Perihal Sweeping Buku

Tak perlu kaget berlebihan dalam mensikapi tindakan aparat yang melakukan sweeping atas beberapa buku yang diduga menyebarkan paham Marxis dan Lenin di Kediri dan Padang. Hanya butuh sedikit perluas sudut pandang, maka anda akan paham dan rilek.

Dahulu pemerintah Orde Baru juga melarang keras Tetralogi Pulau Buru Karya Pramudya Ananta Toer dan buku-buku lainnya. Saya masih ingat di penghujung kekuasaan Orde Baru, teman kos yang saat itu sedang tergila-tiga oleh Budiman Sujatmiko dan PRD-nya membawa beberapa lembar photo-kopian Bumi Manusia dengan kualitas yang sangat buruk, barangkali hasil beberapa kali kopi-ulang. Kami membaca dengan deg-degan, takut diseruduk Babinsa dan dijerat Undang-undang Subversif. Hari buku-buku karya Pram di pajang di rak-rak Gramedia, Bumi Manusia diunggah di media sosial, dibahas oleh peyuka sastra.

Dengan menilik ke belakang sedikit membantu kita melihat yang terjadi hari ini, termasuk kasus sweeping buku. Pemilu semakin dekat. Sama seperti Prabowo, Jokowi dan tim sukses memamfaatkan isu apa saja untuk merebut suara sebanyak-banyak. Jokowi berusaha menepis tuduhan PKI yang disematkan kepadanya. Beberapa langkah telah dilakukan seperti prasa “Gebuk PKI” yang pernah dilontarkannya pada pertengan 2017, menghadiri penayangan pemutaran film G-30 Semptember pada 2017 lalu. Namun tuduhan itu belum sepenuhnya berhasil ditepis, sebagaian masyarakat yang paranoid terhadap PKI masih belum percaya sepenuhnya bahwa Jokowi bersih dari PKI.

Berdasarkan lembaga survey SRMC ada 7% rakyat Indonesia masih percaya PKI akan bangkit. Suara-suara rakyat yang paranoid ini lumayan besar, suara ini harus direbut untuk memenangkan Pilpres. Tindakan men-sweeping buku ini salah satu cara Jokowi membersihkan diri dari tuduhan sebagai antek PKI.

Tindakan sweeping buku ini kental beraroma politis ; pemenangan pemilu. Setidaknya terlihat dari tidak ada reaksi dari kelompok ‘kiri’ yang menentang tindakan ini. Padahal sebagian besar pembaca buku-buku ‘kiri’ adalah pendukung Jokowi. Mereka bungkam seakan membenarkan tindakan ini. Sama seperti diamnya kubu oposisi ketika Rocky Gerung melontarkan wacana bahwa kita suci adalah fiksi.

Ketika Kmer Merah berkuasa di Kamboja, menggunakan kacamata atau tanda bekas kacamata di hidung dan pelipis cukup sebagai bukti seseorang dapat dieksekusi. Kacamata dianggap sebagai penanda bahwa seseorang dianggap terpelajar karena tekun membaca dan itu membahayakan bagi revolusi. Penguasa yang tiran selalu takut kepada orang-orang yang tekun membaca.

Kategori Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close