Tragedi

Itu kan, akibat melibatkan anak-anak dalam Kampanye. Bukankah menurut Rocky Gerung Demokrasi hanya untuk orang yang mampu berfikir rasional, sedangkan anak-anak belum bisa berfikir jernih bahkan sebagian orang dewasa pun belum mampu berfikir jernih. Menurut Rocky lagi agama hanya untuk orang yang irasional. Silakan dilanjutkan bagi pengagumnya!

Bukan. Ini bukan ekses dari aksi brutal pendukung Capres dalam mendukung jagoan masing-masing. Kalau yang begitu cukuplah bagi mereka yang pintar-pintar dan melek politik. Kita apalah ‘sarok-sarok’ Kwaci yang terbawa sapu ini.

Ini akibat dampak aksi heroik menjaga keharuman nama kelas III-C MIN 3 Gunung Pangilun dalam pertandingan Sepakbola. (huss..ngawur tak ada pertandingan antar kelas). Jadi ini akibat Bundanya datang telat menjeput sehingga kamu dan teman-teman bermain bola di Lapangan saat Matahari di ubun-ibu?. (Huss..ngasal lagi Bunda datang tepat waktu, tapi saya diberi izin main bola sebentar hingga terjadi peristiwa naas itu).

***

Sejak tiga hari belakangan ada-ada saja kejadian luar biasa yang terjadi di sekolahmu. Ada hal yang membuat saya bangga, ada pula yang mencemaskan dan membuat khawatir.

Selasa, Bundamu datang kecepatan untuk menjemput. Sekolah belum bubar. Kamu tengah persentase di depan kelas dengan materi Tata Surya. Kamu menggunakan mikrofon kecil yang disematkan di kerah baju. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya tentang antariksa. Mulai dari susunan tata surya, rotasi bumi dan evolusi dan lain sebagainya. “Yang Paling Kocak Yah, ada yang bertanya ; siapa yang menciptakan Matahari, ini pelajaran agama atau sains jawab saya dalam hati” kamu menjelaskan. “Terus teman-temanmu tanya apalagi” saya menimpali. “Tidak hanya antariksa juga tentang penemu-penemu, saya jelaskan bahwa penemu telepone sebenarnya bukan Alexander Graham Bell tapi Antonio Meucci. Tapi karena dia tidak punya banyak uang untuk bayar pengacara ia dikalahkan oleh Graham Bell di pengadilan. Penemuannya dicuri dan dipatenkan oleh Bell, namun tahun 2006 haknya sudah dikembalikan. Ia diakui sebagai penemu telephone”.

Seperti bocah-bocah seumuran, kamu memang lagi senang dengan astronomi. Barangkali juga karena buku yang paling pertama saya belikan untukmu di Bazzar Week End Bintaro ; WHY Astronomi, buku tentang planet dan tata surya. Saat itu kamu belum bisa membaca. Setiap malam kamu memaksa saya membacakan buku itu untukmu, hingga kini saya masih ingat paragraf pertamanya “Pandanglah bintang di malam hari…..

“Tak ada yang melebihi kebahagian Ayah, selain mendengarkan khabar tentangmu hari ini. Kamu berani Persentase di depan kelas, menjawab pertanyaan teman-temanmu, merupakan kemajuan yang luar biasa. Hal ini melebihi kebanggaan ayah ketika kamu Juara I atau nilai ujian Matematikamu 100”, saya memujimu setinggi langit. “Kok begitu yah?” timpalmu. “Iya, kamu telah menuntaskan salah satu dendam masa lalu ayah”.

Kamu bengong. “Sekarang ini beberapa PTN ada jalur khusus ketua OSIS selain jalur khusus Hafidz Qur’an, Ayah ingin kamu masuk melalui salah satu jalur ini”, saya melanjutkan sebelum kamu bertanya balik.

Kamu beruntung mendapatkan mentor dalam hal ini wali kelas yang memahami psikologis anak dan paham cara mengembangkan potensi murid. Jika keliru dalam memotivasi murid bisa membuat murid menyembunyikan kemampuannya karena takut disuruh tampil.

