Dear Alwi

Boi, konon khabarnya kapasitas otak otak manusia sanggup menampung 1-2,5 Petabyte. 1 petabyte = 1 juta gigabyte. Andai saja memori otak manusia ini digunakan untuk merekam acara televisi mampu menampung rekaman televisi selama 300 tahun terus-menerus tanpa henti. (Perlu 5-8 generasi untuk memastikan semua perangkap berjalan secara normal). Puluhan film dan ratusan lagu Bang Haji Rhoma Irama jika diunduh dan disimpan dalam otak belum menempati seperseribu kapasitas otak kita. Atau digunakan untuk mendownload film Shah Rukh Khan dari Remaja hingga renta nanti semua itu hanya sekadar menutupi lapisan paling bawah kapisitas memori otak.

Masih dengan sumber informasi ‘konon katanya’ ; Albert Einsten yang disepakati manusia paling jenius abad modern hanya menggunakan 4 % dari kapasitas otaknya. Bayang cuma 4 persen saja ia menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia ini.

Begitulah Nak besarnya karunia Allah kepada mahkluk yang paling sempurna ini manusia. Maka dari itu hindarilah menyebut manusia dengan sebutan yang buruk. Apalagi menghina fisik. Karena secara lansung kau telah menghina yang telah menciptakannya.

Boi, seminggu yang lalu kamu bertanya “Ada berapa jumlah mahkluk hidup?” Saya menarik nafas dalam-dalam menahan sejenak, memberi jeda untuk menemukan kalimat yang tepat. Namun tak berhasil. “oh, ya kira-kira ada berapa ya?” Saya berkelit.

Semakin bertambah usiamu semakin banyak pertanyaanmu yang saya tak mampu menjawab ; Ayah percaya Alien ada?, Bumi ini bulat atau datar?, Bukankah kita semua berasal dari Adam tapi kok ada banyak bahasa di dunia ini?, Siapa yang menciptakan setiap Bahasa pertama kali ? dan banyak pertanyaan lainnya yang saya tak ingin memaksakan diri dengan asal jawab. Karena saya sadar bahwa seorang ayah tak mesti harus tahu jawaban semua pertanyaan anaknya.

Dari kecil kamu memang tumbuh menjadi bocah yang selalu ingin tahu. Tetangga kita tahu benar itu. Barangkali ia menyimak pembicaraan kita bermain teras atau di lapangan depan rumah. Seorang tetangga pernah bilang ke bundamu “Kok Alwi kalau sama ayahnya ngomong terus dengan pertanyaan-pertanyaan seperti orang dewasa ?”. Padahal usiamu saat itu masih 6 tahun. Bulan lalu di lampu lalu lintas depan Pasar Alai, sambil menunggu lampu hijau menyala kita ngobrol tentang perbedaan DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, seorang bapak-bapak yang berhenti di samping kita menimpali “Pak, anaknya pingin tahu segalanya”, “iya nih pak” jawab saya sambil tersenyum bangga. Dulu ketika saya sering membawamu ke kantor lembur di hari sabtu, teman-teman kantorku terheran-heran dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang ketika itu masih usia 4 tahun.

Saat di Jakarta dulu kita sering berpergian dengan menggunakan commuterline. Kamu selalu menghadap keluar dan menayakan apa saja yang terlihat di luar sepanjang perjalanan.

“Itu apa ayah?”

“Jalan itu (menuju) kemana?”

“Kenapa gedungnya berbentuk seperti itu?”

“Itu rumah siapa?”

Sejak beberapa tahun ini, semakin banyak pertanyaanmu yang tak terjawab. Dan pada akhirnya kami pun menyadari sebagai orang tua yang dhoif dan fakir ilmu, sehingga mesti mendaftarkanmu ke sekolah untuk melepaskan dahagamu dari pengetahuan. Dan juga agar kamu maklum bahwa kami bukanlah orang tua yang tahu segalanya. Selalu saya ingatkan bahwa semua orang adalah guru, tapi pada beberapa situasi dan kondisi. Bahkan alam raya beserta sekalian isinya ini adalah guru, seperti falsafah kita orang Minang “Alam Takambang jadi guru”.

Zaman sekarang nak, dengan adanya internet memungkinkan banyak orang untuk mengakses ilmu pengetahuan. Sekat dan dinding yang mengukung ilmu pengetahuan telah rubuh. Ilmu pengetahuan terbawa oleh serat optik dan gelombang. Maka dari itu banyak orang mendaku sebagai guru bahkan ahli atau pakar di bidang segala hal. Godaan untuk merasa mengetahui akan segala permasalahan di negeri bahkan dunia ini sangat besar. Hati-hatilah terhadap itu. Saya punya beberapa teman, hanya karena ibadahnya rajin merasa berhak menghardik atau mencela orang lain dalam hal apa saja, tidak puas dalam hanya perihal agama tapi juga pilihan politik. “Ngaji lagi” ujarnya menasehati tapi dalam hatinya mencela.

Hati-hatilah dengan yang disebut ilmu pengetahuan, Nak. Seringkali ia menjadi penyebab Riya, Ujub, Takabur. Itu semua adalah jebakan Batman bagi orang yang berilmu.

Begitulah nak, sehebatnya dan seluas apapun ilmu pengetahuanmu nanti, tidak semua kamu harus tahu. Biarkan menjadi kewenangan orang-orang tertentu. Bukankah Rusulullah yang dijuluki Madinatul Ilm-Kota Pengetahuan, tetap mengakui bahwa ia tidak serba tahu. Beliau berwasiat kepada kita untuk menyelesaikan masalah kepada ahlinya.

Bertambah usia bertambah ilmu pengatahuan itu penting, namun jauh lebih penting bertambah mulia akhlakmu. Halus tutur bahasamu. Menjadi penyejuk kepada orang-orang sekitarmu.

****

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close