Hukum Waktu

Waktu merenggut usia kita dan mengembalikannya pada semesta. Kenapa kita? Kerana hanya kita lah di dunia ini yang selalu punya urusan dan perhitungan dengan waktu. Bahkan tuhan bersumpah atas nama waktu dan memaklumatkan kerugian besar manusia yang tersimpan dalam waktu (QS. Al ‘Asr [103]: 1-2). Kesadaran pada hukum waktu itulah yang membedakan kita dengan makhluk lian di jagat raya. Kita belaka lah yang getun menunggu putaran waktu kelahiran, merayakannya, bersuka cita, dan kemudian meratapi diri yang terus menua. Usia seolah bertambah. Tapi jatah hidup makin tersisa sedikit saja.

Hukum waktu membedakan antara dunia, zaman, bumi, dan masa buatan peradaban manusia modern yang terpisah dari lingkungan asalinya, semesta hidup: kosmos. Hal ini menegaskan bahwa semua pergolakan planet dan kekacauan sosial yang kita alami sekarang, berhubungan langsung dengan pengutamaan berlebihan pada teknologi manusia, bukan tatanan Ilahi dan kodrat kehidupan. Soalnya disebabkan kesalahpahaman kolektif terhadap rambatan (frekuensi) waktu. Hidup di waktu yang artifisial (palsu), membuat hubungan kita terputus—dengan alam kita sendiri. Kita selalu merasa seperti memiliki “waktu yang cukup lama.” Padahal sebaliknya.

Sebagaimana waktu diperam oleh batu, kita pun memiliki kemampuan itu dalam 260 unit matriks harmoni, 13 sendi tangan, 20 jari jemari, dan 360 ruas tulang dalam tubuh. Semua merekam putaran waktu dunia kita masingmasing. Lalu kita memilih perpisahan dengan (dan dalam) waktu. Kita selalu menyukai perjumpaan, dan sangat mengkhawatirkan perpisahan. Kemudian kita pun bersedih, terluka, sengsara.

Kita terus-menerus berjumpa dengan kekinian, dan selalu gagal menyikapi kenyataan, sehingga mencuatlah konsep masa lalu dan yang akan datang. Rekaman waktu di masa lampau kita namai kenangan. Apa yang kemudian akan terjadi, kita sebut harapan. Keduanya kian mempersulit hidup kita sendiri. Padahal, tak ada yang bisa melampaui kenyataan, selain tindakan kesadaran. Agar jadi manusia yang utuh, kita harus belajar melunturkan segala atribut dan label yang kadung nempel sejak kecil sampai kini.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close