Selama ini saya memang lebih fokus mengarahkanmu untuk berani tampil di depan publik dari sekadar prestasi akdemis–Kalau yang itu urusan bundanya. Saya berharap kamu punya publik speaking yang bagus, kepedulian sosial, leadership. Sayang di sekolahmu tidak ada ekskul pidato seperti sekolah sebelumnya.

Saya selalu menyemangatimu saat akan tampil di depan kelas. “Saya grogi yah”, katamu dalam suatu perjalanan ke sekolah “Biasa itu. Kamu tahu Soekarno, dijuluki Singa Podium. Tapi setiap kali akan tampil berpidato ia selalu mondar-mandir di belakang panggung untuk menghilangkan grogi. Menanyakan berulang-ulang kepada orang yang ada di belakang panggung apakah pecinya sudah pas atau jas dan dasinya sudah rapi, tak jarang keringatnya mengucur deras saking nervous sebelum naik panggung. Tapi apa yang terjadi selepas dua menit berpidato, ia membakar semangat audien dan sulit dihentikan. Hal yang biasa, cemas dan grogi ketika disaksikan banyak orang, namun perlahan akan hilang kalau kamu menguasai materi yang akan disampaikan. Lain hal tak menguasai materi tapi tampil di depan, itu konyol namanya. Mempermalukan diri sendiri”

Rabu, pukuk 12.20 ponsel saya berdering. Ustazah Risna nama yang muncul di layar ponsel. “Dengan Ayah Alwi” tanya suara dibalik sana, “iya” balas saya. “Bunda Alwi ada pak?, saya sudah coba hubungi tapi tidak aktif”, jelasnya. “Iya, buk ada di rumah, silakan coba hubungi kembali, barangkali sudah bisa karena tadi sedang online dengan saya”.

Selepas magrib saya sampai di rumah. Sebelum saya menanyakan, bundamu telah menceritakan kejadian siang tadi di sekolah. Saya memelukmu dan bertanya tentang kejadian siang tadi. “Antrian wudhu saya disalip lalu saya diolok-olok anak-anak perempuan”. “Kamu marah itu wajar, karena kita manusia yang lengkapi dengan emosi bukan malaikat. Setiap orang punya emosi, namun berbeda-beda dalam melampiaskanya. Menurut Psikolog sebagian manusia yang tidak menyalurkan kemarahan bisa berakibat buruk baik secara fisik maupun psikis. Namun ada juga orang-orang yang tanpa menyalurkan emosi tidak menyebabkan hal buruk baginya. Kita harus menyadari kemarahan itu harus dikendalikan dan punya tujuan yang baik ; (1) sebagai pennyalurkan emosi agar tidak berakibat buruk kepada diri sendiri dan (2) semoga dengan marahnya kamu, pelaku (temanmu) tidak melakukan kesalahan yang sama (menyerobot antrian) baik kepadamu maupun kepada orang lain. Tapi ingat persentasenya jika dijadikan 100 persen. 80% untuk memperbaiki kekeliruan temanmu sedangkan 20 % untuk menyalurkan emosimu. Nah agar marah seperti ini, tentu bukan marah yang berlebihan apalagi sampai memukul. Itu bukan marah seorang muslim yang terpelajar”.

“Saya nggak memukul kok”, belamu. “Syukurlah kalau begitu, tapi bukan karena kamu ditahan bu guru sehingga tidak bisa memukulnya. Ingat memukul perempuan adalah perbuat tercela bagi masyarakat Arab Pra Islam, apalagi setelah Islam yang memuliakan kedudukan wanita”. “Ayah nggak marah atas kejadian di sekolah siang tadi, berarti kamu sudah belajar mempertahankan hakmu, sekaligus memperingatkan temanmu bahwa apa yang dilakukannya keliru”

Kamis “bun kok teri sambel ijo nggak ada di dalam kotak makan?” “Udah makan saja yang ada dulu” jawab bundamu datar, lalu ponsel ditutup. Wah ada apa ini? Saya heran dan penasaran. Tapi tetap makan sangu yang disediakan tanpa teri sambel ijo. Tidak enak apalagi perasaan juga tidak enak. Tapi perut lapar.

