Petromax, Sembahyang 40 Dalam Kenangan

Bulan Rajab tiba. Saya mendapat mandat rutin tahunan yaitu bertanggung-jawab atas penerangan Surau Tangah Padang selama 40 hari. Bertugas menyalakan Lampu Petromax setiap menjelang malam.

Sebagaimana Surau lainnya di Korong Lampanjang, Surau Tangah Padang pun tidak menyelenggarakan Sholat berjamaah setiap waktu, hanya kadang-kadang saja itu pun pada waktu Magrib dan Subuh. Barangkali karena sebagian besar warga adalah petani yang sehari-hari beraktifitas di sawah dan ladang sehingga tidak berjamaah di Surau. Mereka sholat sendiri-sendiri, ada yang di rumah, di pinggir aliran sungai bagi petani yang sedang di sawah atau di ‘gulang-gulang bagi yang sedang di ladang ketika waktu sholat telah tiba.

Sembahyang 40 adalah ritual lokal masyarakat di sekitar Pariaman dalam rangka menyambut bulan puasa. Saya tidak tahu atau belum pernah membaca bahwa ada juga ritual semacam sembahyang 40 ini di daerah lain. Sembahyang 40 adalah sholat berjamaah setiap waktu sholat selama 40 hari tanpa terputus. Kemudian setelah selesai, dilanjutkan berziarah ke Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan-Pariaman.

Sebagian besar pesertanya adalah nenek-nenek dan ibu-ibu yang punya waktu lebih longgar. Tidak ada laki-laki kecuali imam. Beberapa orang, terutama yang rumahnya agak jauh semi boarding di Surau selama penyelengaraan sembahyang 40. Maksudnya nenek-nenek yang sudah tua agar tidak capek bolak-balik ke Surau, membawa bekal makam malam saat berangkat sholat Magrib. Sedangkan kasur dan selimut sudah ditinggal di surau sejak pertama kali di mulai penyelenggaraan Sembahyang 40. Mereka bermalam di surau baru pulang ke rumah keesokan hari selepas Dhuha.

Saya sudah lupa sejak usia berapa bisa menyalakan Lampu Petromax. Yang jelas sebagai bocah laki-laki yang tinggal paling dekat dengan surau saya diberi tugas menyalakan Lampu Petromax setiap menjelang gelap begitu pula saat Ramadhan tiba.

Lebih dari tiga dekade silam, tanggung-jawab sebagai Menteri Penerangan di Surau Tangah Padang terkadang saya jalankan tidak dengan sepenuh hati. Terutama saat pertandiangan Volley atau Sepak Takraw yang tengah saya ikuti sedang seru karena pertandingan dengan taruhan Limun, tiba-tiba saya dipanggil untuk menyalakan Lampu Petromax karena gelap lebih awal datang akibat cuaca buruk. Begitu kesalnya saya pada saat itu. Sedikit lagi kemenangan akan diraih dan mendapatkan limun yang akan menyegarkan tenggorokan, namun harus meninggalkan lapangan dan beranjak ke Surau.

Kekesalan itu akan mereda ketika Lampu Petromax sudah menyala sempurna, dengan demikian nenek-nenek Jemaah Sembahyang 40 mulai membereskan tempat sholat dan sebagian lagi berwudhu dan ada pula yang menata barang-barangnya di atas ‘Paluang’, beberapa orang melantunkan pelbagai sholawat.

Saat ini hampir semua nenek-nenek itu telah tiada. Al Fatiah untuk mereka : Uwo Ayo, Uwo Layiyah, Uwo Ba’ani, Uwo Jimaik, Etek Riyah, Etek Rawana, Etek Newan, Etek Bama, Etek Caya, Bundo Munan, Etek Gadih, Etek Ngenek, Etek Jawaner dan Uwo-Uwo, anduang-anduang serta etek-etek lainnya yang telah tiada. Sedikit banyaknya mereka mempengaruhi laku spritual saya.

Sebenarnya Petromax adalah merk dagang. Pioner dari lampu dengan bahan bakar minyak tanah bertekanan. Namun sama seperti kita menyebut Indomie untuk Mie Istant atau Pepsodent untuk odol, jadilah Pertamax sebagai jenis lampu, apapun merk lampu sejenis kita menyebutnya Petromax.

