Kenangan Ramadhon Tempo Doeloe (2)

Menjelang ashar berangkat ke sungai. Berendam di ‘Lubuak’ merupakan salah satu upaya mempertahankan puasa di tengah cuaca yang terik. Kadang permainan ringan di dalam sungai yaitu : salah seorang menyembunyikan batu yang sudah diberi tanda dan disepakati bersama sedangkan yang lainnya bertugas menemukan. Yang berhasil menenukan maka ia berhak untuk menyembunyikan untuk selanjutnya. Pada bulan Ramadhan tidak ada yang kuat terjun ke sungai dari pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Menguras tenaga dan melelahkan. Berbahaya bagi puasa.

Puas berendam dan diakhir dengan mandi. Sholat ashar di pinggir sungai. Diatas bebatuan yang disusun sedemikian rupa agar nyaman untuk sholat. Terutama pada saat duduk tawarruk pada tasyahud akhir dimana punggung kaki kiri tertekan ke tanah.

Sebelum pulang mencari Timun atau Jeruk Nipis untuk minum saat buka puasa. Kadang petik di kebun sendiri yang terletak di pinggir sungai kalau lagi tidak berbuah minta kepada tetangga kebun atau siapa saja yang punya. Tak mengapa. Tak perlu sungkan, karena kehidupan di desa sangatlah harmonis dan saling memberi.

Beranjak pulang saat matahari menukik di ufuk barat. Sampai di rumah sepenanak nasi menjelang petang digulung malam. Mempersiapkan Jeruk Nipis peras atau parutan timun. Jika beruntung penjaja es batu melintasi desa dengan sepeda. Jadilah es jeruk nipis atau es timun. Jika malang, karena cuaca mendung atau hujan penjaja Es Batu yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Sirna, khayalan berbuka dengan minuman dingin yang sudah dipanggul saat menaiki lereng bukit membawa timun atau jeruk nipis.

Minuman selesai. Jarum jam terlihat sangat berat dan lamban berputar. Terlihat seperti batrei mulai melemah. Tapi bukan. Ingin rasanya bantu mendorong. Waktu berjalan sangat pelan. Mata setiap 2 menit mengarah ke jam dinding yang terletak di atas kosen pintu menuju dapur. Hitung mudur menit-menit menjelang bedug magrib berbunyi. Tangan tak terkendali untuk mengganti saluran radio setiap 30 detik. Bukan karena tidak ada saluran radio yang menarik. Hati yang tak sabaran mununggu magrib.

Bedug bertalu-talu, azan berkumandang. Dalam sekejab es jeruk nipis berpindah dari gelas ke dalam perut, selanjutnya sepiring nasi beserta lauk-pauk. Setelah itu tidak ada keinginan apa-apa lagi. Kenyang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close