Sayyid Sulaiman Al-Jufri

Alam Minangkabau 1825 M, sedang dalam puncak musim panas. Hampir seluruh daerah telah jatuh ke dalam kekuasaan Belanda, tetapi kaum Paderi mengatur pertahanannya dengan kuat da gigih dibawah pimpinan yang cakap dan lagi sabar Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Lintau, Tuanku Nan Renceh. Telah banyak darah tertumpah dan telah banyak perubahan akibat perang.

Kedua belah pihak yang saling berperang, baik Pemerintah Hindia Belanda maupun Kaum Paderi merasa bahwa satu waktu perperangan ini mesti berdamai juga. Sehingga jika ada orang yang mengetengahkan sekira dapat menunjukan jalan yang tidak mempermalukan bagi kedua belah pihak, maulah mereka menuruti jalan itu untuk berdamai.
Karena gagal dalam penyerangan fase pertama, Belanda masih terus mengupayakan perjanjian damai dengan kaum Paderi. Namun, karena sudah dikhianati di perjanjian Masang, kaum Padri menjadi berhati-hati dalam melakukan perjanjian dengan Belanda. Karena itu, Kolonel De Stuers yang menjadi penguasa sipil dan militer di Sumatera Barat berusaha untuk melakukan kontak dengan tokoh-tokoh kaum Paderi. Hal ini dilakukan Belanda untuk menghentikan perang dan melakukan perjanjian damai.

Kala itu hiduplah seorang Sayyid yang masih nuda di kota Padang. Seorang alim tentang agama (Islam), berpandangan luas, mengetahui keadaaj negeri-negeri lain yang ada sekitar Minangkabau. Pergaulannya dengan Pemerintah Hindia Belanda baik, ia juga disegani oleh pemuka-pemuka Paderi dan penerus kerajaan Alam Minagkabau, Sayyid Sulaiman Al-Jufri namanya.

Segala yang terjadi diperhatikan dengan seksama. Perlawanan di Minangkabau adalah perlawanan perkara agama. Ia sangat percaya bahwa dapat mengambil peranan penting untuk menyelesaikan perselisihan itu. Namanya tiada tercela dalam pandangan orang Belanda, dan ia percaya pula berkat keturunannya bahwa pemimpin-pemimpin di Minangkabau tidak pula akan curiga terhadap dirinya.

Dia sanggup mencari penyelesaian. Sementara itu, ia pun mempunyai ambisi yang keras, dari penyelesaian ini ia akan mendapat keuntungan yang diakui oleh kedua belah pihak. Bukankah darah yang mengalir dalam tubuhnya keturunan Rasulullah, ia keturunan Sayyid. Bukankah di seluruh dunia Islam keturunan itu dihormati? Bukankah pula golongan mereka penyiar Islam yang utama di kepulauan bawah angin ini? Di Riau, Sayyid Zaid Al-Qudsy mendapat kedudukan baik dalam kerajaan. Di Siak keturunan mereka, Bin Syahab yang dirajakan, setelah habis keturunan raja berdarah Melayu. Di Aceh pun pernah ada keturunan Sayyid menjadi raja Aceh, jika boleh jalannya ia pun hendak menjadi raja di Minangkabau.

Sulaiman Al-Jufri menerangian maksudnya kepada residen Belanda di Padang, bahwa ia sanggup menjadi orang perantara. Ia sanggup menemui pemimpin Paderi, hendak menyelani apakah niat kaum Paderi sesungguhnya. Kolonel Steurs sebagai residen dan komandan militer di Padang menerima usulannya dan memberi mandat menjadi utusan Belanda menemui kaum Paderi.

Dengan besar hati dan percaya akan kekebalan dirinya, sebagai seoerang keturunan Rasulullah, ia pun berangkat ke pedalaman Minangkabau. Ia menunj Bonjol, menemui Tuanki Imam Bonjol. Ia diterima di Bonjol dengan serba kehormatan yang layak, pertama karena kedudukannya sebagai utusan resmi Pemerintah Hindia Belanda, kedua karena ia seorang Sayyid. Beberapa hari lamanya ia menjadi tamu kehormatan di Bonjol. Ia menyatakan bahea Belanda ingin bersahabat dengan orang Minangkabau, dan sekali-kali tidak berbiat hendak mengganggu agama Islam. Dengan lemah-lembut dan sopan takhzim Tuanku Imam menjawab ;

