MENANG ATAU KALAH ITU SOAL TAKDIR

“Berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan, termasuk pengamalan sila ke ;
a. Sila ke-1, b. Sila ke-2, c. Sila ke-3 dan d. Sila ke-5

Pertanyaan ke-14 yang memaksamu harus meninggalkan Lomba Rangking 1 kemarin.
Kamu, Alif-Putera Bunda Arinda dan Sakinah-teman sekelasmu menjawab b; sila kedua, sedangkan yang lain menjawab c ; sila ketiga.

Saya kaget ketika moderator menyatakan jawaban yang benar adalah c, selain yang menjawab c, dipersilakan meninggalkan arena lomba. Kamu beserta dua peserta lainnya berjalan dengan lemas meninggalkan arena.

Saya berkali-kali memberi tahumu bahwa pelajaran yang paling tidak saya sukai ketika sekolah adalah PMP (PKN kalian menyebutnya saat ini) dan Biologi. Namun ketika kamu belajar sama bundamu tentang sila ini beberapa waktu yang lampau, saya sempat mendengarkan dan masih ingat sampai sekarang bahwa tidak membeda-bedakan teman adalah pengamalan sila ke-2.

Meskipun kaget namun saya dan bundamu tidak ingin mempermalukan panitia dengan mengajukan protes di hadapan banyak orang. Saya meminta bundamu Wisdawati Syafri untuk menanyakan terlebih dahulu kepada ‘mbah Google’ dengan berbagai preferensi situs dan blog. Mulai dari situs Kementrian Pertahanan dan Keamanan hingga brainly. Jika saya punya nomor ponsel anggota Badan Penguatan Ideologi Pancasila, barangkali saya akan menghubungi terlebih dahulu sebelum protes ke penyelenggara. Setelah benar-benar yakin Bundamu mendatangi panitia. Kamu melarang, karena sudah ikhlas menerima kegagalan (lagi) untuk mendapatkan piala. Saya menjelaskan ini bukan alasan subjekif atas kekalahanmu. Ini soal ilmu pengetahuan yang mesti diluruskan jika ada keliru. Dan juga sebagai bahan evaluasi bagi penyelenggara agar kedepannya lebih hati-hati dan teliti. Saya menarik tanganmu agar kita menjauh sedangkan bundamu mendatangi panita.

Dari jauh saya melihat mereka berdiskusi. Kakak yang menjadi MC mengangguk-angguk. Sekembali bundamu dari belakang panggung ia menjelaskan bahwa mereka mengaku keliru. Setelah mendengar penjelasan bundamu dan berselancar di Google mereka menyadari bahwa kunci jawaban yang telah mereka bacakan memang keliru. Namun mereka hanya sebatas pelaksana yang membacakan soal dengan kunci jawaban yang telah diberikan. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Perlombaan tidak bisa diulang lagi.

Begitulah Nak, bahwa sama seperti sebulan yang lalu, hari ini Allah belum takdirkan kamu jadi pemenang. Ada saja cara bagi-Nya jika piala itu bukan untukmu, termasuk kekeliruan panitia penyelenggara.

Salut buatmu yang menerima takdir dengan berbahagia dan bangga , bahkan melarang bundamu protes kepada panitia. Tidak seperti sebulan yang lalu kamu menangis ketika tersingkir dari lomba yang sama.

Semoga yang akan berlomba 17 April nanti bisa belajar kepadamu bahwa menang atau kalah, Allah yang menentukan dengan berbagai cara ; kekeliruan seperti yang terjadi kepadamu, atau kecurangan lawan. Kita mesti menerima. Seperti itulah takdir bekerja.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close