Peci Nasional

Masjid Jihad, Parak Salai belum dilengkapi oleh AC penuh sesak oleh jemaah. Selesai Isya saya menarik diri di teras masjid mendengarkan ceramah. Mencari posisi senyaman mungkin, kadang berselonjor, bersila sampai melipat kaki untuk menahan kantuk. Saya pun melepaskan Peci Hitam ini untuk mengurangi gerah.

Bangkit dari rukuk rakaat keempat, saya baru sadar tidak mengenakan peci. Selesai salam rakaat keempat saya bergegas keluar mencari peci. Nihil. Peci tidak saya temukan. Padahal saya haqqul yakin peci tertinggal di teras masjid. Bukan di tempat lain seperti di area wudhu atau di rumah.

Gagal menemukan peci, saya masuk bergabung di syaf paling belakang. “Peci ayah, dipakai orang berbaju orange itu” ujar anak saya sambil menujuk seseorang yang berdiri satu syah di depan kami. “Sepertinya iya, nanti selesai sholat kita tanya”, sekarang kita sholat dulu” ajak saya karena imam telah takbiratul ihram.

Selesai witir kami menunggu anak muda berkaos orange di luar. Anak saya beberapa kali melongok ke dalam, memastikan orang yang diduga menggunakan peci saya masih ada di dalam. Namun si ‘orange’ belum keluar juga. Anak saya mendesak agar saya menyanperi si terduga ke dalam masjid.

“Maaf diak, mirip bana samo peci ambo nan tatingga di teras tadi katiko ceramah”, ucap saya sambil menjabat tangan si orange. “Oh, peci Uda, sobok di teras, awak pakai, maaf yo da!” balas si kaos orange sambil melepas peci lalu menyerahkan kepada saya. “Iyo, ndak ba’a doh, samo-samo, terima kasih, alah manyalamaikan peci ambo” saya mengulurkan tangan untuk menerima peci.

Saya telah menggunakan Peci Nasional dengan berbagai variasi dan kombinasi warna sejak empat tahun belakangan, terutama untuk sholat ke masjid, melayat atau ritual keagamaan lainnya. Sekaligus meninggalkan peci (songkok) putih yang biasa digunakan oleh orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Penyebabnya, saya pernah menonton sebuah liputan di televisi tentang seorang calon jamaah haji ketika itu, berprofesi sebagai Tukang Becak. Sang calon jemaah haji ini mempunyai keinginan yang kuat untuk melaksanakan rukun Islam ke-5, meskipun pekerjaannya hanya sebagai pengayuh becak. Mulailah ia menabung sejak masih usia 20 tahunan hingga bisa berangkat haji pada usia 65 tahun. Hati saya tersentuh. Begitu berat dan lama ia mencurahkan seluruh tenaga serta daya dan upaya agar bisa menggunakan peci haji putih yang biasa saya gunakan.

Terlebih, ketika saya membayangkan betapa beratnya menyandang gelar haji pada masa kolinial. Gerak-gerik mereka yang memakai peci (songkok) putih ini tidak pernah luputan dari pantauan polisi kolonial.

Sejak itulah, saya tak lagi menggunakan peci (songkok) putih beralih ke Peci Hitam Nasional.

Saya masih ingat dulu yang menggunakan peci (songkok) putih adalah orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Peci (songkok) putih itu sebagai tanda bahwa pengguna telah melaksanakan rukun islam ke-5. Namun setelah reformasi semua orang (yang belum haji pun) tak merasa sungkan untuk menggunakannya. Peci (songkok) putih tidak lagi menjadi identitas.

Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa salah seoerang Kyai melarang santri menggunakan peci (songkok) putih ini di kawasan pesantren miliknya, tentu saja di luar areal pesantren ia sang kyai tidak mempermasalahkannya.

Kategori Khasanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close