Baba Budan Pahlawan Kopi

Semua bermula dari Baba Budan, seorang pezirah yang berasal dari India menyeludupkan 7 fertil kopi yang akan ditanam di kampung halamannya Mysore, India pada abad ke 15. Bibit kopi yang selama ratusan tahun jaga ketat oleh orang-orang Arab agar tidak ke luar dari Jazirah akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Penyebaran Kopi ke Benua Eropa mendapatkan perlawanan yang keras dari Aristokrat Eropa. Raja Goerge II memesuhi Kopi karena Orang-orang yang berkumpul di Kedai Kopi sering mengolok-oloknya. Di Perancis pun demikian Kopi dimusuhi karena rakyat Prancis mulai beralih ke Kopi dan meninggalkan Wine. Apalagi di Jerman Frederick de Great mengeluarkan manifesto untuk kembali ke minukan tradisional leluhur mereka yaitu Bir yang semakin tersingkir oleh Kopi.

Puncak perlawanan terhadap kopi adalah Women Petition di London pada tahun 1674. Para wanita berkumpul untuk memprotes keberadaan kopi yang telah menyita banyak waktu pria dengan berlama-lama menghabiskan waktu di kedai kopi sehingga abai terhadap tanggung jawab dan keluarga. Merespon Women Petition ini, Raja Inggris kala itu, Charles II melarang keberadaan kedai Kopi dengan alasan membuat orang mengabaikan tanggung jawab sosial yang nantinya dapat mengganggu stabilitas kerajaan. Akibat maklumat ini menimbulkan gelombong protes klimaksnya dua hari sebelum aturan pelarangan kedai kopi ini berlaku Raja Charles II mengundurkan diri.

Kopi yang berasal dari Arab, selama ratusan tahun dianggap minuman setan oleh orang-orang Eropa. Kopi dianggap simbol Islam karena dikonsumsi oleh bangsa Arab yang mayoritas Islam. Orang-orang Eropa membenci kopi karena melihat orang-orang Arab kuat beribadah semalaman dengan mengkonsumsi kopi. Selainnya itu Kopi telah menyingkirkan minuman khas warisan leluhur mereka yaitu Bir dan Wine.

Sejumlah orang mendatangi Paus Clemente VIII (1536-1605) agar Sang Paus mau mem-fatwa-kan biji sehitam jelaga itu haram. Namun justeru sebaliknya, dengan membawa secangkir kopi dengan asap mengepul, lalu menyesap dan segera menemukan kenikmatan. Ia pun gembira. “Minuman setan itu terlalu lezat, oleh karena itu saya sekali kalau kita biarkan para infidel menikmati secara ekslusif “. Infidel yang dimaksud Paus adalah kafir, yaitu istilah yang digunakan Paus Clemente VII untuk menyebut kaum muslimin. Paus kemudian dianggap telah membaptis kopi sehingga boleh diminum oleh orang-orang Nasrani. Para “pendurhaka” pun tak perlu sembunyi lagi untuk menikmati kopi. Setelah itu laju kopi tak terbendung lagi. Setiap jengkal daratan Eropa tumbuh kedai kopi. Konon khabarnya menurut berita sumir, Revolusi Prancis bermula dari obrolan-obrolan di Warung Kopi.

Peredaran Kopi di Nusantara dibawa oleh bangsa Eropa. Namun di sini Kopi tidak mendapatkan perlawanan sebagaimana di Eropa. Selain dibawa dan dikembangkan oleh penjajah yang punya bedil, barangkali juga karena kita saat itu belum punya minuman tradisional warisan leluhur yang seperti halnya Bir di Jerman atau Wine di Prancis. Komoditas ini berkembang dengan cepat dan leluasa. Diterima dengan tangan terbuka dengan senang hati.

Kopi beradaptasi dengan Indonesia, selain menanam kopi, orang-orang nusantara juga suka minum kopi. Kopi sudah menjadi bagian hidup mereka. Pada tahun 1821 wabah kolera menjangkiti Batavia. Pandemik menyebar lebih cepat dari perkiraan. Membuat panik pemerintah kolonial. Jenazah bergelimpang setiap hari semakin bertambah. Pada tahun 1864 tercatat ada 240 orang eropa meninggal akibat kolera sedangkan bumiputera 2x lipatnya. Puncaknya wabah kolera hingga tahun 1910 diperkirakan 6.000 warga Batavia meninggal akibat kolera.

Pada saat bersamaan orang-orang Tionghoa yang punya tradisi minum teh tidak terjangkit kolera. Orang-orang pun beralih meminum teh karena dianggap dapat menangkal wabah kolera.

Pada pertengahan abad 19, harga kopi melambung di pasaran Eropa. Dalam rangka mengejar keuntungan yang besar dengan memenuhi kebutuhan kopi dunia. Pemerintah kolonial menerapkan tanam paksa. Tanah koloni diwajibkan menanam komoditas yang sedang dibutuhkan di pasar eropa, termasuk kopi. Namun celakanya, seluruh hasil panen wajib dijual kepada pemerintah kolonial Belanda, dilarang menjual kepada kongsi dagang lain seperti Inggris dan Prancis, bahkan untuk dikonsumsi sendiri juga tidak diizinkan. Rakyat wajib menanam kopi tapi tidak boleh meminum kopi. Dari sinilah awalnya kopi Kawa Daun, yang bertujuan untuk mengakali agar bisa menjual kopi kepada pedagang-pedagang Inggris di Selat Malaka dengan harga yang lebih mahal.

****

Al Albana, Andaleh 25 Rabiul Awal 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close