Dendeng Asap Lado Hijau

Sulit tidak terinfluence pada era digital saat. Hampir semua peristiwa yang terjadi di luar masuk ke dalam benda gepeng persegi yang kita sebut ponsel. Celakanya, kita enggan berjarak dengan benda “Serba-Tahu” ini. Ia seakan-akan melambai-lambai agar kita menyentuhnya setiap saat. Akibatnya terpaparlah kita.

Pemilu selesai namun riuhnya belum usai.
Jauh sebelum KPU mengumumkan pasangan Capres-cawapres, Caleg DPR, DPR-D serta DPD riuh-renyah telah menyertai hari-hari kita. Baliho Caleg, poster Capres-cawapres berdiri megah di sepanjang jalan. Bendera partai melambai ditiup angin.

Di media sosial netijen seperti punya energi ekstra untuk mempengaruhi orang sebanyak-banyak agar memilih Capres, Caleg atau Partai yang terbaik versi mereka. Sekaligus memprovokasi agar warganet tidak memberikan suara kepada Capres, Caleg atau partai yang tidak disukainya. Padahal baik atau buruk hanyalah masalah persepsi masing-masing.

Dengan segenap daya dan upaya saya berusaha agar tidak terprovokasi. Tapi celakanya saya justeru ikut-ikut memprovokasi. Untunglah provokasi hanya saya tujukan kepada orang terdekat ; isteri, bukan kepada khayalak ramai.

Kejadiaanya lebih sebulan yang lalu. Selepas menemani anak ikut lomba Rangking I di SJS , kami bertiga mampir di RM Ampalu Raya yang berlokasi di Ulak Karang. Kami belum pernah makan di sini sebelumnya. Sebagai penyuka dendeng, tanpa berfikir dua kali dan melihat menu lain, dengan yakin saya pesan Dendeng Asap Lado Hijau. Untuk ukuran nama menu makanan ini kepanjangan. Jarang menu makan dengan empat kata. Biasanya dua-tiga kata. Seperti ; Dendeng Batokok, Dendeng Lado Ijau, Gurami Bakar, Kalio Jariang dan lain sebagainya.

Sembari menunggu pesanan datang saya memandangi gambar Dendeng Asap Lado Ijau di dinding. Hasil photograpi yang sangat ciamik, artistik dan menggairahkan bagi siapa saja yang memandang. Saya baca lagi namanya ; Dendeng-Asap-Lado-Hijau. Nama menu yang unik dan kepanjangan ini menginggatkan saya akan sebuah Group Band Underground-Radikal yang diambil juga dari menu makanan. Band ini sering manggung disaat aksi demonstrasi menjatuhkan Orde Baru ; Steak Dading Kacang Ijo nama group band itu. Band yang digawangi oleh Seniman-Aktifis dari ISI-Jogja. Tiga dari empat personelnya tidak bisa bermain alat musik dan tidak paham perihal musik. Karena mereka perupa yang kesehariannya melabur cat. Itulah sebabnya setiap manggung penonton di seret ke pentas untuk bernyanyi dan memainkan alat musik sedangkan mereka berjoget bersama penonton lainnya. Band ini lebih sering berorasi daripada bernyanyi. Puisi-puisi agitasi dan provokasi dalam melawan Orde Baru. Beberapa tahun lalu viral di media sosial seorang calon jemaah umrah ditolak belasan biro perjalanan karena sekujur tubuhnya bahkan hingga wajah dipenuhi oleh tatto. Itulah Bob Sick salah seorang personel Band ini, yang dijuluki sebagai Presiden Tatto Indonesia.

Balik lagi ke Dendeng Asap Lado Hijau. Tak berselang lama pesanan sampai di meja. Cabe hijau yang menutupi daging membuat saya tak sabar untuk menyentuh. Dengan satu gerakan mudah (karena daging yang sangat lembut dan mudah disuir) dendeng bersentuhan dengan lidah. Itulah saya merasakan kelezatan yang orgasmik. Kelezatan yang tiada tara. Salah satu pengolahan daging yang mengantarkan kelezatan yang paripurna.

Dari semula mencecap, saya berfikir bagaimana caranya agar dapat menikmati Dendeng Asap Lado Hijau ini sesering mungkin. Selain mesti bayar dan tidak mungkin saya ke sini terlalu sering. Muncullah akal bulus ; sepanjang makan, disela-sela mengunyah saya berucap “lamak bana”, “sabana lamak”, ikolah dendeng nan paliang lamak”, apo bumbunyo iko? “Ba’a caro mamasaknyo, kok bisa salamak iko”. Sepintas saya sedang memuji padahal sesungguhnya saya sedang melancarkan provokasi kepada isteri. Semacam memberikan tantangan kepada isteri untuk membuat dendeng seperti yang sedang kami nikmati.

Belum puas. Sepanjang perjalanan pulang hingga sebelum tidur pun saya terus melancar provokasi (memuji kelezatan Dendeng Asap Lado Hijau) yang kami nikmati siang itu.

Dan sebulan kemudian provokasi gencar itu membuahkan hasil. Pada yang lamban saya mendapati sepiring Dendeng Asap Lado Hijau di dapur. Saya bergegas mengambil nasi lalu mengambil sepotong dendeng dan memasukannya ke mulut. Masyaallah enaknya luar biasa. Kelezatan tingkat dewa bahasa kekinian yang sering diucapkan ABG. Jujur saya harus mengakui inilah tiruan yang mengalahkan yang aseli. Ada dua hal penyebabnya ; (1) Saya tak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan dan (2) Saya tak perlu berfikir panjang untuk tambuah (karena tidak perlu mengkalkulasi total pembayaran). Pagi ini untuk ketiga kalinya saya menikmati hasil sebuah provokasi.

Nah bagi anda yang ingin menikmati Dendeng Asap Lado Hijau ini silakan kunjungi : Rumah Makan Ampalu Raya yang berlokasi di Ulak Karang dan di Jalan Permindo. Saya yakin kita bersepakat dalam rasa. Boleh juga menghubungi Dapur Bunda Wisda. Jika di RM Ampalu Raya pasti anda akan mendapatkan Dendeng Asap Lado Hijau yang Lamak Bana ini, namun rasa penasaran mengenai resep rahasianya dapat dipastikan tidak akan terjawab. Akan tetapi di Dapur Bunda Wisdawati justeru sebaliknya ; Bisa jadi Anda tidak mendapatkan Dendeng Asap Lado Hijau tapi rasa penasaran anda perihal resep dengan senang hati akan dibagikan kepada anda.

****

Al Albana, 22 Sya’ban 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close