Don’t jugde a book by it’s cover

Berdasarkan penanggalan Komariah atau yang lebih dikenal dengan penanggalan Hijriah– yang saat ini hanya digunakan umat islam dalam penentuan hari besar keagamaan– hari ini ini genap sembilan tahun usiamu Nak. 20 Rabiul Akhir 1431 H bertepatan dengan 05 April 2010 M kamu dilahirkan. Kita berbeda zamam, tak bijak rasanya membandingkan apasaja yang bisa saya lakukan pada seusiamu ini.

Sudah terlalu banyak harapan-harapan yang kugantungkan dibahumu. Aku berusaha mengurangi agar kau tak terlalu terbebani.

Memasuki usiamu yang ke sembilan ini, saya hanya menuliskan apa yang pernah saya sampaikan kepadamu tempo hari di Food Court Transmart secara lisan. Agar jika kamu bertanya tentang hal yang sama saya cukup memintamu membaca tulisan ini.

Enam bulan lalu di Foodcourt Transmart, Bunda memisahkan diri untuk membeli beberapa keperluan dapur, kita mencicipi aneka jajanan freshfood yang tersedia di sana. Mulai dari bakso, sosis, nuget dan banyak lainnya. Terserah konsumen peganan itu mau digoreng atau dibakar. Disediakan juga aneka saos. Kamu memilih bakar. Setelah dioleskan saos barbaque beberapa tusuk bakso dan sosis yang kamu pilih kita taruh di tempat pembakaran. Beberapa menit matang. Lalu kita membawanya ke sebuah meja dan bangku yang telah disediakan. Banyak sekali yang kosong, mungkin karena masih agak pagi.

Saya bersemangat sedangkan kamu biasa saja. Tersisa beberapa tusuk lagi. Teriakan dan bentakan yang kencang membuat saya reflek mencari sumber suara. Seorang bocah seperti Boboho tapi usianya masih sekitaran 4-5 tahun. Ia dengan sengaja menabrakan troly yang sedang didorong ke beberapa meja dan kursi sambil membentak dan berteriak. Mestinya bocah gendut, berkulit putih dengan mata sipit dan rambut nyaris botok itu mengemaskan bagi siapa yang memandangnya termasuk saya, namun karena teriakan dan kelakukannya justeru menimbulkan sebaliknya.

Saya penasaran siapa orang tuanya?, berselang beberapa menit muncul sepasang suami isteri dengan postur tubuh dan warna kulit yang juga bongsor. Sama-sama berkaos oblong dan celana pendek, bahkan yang perempuan menggunakan hotpan sangat minim ukuran budaya timur. Sama sama ada tatto ; jika yang laki-laki di lengan dan betis sedangkan yang perempuan di pundak dan paha bagian luar. Serta sama-sama dengan rambut dengan cat pirang ala penyanyi K-Pop. Ahh ternyata benar itu orang tua Boboho Ngamuk itu. Mereka terlihat berbicara sebentar. Tidak terlihat upaya yabg sungguh-sungguh untuk menenangkan anaknya. Sepertinya ia sudah biasa dengan hal seperti itu. Dan mereka tak merasa malu diperhatikan banyak orang di keramaian.

Saya bersyukur kamu tidak seperti ini. Dari kecil kamu hanya menangis secukupnya atas keinginan-keinginan yang tak bisa atau tak mau kami penuhi. Kamu tidak pernah menagis hingga kejang-kejang apalagi sampai guling-guling di Mall jika keinginanmu untuk membeli mainan tidak kami penuhi. Cukup diberi pengertian kamu akan berhenti menangis dan meminta. Dalam hal ini saya cukup bangga padamu. Di rumah kita tidak terlalu banyak mainan, apalagi sampai kepada hal-hal mubazir karena berlebihan. Bahkan sebagian mainanmu adalah inisiatif saya sendiri yang membelikan bukan atas permintaanmu.

Oh…ya balik lagi ke cerita Boboho tadi. “Oh…pantes orang tuanya seperti itu” gumam saya dalam hati. Saya telah melanggar petuah lama yang sering diucapkan Tukul di Acara (Bukan) Empat “Don’t jugde a book by it’s cover”. Padahal saya tidak tahu keseharian keluarga itu, seberapa baik penilaian dari kerabat, tetangga dan dan teman-teman mereka terhadap keluarga Boboho ini. Saya juga tidak pernah tahu seperti apa upaya suami-istri ‘Rock & Roll‘ ini mendidik Boboho agar tidak berteriak-teriak di keramaian. Jangan-jangan penilan kerabat, keluarga dan teman-temannya terhadap pasangan ini jauh lebih baik daripada penilaian orang-orang terhadap saya. Mungkin saja ia (pasangan Rock & Roll) telah berusaha mendidik Boboho dengan sebaik-baiknya melebihi apa yang telah saya lakukan dalam mendidikmu.

Dan karena tidak semua orang mengenal kita secara utuh dan intim. Maka dari itu kamu mesti menjaga identitas yang melekat pada dirimu. Kamu mesti menjaga nama baik kami- orang tuamu, Kakek-Nenekmu, Keluarga besarmu, lebih luas lagi identitas suku dan agamamu. Itu mesti kamu jaga.

Sekali lagi kita tidak bisa melarang orang menilai seseorang (termasuk diri kita) dari penampilan fisik atau perbuatan yang terlihat. Yang kita bisa lakukan adalah menjaga sebaik-baiknya seluruh identitas yang menempel pada diri kita serta menahan diri untuk tidak menilai seseorang yang apa yang muncul di permukaan. “Semua tidak seperti yang terlihat di permuakaan”.

****

Al Albana, Andaleh 20 Rabiul Tsani 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close