Lampu dengan bahan bakar minyak tanah bertekanan ini pertama kali ditemukan oleh Max Graetz pada tahun 1900. Pada 1916 dipatenkan dengan nama merk dagang Petromax. Jadi Petromax adalah akronim dari petroleum (minyak) dan Max (nama depan sang penemu).

Baiklah sebagai seorang yang gemar bernostalgia dan berbagi hal-hal yang tidak penting di saat genting, saya akan mengingat-ingat kembali cara menyalakan Lampu Petromax dan menuliskannya. Saya tahu cara menyalakan Lampu Petromax ini tidak diperlukan lagi saat ini, bahkan pedagang makanan yang berkeliling pada malam hari pun tidak menggunakan Petromax lagi, sebagian beralih ke Lampu yang dinyalakan dengan aki dan adapula yang menggunakan Bohlam Charger ; semacam lampu emergency yang menyimpan energi listrik.

Berikut langkah menyalakan Petromax ;

1. Turunkan Petromax, biasa tergantung di langit-langit rumah atau surau.

2. Kemudian lepaskan Kap Penutup dengam cara meluruskan kawat penggantung lalu loloskan kap penutup berwarna putih itu ke atas.

3. Pastikan bahan bakar ; minyak tanah terisi atau mencukupi di tanki pada bagian bawah.

4. Pastikan tutup tangki minyak tanah telah dipasang kembali dengan sempurna sehingga tidak ada celah untuk keluar angin saat dipompa.

5. Isi cawan pemanas dengan spritus, dengan cara mengangkat kaca beberapa senti untuk meloloskan ujung tabung kecil-runcing yang telah diisi spritus.

6. Setelah cawan terisi penuh sulut dengan korek api, biarkan kira-kira 3 menit untuk memanaskan kaos lampu. Jika spritus sedang habis bisa digantikan dengan sejumput kapas untuk memanaskan kaos lampu, namun tidak direkomendasikan karena pemanasan menggunakan kapas menghasilkan asap berwarna hitam kecoklatan menutup sebagian kaca sehingga mengurangi keterangan cahaya lampu.

7. Beberapa saat sebelum spritus habis lakukan beberapa kali pemompaan, teruskan dengan membuka katup aliran miyak tanah. Panas dari kaos lampu inilah yang berfungsi menguapkan minyak tanah.

8. Berikan sedikit pancingan dengan cara tutup-buka katup aliran minyak dengan cepat. Ini berfungsi untuk membersihkan aliran minyak jika tertutup debu atau kotoran.

9. Lakukan terus pemompaan dan pancingan secara bergantian hingga kaos lampu menyala berwarna putih sempurna.

10. Jika pompa terasa sudah keras namun kaos lampu belum putih sempurna itu pertanda aliran minyak kurang lancar, barangkali ada penyumbatan pada saluran minyak. Lakukan pemancingan dengan berbagai variasi ; mulai pancingan cepat, agak lambat hingga lambat. Tapi hati-hati saat pancingan lambat. Aliran minyak tertutup agak lama bisa menyebabkan lampu padam total.

11. Jika lampu padam total saat pemancingan, tidak perlu panik! Cukup nyalakan korek pada jarum bagian atas, maka bunga api akan menyambar kaos lampu akan menyala sempurna. Jangan kaget karena ada sedikit suara letupan saat bunga api menyambar kaos lampu.

12. Pastikan tutup tangki sekaligus katup angin telah sempurna, lalu pasangkan kap agar cahaya lampu tidak menyebar ke bagian atas yang tak butuh penerangan.

13. Kembalikan Lampu Petromax ke tempat semula. Sebuah kawat yang bagian ujung dibengkokan sebagai tempat menggantung lampu di langit-langit surau.

Itulah kenangan saya dengan Petromax, bagaimana dengan anda?

****

PS ; – Gulang-gulang : Pondok kecil di tengah sawah atau ladang yang gunakan untuk istirahat dan menyimpan perkakas.
– Paluang : sebuah meja panjang sekaligus sebagai tempat menyimpan perkakas Surau seperti Piring, gelas, tikar terbuat dari papan dengan ukuran 1 x 3 m.

Al Albana-Mantan Menteri Penerangan Surau Tangah Padang, Andaleh, 15 Jumadil Akhir 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close