasa Indonesia (Sastra).

Saat SMA meskipun memilih (dimasukan ke) Jurusan Fisika. Teman dekat (bangku bersebelahan) dengan bercanda pernah mengusir saya agar pindah jurusan Sastra dan Budaya karena kesal dengan nilai Bahasa Indonesia dan Sejarah terlalu tinggi untuk siswa jurusan Fisika.

Tersesat di ”gerombolan” anak-anak Fisika, membuat saya “kehilangan jejak” sampai akhirnya jadi ikut-ikutan bercita-cita menjadi saintis hingga terdampar di Fakultas Teknik.

Meskipun “digodok” di Fakultas Teknik selama 5 tahun, mungkin memang saya tidak punya bakat jadi saintis. Buktinya sekarang saya membaca lebih 10 artikel tentang ini dan tak satupun yang membuat saya mengerti hubungan ; L Grand K, Kibble Balance, Konstanta Planck dengan benda berbahan kristal-silicon yang paling bulat buatan manusia itu.

Meski demikian, ketertarikan saya terhadap sains tidak benar-benar hilang, meskipun hanya sebatas pengetahuan umum saja. Saya masih suka membaca informasi tentang temuan teknologi terbaru misalnya tentang planet asgardia, mobil terbang, taksi dan truk tanpa supir, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan multimedia, walaupun saya melihatnya dari segi perkembangan peradaban manusia.

****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close