Munafik

///Usamah bin Zaid seorang sahabat mulia sekaligus cucu angkat Rasulullah turut serta menundukan bani Huraqah bagian suku Juhainah. Dalam perperangan itu ia membunuh seorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid. Beberapa saat sebelum Usamah menghunuskan pedang, orang yang sudah terkepung itu mengucapkan kalimat tauhid La ilaaha illa Allah. Sahabat Usamah, kaum Ansar coba menghalagi, namun ia tak bergeming dan pedang Usamah menghujam tubuh orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid tadi.

Sekembali ke Madinah, Rasulullah S.A.W menegur cucu angkatnya itu “Wahai Usamah apakah kau akan tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illa allah?” Usamah pun menjawab “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekadar melindungi dirinya”. Rasulullah terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama, Usamah pun menjawab dengan cara yang sama hingga Rasulullah mengucapkan “Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash ataukah karena alasan lainnya?”

/// Rasulullah wafat, yang apa awalnya Umar bin Khattab tidak percaya akan kematian Rasulullah, ia membuka kain penutup wajah Rasulullah “Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga”. Musa a.s menghilang meninggalkan umatnya untuk menghadap tuhan selama 40 hari lalu kembali lagi setelah dikatakan mati oleh umatnya. Mendengar perkataan Umar ini, Abu Bakar menasehatinya dengan mengutip Q.S Al Imran ayat 144 ;

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Mendengar ayat ini baru Umar sadar dan percaya bahwa Rasulullah telah tiada.

Saat menjadi khalifah Umar mendatangi sahabat Rasulullah Hudzaifah bin Yaman. Di tangan Hudzaifah tergenggan nama-nama orang munafik yang telah ditandai Rasulullah. Tak ada yang tahu seseorang munafik selain Rasulullah kemudian mempercayakan kepada Hudzaifah. Karena perkara munafik bukan hal yang sepele.

“Apakah aku termasuk diantara mereka (orang-orang munafik)” tanya Umar kepada Hudzaifah. “Tidak” jawab Hudzaifah. Lalu ia melanjutkan “Jika ada lagi yang bertanya selain engkau tak kan pernah ku jawab” tegas Hudzaifah. Umar pu lega. Kemudiaj melanjutkan pertanyaan apakah ada anak buahnya yang masuk dalam daftar munafiqun. Ada satu orang jawab Hudzaifah namun ia tidak bersedia menyebutkan nama ketika di desak Umar.

/// Selesai mengimamkan sholat jenazah Bung Karno, seseorang bertanya kepada Buya, kenapa ia bersedia menjadi imam untuk sholat jenazah Bung Karno yang pernah memenjarakan beliau tanpa proses pengadilan. Bung Karno selama ini mencitrakan dirinya anti islam, dituduh munafik. Sedangkan Rasulullah tidak bersedia mengimamkan jenazah seorang munafik.
Dengan enteng Buya menjawab “Rasulullah mendapatkan wahyu lansung dari Allah siapa saja orang-orang munafik, sedangkan saya tidak, bukan Rasul”.

***

Usamah bin Zaid, sahabat mulia, sekaligus cucu angkat yang mendapatkan pendidikan lansung dari Rasulullah sekalipun tidak punya otoritas menentukan seseorang munafik atau tidak. Begitu pula Umar, sahabat yang pernah menyatakan lebih mencintai Rasulullah dari diri sendiri untuk menyempurkan keimanan tetap was-was jika dirinya termasuk golongan orang-orang munafik. Hudzaifah bin Yaman yang mendapatkan informasi A-1 dari Rasulullah daftar nama-nama orang munafik. Jangankan untuk menyebar-luaskan dengan tujuan agar orang lain berhati-hati dari orang munafik itu, ketika didesak Umar sakalipun tidak bersedia membocorkan nama orang munafik yang telah dirahasiakan Rasulullah kepadanya.

Baiklah, itu kisah sudah terlalu jauh masanya, sehingga tidak relevan lagi dengan zaman sekarang yang sudah terlalu banyak orang-orang munafik yang membahayakan umat. Sehingga dengan alasan ini kita dibolehkan menuduh dan menyebarkan nama-nama orang munafik demi kemasyalatan umat. Saya rasa tauladan yang diwariskan Hamka masih relevan dengan kondisi saat ini.

Munafik memang sifat yang berbahaya baik bagi orang lain dan umat apalagi bagi diri sendiri. Maka dari itulah Umar was-was sehingga mendatangi Hudzaifah.

Saudaraku mari kita was-was seperti Umar sedangkan terhadap orang munafik cukup kita waspada, kurangi curiga apalagi berburuk sangka.

Waspada membuat kita hati-hati dan menjaga diri dari keburukan orang-orang munafik, sedangkan curiga membuat kita berburuk sangka dan saling curiga.

****

Al Albana, Andaleh, 22 Rabiul Awal 1450

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close