“Habib, kami tahu cita-cita yang baik dari habib. Memang tidaklah perlu darah ini tertumpah banyak. Akan tetapi ucapan Belanda seperti itu, dahulu pun pernah kami dengar juga seketika perjanjian damai di Masang. Padahal bila niat suci itu memang ada, mengapa Koto Lawas yang terang dibawah kuasa kami telah diduduki saja dan tidak ada niat rupanya untuk mengembalikan? Mengapa tempat-tempat yang terang kami berkuasa, selalu diganggu dan dikepung? Lagi jika mereka benar Belanda hendak berdamai dengan kami, silakan meninggalkan Luhak Agam karena itu adalah daerah kekuasaan kami. Katakan kepada Belanda supaya menghormati perjanjian yang telah dibubuhinya tanda tangan sendiri. Habib tahu bagaimana arti janji bagi kita orang Islam. Pada rasa kami, dari pihak kami sendiri, tidak pernah janji kami langgar”

Perlakuan dan jawaban Tuanku Iman membuat Sayyid Sulaiman Al-Jufri bertemu dengan orang yang lebih besar (mulia) dari yang ia kira-kira sebelumnya. Semakin hari semakin besar kekagumannya kepada Tuanku Imam. Sadarlah ia betapa sulitnya menghadapi daerah itu. Sayyid sadar, tidaklah dia yang lebih bangak mengkaji siapa Tuanku Imam, tapi Tuanku Imamlah yang lebih bangak menakar jiwa Sayyid.

Ketika Sayyid Sulaiman memohin diri hendak meninggalkan Bonjol dan meneruskan perjalanan ke Lintau, menemui Tuanku Pasaman. Ia dilepas dengan serba hormat oleh Tuanku Imam dan diberi hadiah. Akan tetapi, sebelum ia berangkat utusan pribadi Tuanku Imam telah berangkat lebih dahulu ke Lintau.

Setelah Tuan Sayyid sampai di Lintau, ia pun disambut dengan hormat, lebih dari yang ia dapatkan di Bonjol. Namun ketika berunding, pemimpin-pemimpin Paderi di sana bercakap lebih tegas lagi ;

Maksud kami di Minangjabau ini tidak hendak merebut kuasa duniawi, asal agama berjalan lancar, asal segala yang mungkar dihapus dan Belanda memegang janjinya bahwa Islan tidak akan diganggu, kami suka berdamai dan kami suka berunding”

Tuan Sayyid bertanya ; “Sudikah Tuanku-Tuanku mengirim delegasi ke Padang?” “Dengan segala hormat kami bersedia berunding ke Padang” balas pemimpin Paderi.

Pada 29 Oktober 1825 M sampailah Delegasi Paderi di Padang, diketuai oleh Tuanku Keramat dari Buo, sebagai wakil dari Tuanku Pasaman di Lintau. Sedangkan anggota terdiri dari Tuanku Bawah Tabiang (Talawi), Tuanku Guguak (Limapuluah Koto), dan Tuanku Ujuang sebagai wakil dari Tuanku Nan Renceh (Agam). Diiringi oleh delapan pemuda Paderi. Mereka masuk Kota Padang dengan jubah kebesara, serban melilit di kepala, dan keris tersisip di pinggang serta tasbih di tangan. Keamanan mereka dijaga rapi oleh militer Belanda.

Pada 15 November 1825 M, tercapai kata sepakat, dan dibubuhi perjanjian oleh kedua belah pihak dengan kesepakat sebagai berikut ;

  1. Belanda mengakui kekuasaan pemimpin Padri di Batusangkar, Saruaso, Padang Guguk Sigandang, Agam, Bukittinggi dan menjamin pelaksanaan sistem agama di daerahnya.
  2. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang.
  3. Kedua pihak akan melindungi para pedagang dan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan.
  4. Secara bertahap Belanda akan melarang praktik adu ayam.

Belanda berbesar hati karena banyak pemimpin Paderi lain tidak ikut dalam perjanjian ini. Dengan demikian, Belanda berharap mereka berpecah, terutaman Tuanku Imam Bonjol yang tidak mengirimkan delegasi. Dalam perjanjian ini Kaum Paderi juga mengakui kuasa Belanda di Padang dan beberapa benteng lainnya, dan Belanda pun mengakui kekuasaan Kaum Paderi di Lintau, Lima Puluh Koto, Talawi dan Kamang. Pemerintah Belanda juga berjanji tidak akan mencampuri urusan agama.