Pukul 17.45 ponsel bergetar, ternyata WA Call. Saya angkat nongol kepalamu dengan jidat kanan dengan perban. “Ayah, tengok jidat saya dijahit” ucapnmu sambil ketawa-ketawa. “Kok sampai dijahit? Kenapa?” balas saya, “jatuh didorong teman, Habib, saat berebut bola” kamu masih meloncat-loncat sambil ketawa. “Jahitnya empat, Ayah cepat pulang ya”, “Ok, sebentar lagi ayah pulang”.

Terjawab, ternyata ini penyebabnya ketika saya menelpon menanyakan sambel teri cabe ijo tidak ada di Lunch box, ternyata sedang perjalanan ke Rumah Sakit untuk menjahit lukamu. Bundamu tahu saya sedikit sentimentil dan panik jika kamu sakit, beberapa kali saya tidak dikasih tahu ketika terjadi hal-hal buruk padamu. Tempo hari kamu terinjak paku ketika bermain di gazebo, bunda membawamu ke Rumah Sakit untuk suntik anti tetanus. Saya baru setelah pulang malam. Begitu pula saat saya di Bali, kamu dan Bunda di Jakarta, atau saya di Jakarta kalian di Padang. Beberapa kali kamu sakit saya tidak dikasih tahu. Saya nyaris meneteskan air mata saag perawat mengambil darahmu di Rumah Sakit. Kamu yang selalu beristigfar membuatku lebih tenang.

Saya tersenyum menahan tawa ketika Bunda menceritakan penangannya lukamu di Rumah Sakit kemarin. Kamu ngoceh terus mulai dari perjalan dari sekolah hingga lukamu selesai dijahit. Sengaja Bundamu tidak memberimu tahu kalau luka itu akan dijahit, ia was-was kamu histeris dan ketakutan. Kita ke Rumah Sakit nak untuk membersihkan lukamu. Tapi nggak dijahitkan!, nggak sakitkan!, bunda nggak bohongkan! Pertanyaan berulang-ulang yang kamu lontarkan sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit.

Sampai di Rumah Sakit, kamu menegaskan lagi tidak mau dijahit. Dokter tidak bohongkan! Benar nggak dijahit?, awas kalau bohong!, tidak cuma dibersihkan balas dokter dan bundamu. Saya mau pulang!, nggak mau dijahit! berkali-kali kamu menegaskan. Yang paling lucu dan membuat saya senang ketika kamu bilang tunggu dulu, saya mau duduk untuk berdoa, setelah beberapa detik kamu rebahan lagi dan terus istigfar dan ditambah pengaruh bius sampai kamu tidak tahu kalau dokter telah selesai menjahit jidatmu. “Wah sudah selesai, dijahit kok nggak terasa” ujarnu ketika dokter bilang telah selesai dan memintamu duduk. Saya bangga kamu selalu berdo’a dan istigfar tanpa disuruh saat menghadapi ketidaknyaman dan kesulitan. Bahkan ketika ikut Lomba Rangking 1 di SJS dua minggu lalu, kamu berdo’a sampai dua kali sebelum lomba dimulai.

“Nak, apakah kamu trauma dan tak mau main sepakbola lagi seperti kamu tidak mau latihan Tae Kwon Do karena bibirmu pecah kena tendangan lawan saat sparing”, saya menanyakan, “nggak, tetap main lagi” kamu menegaskan. ” Syukurlah, jika iya ada baiknya kamu ayah daftarkan di club catur, olahraga yang paling kecil resiko kecelakaan fisik, kecuali lawanmu atau kamu tidak terima kekalahan hingga terjadi bentrok dan adu jotos”. Saya menawarkan sambil tertawa.

“Barangkali kamu punya bakat catur, seperti Tolstoy yang mengalahkan sipir-sipir penjara ketika di Camp kerja paksa di Siberia. Tolstoy dalam penjara , hanya menggunakan secarik kertas untuk memberikan instruksi langkah bidak yang dijalankannya sedangkan lawannya di luar penjara berhadapan lansung dengan papan catur atau seperti Praggnanandhaa, Pecatur India yang telah meraih gelar Grandmaster Catur saat berusia 12 tahun”. “Saya mau dua-duanya sepakbola juga catur”.

Al Albana, Andalas, 17 Jumadil Akhir 1440

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close