Tari Indang

Dulu, dulu sekali sering menyaksikan Tari Indang sebagai hiburan di acara ‘Baralek’. Memasuki awal 90-an kesenian tradisional yang berasal dari Pariaman ini tergusur oleh Band-Kesenian Populer dengan menggunakan alat-alat musik modern seperti Gitar, Piano, Drum dengan menyanyikan lagu-lagu pop, dangdut, melayu, rock dan kadang juga lagu-lagu Minang di Pentas acara ‘Baralek’.

Tari Indang yang sering disebut juga dengan Tari Dindin Badindin tersisih dari akar budayanya sendiri. Ia tidak dilagi hadir dalam acara-acara ‘Baralek’ anak Nagari tapi lebih sering hadir di pentas seni dan Kebudayaan Nasional bahkan Internasional. Tari Indang masih kalah populer dibanding Tari Saman atau Irish Dance-dari Irlandia. Saat ini Tari Indang dipelajari bukan untuk kita tapi agar dunia tahu bahwa kita punya seni budaya.

Tari Indang adalah akulturasi antara Budaya Islam dengan Melayu. Konon khabarnya Tari ini sudah ada sejak zaman Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di Pesisir Barat Sumatera Tengah. Pada awalnya Tari Indang ditampilkan di Surau-Surau dalam perayaan Maulid, atau Peringatan Hari Asyura. Pada perkembangan selanjutnya Tari Indang dihadirkan pada acara Baralek-Kenduri.

Sepintas Tari Indang mirip Tari Saman dari Aceh. Namun gerakannya lebih dinamis dan variatif. Ritmenya sedikit lebih lamban dibanding Tari Saman. Awalnya musik pengiring Tari Saman ini berasal dari Rebana Kecil dan Syair yang dibawakan oleh Tukang Dzikir. Pada tahap selanjutnya musik pengiring juga berkembang bahkan saat ini Tari Indang sudah diiringi oleh alat musik modern seperti Piano dan Akordeon. Tapi sebaliknya syair yang dahulu yang dibawakan oleh tukang dzikir bervariasi saat ini hanya satu macam saja yaitu lagu Dindin Badindin ciptaan Almarhum Tiar Ramon.

Karena Tari Indang berasal dari akulturasi budaya Islam dengan Melayu, maka pada awalnya Tari Indang dipentaskan oleh Laki-Laki semua, senafas dengan ajaran Islam yang melarang perempuan mempertontonkan diri. Namun belakangan justeru Tarian ini lebih sering dipentaskan oleh Kaum Hawa. Jumlah penari juga beragam, biasa berjumlah ganjil, mulai dari 7,9, 11, 13 dengan satu atau dua orang bertindak sebagai tukang dzikir. Tapi saat ini tukang dzikir lebih sering digantikan oleh rekaman suara Tiar Ramon. Bahkan rebana kecil yang dipegang setiap penari juga sudah ditinggalkan. Kostum yang digunakan biasanya pakaian khas melayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close