Tuan Sayyid sangat gembira atas keberhasilan tugas yang diembannya. Sehabis perundingan, ia pun turut kembali ke pedalaman Alam Minangkabau bersama para delegasi Kaum Paderi. Hidup membaur dengan Kaum Paderi, sauk menyauk ilmu.Dicobanya mempermainkan seligi balik bertimbal tidak ujung pangkalnya mengena. Belanda tidak curiga dan Kaum Paderi pun menerimanya dengan senang hati hingga tidak ada rahasia diantara mereka. Akan tetapi, Sayyid tidak tahu bahwa Kaum Paderi tahu pula apa pekerjaannya di balik layar yaitu memecah-belah pemimpin besar Kaum Paderi diantara satu dengan yang lain. Terutama memperuncing perselisihan antara pemimpin Paderi Bonjol dengan pemimpin Paderj Rao.

Karena pekerjaannya menguntungkan bagi Belanda, beliau diberi gelar kehormatan Raja Perdamaian.

Pada suatu saat Tuanku Nan Renceh-Pahlawan Paderi yang gagah dari Kamang (Agam)-dalam sidang dihadiri oleh Tuanku Guguak dan Tuanku Saleh berkata terus-terang ;”Habib tidak usah khawatir, kami adalah pejuang untuk tegaknya agama. Tidak lebih dari itu. Sehingga, jika Belanda hendak memberhentikan Regen Tanah Datar, yang dahulunya dijabat oleh Raja Pagaruyuang, dan menggantinya dengan Habib, kami akan menjunjung tinggi pemerintahan Habib dan mengakui kedaulatan Habib, asal satu syarat terpenuhi yaitu benar-benar Habib hendak menegakkan Islam dalam daerah ini. Menegakkan perintah Allah, SWT dan Muhammad S.A.W sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an. Jika ada yang menyanggah kedaulatan kompeni lantaran itu, yang tegak sebagai pelindung Habib, kami beri ganjaran yang setimpal“.

Empat tahun lama Sayyid Sulaiman Al-Jufri bekerja keras mengupayakan perdamaian, sehingga layaklah gelar Raja Perdamaian yang disematkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda kepadanya, yaksi sejak 1825 M-1829 M.

Di bulan April 1929 M, saat beliau sedang tidur dalam Surau di Balai Tangah, Lintau, pintu diketuk dengan keras oleh beberapa orang, lalu Tuan Sayyid diseret ke halaman dan dibunuh. Mati, bersama seorang Arab lainnya sebagai pengiringnya.

Menurut laporan Asisten Residen Landre, yang membunuh Sayyid adalah Hulubalang suruhan Tuanku Lintau, yang cemburu atas sikap Tuan Sayyid yang selalu menanamkan bibit perpecahan antara mereka. Akan tetapi Kolonel Ridders de Steurs menyangkal. Tuan Sayyid dibunuh bukan oleh Kaum Paderi tatapi oleh orang suruhan Regen Tanah Datar. Sehah dekat-dekay akan terbunuh Sayyid Sulaiman Al-Jufri pernah berucap bahwa bahaya yang mengancam dirinya dari pihak penyokong Belanda sendiri lebih besar dari bahaya pihak Paderi

Maksud Sayyid Sulaiman Al-Jufri berhasul, mendirikan sebuah Kerajaan Minangkabau berdasarkan Islam, disokong oleh beberapa pemuka Paderi, tetapi perang tidak akan damai, sebab masih banyak di antara mereka yang tidak menyetujui, di antaranya Tuanku Imam Bonjol, yang tidak turut mengirim utusan ke Padang pada November 1825.

Andai saja, Sayyid Sulaiman Al-Jufri tidak terbunuh dan upayanya berhasil, niscaya kedudukan Minangkabau dalam demokrasi Islam di zaman ini tidak akan banyak ubahnya dengan Kerajaan Siak Sri Indrapura atau Kerajaan Melayu Sumatera Timur. Sebab kekuasaan yang dipegang oleh kaum ulama yang fanatik sebagai kaum Paderi itu, tidak juga kurang kerasnya. Apalagi jikaa gelarTuanku itu diwariskann kepada anak dan keturunan, dengan semangat imannya tidak serupa lagi dengan nenek moyangg yang mereka gantikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close