Kenangan Ramadhan Tempo Doeloe (4)

Jarum jam menunjukan pukul 21.20. Semua yang sedang tadarus anak-anak, tak seorang dewasa pun. Ada tapi sedang berwudhuk. Anak lelaki itu menyeret bangku kayu dan meletakannya vertikal di bawah jam dinding degan merk Quartz berdiameter 16 inc. Sambil tersenyum-senyum ia naik ke atas bangku untuk menjangkau jam dinding. Dengan satu gerakan ia berhasil menurunkan jam, lalu menyelipkan jari telunjuk untuk memutar tuas penyetel jarum. Sekarang jarum jam menunjukan pukul 22.20. Ia mengembalikan jam dinding dan kursi ke tempat semula.

Ia kembali bergabung ke dalam lingkaran yang tengah tadarus. “Diam-diam sajo yo, jan sampai ado yang tahu” [diam-diam saja, ya!, jangan sampai ada yang tahu] ia meminta kepada teman-teman agar rahasia ini jangan sampai bocor.

Pada masa itu taraweh baru akan di mulai jika jarum jam telah menunjukan pukul 23.00. Taraweh plus witir 23 rakaat dan ditutup dengan zikir dan ratib menjelang pukul 00. Bayangkan betapa beratnya bagi kami yang mesti sekolah esok pagi.

Sudah berkali-kali lobi-lobi telah ditempuh dari utusan anak-anak sekolah agar Ungku Nuri selaku imam dan tetua Surau mau memulai sholat lebih awal. Tak mesti pukul 20.00 setidaknya sebelum pukul 22.00 sholat sudah dimulai agar kami tidak terlalu mengantuk di sekolah esok hari. Namun ia tak bergeming “bulan puaso ko bulan nan pernuh berkah, gunokan saelok-eloknyo. Puaso di siang hari, pabanyak ibadah di malam hari, kurangi lalok malam”. “Tapi bisuak awak sakola ungku”. “Bulan puaso kan cuma sabulan ndak sapanjang tahun doh”. Begitulah kira-kira alasannya menolak usulan agar sholat taraweh dilaksanakan lebih awal.

Lantai papan berayun, terdengar suara langkah memasuki surau. “Sumbayang awak lai Ungku, alah jam sabaleh!”, Ia menoleh ke arah Jam Dinding tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sambil merogoh kantong celana pendek di balik sarung yang dikenakannya ia menatap dalam-dalam ke arah yang anak yang mengajak untuk memulai sholat tadi. Jam Tangan berhasil dikeluarkan. Ia mendekatkan jam tangan ke mata, lalu menatap jarum jam “baru pukue sapuluah baru, sia lo nan mampacapek jam ko?” [Baru pukul 10, siapa yang mempercepat jam?] katanya sambil memasang jam ke tangan. Selanjutnya ia memerintahkan anak-anak untuk terus tadarus hingga pukul sebelas malam.

Upaya memajukan jarum jam dinding bernasib sama dengan jalur diplomasi. Sama-sama menempuh jalan buntu. Gagal. Taraweh tetap digelar pukul 23.00 dan esok pagi di sekolah mulut tak henti-hentinya menguap karena otak kekurangan oksigen dan perut kekurangan nutrisi.

****

Al Albana, Andalas, Ramadhan 1440 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close