Sistim Zonasi

Saya tidak sedang ingin ikutan ngomong soal zonasi, sudah terlalu banyak orang yang membahas tentang itu. Mulai para pakar pendidikan, praktisi pendidkan, ibu-ibu yang sedang galau perihal putera-puteri yang gagal masuk sekolah unggulan hingga warganet yang serba tahu tentang segala hal yang tak ingin ketinggalan ikut mengomentari mengenai apapun juga. Saya cuma bercerita tentang jejak langkah saya yang pernah terjebak dalam pemikiran yang sama dengan banyak orang tentang sekolah unggulan.

Tamat SMP saya memperoleh NEM tertinggi di Sekolah. Orang Tua dan keluarga menginginkan saya melanjutkan ke SMA “Unggulan” istilah zaman sekarang yang coba dihapus Pak Muhajir Effendy. Mereka menginginkan SMA 1 Pariaman di pusat Kabupaten. Saya pun ‘manut’. Tapi buat jaga-jaga, seandainya tidak diterima saya juga mendaftar di SMA sesuai Rayon, SMA 1 Sungai Limau (SMA Kecamatan).

Alhamdullilah meskipun luar rayon, saya diterima di SMA 1 Pariaman. Sedangkan di SMA 1 Sungai Limau, nama saya tertulis paling atas di papan pengumuman penerimaan siswa baru, karena NEM tertinggi dari seluruh pelamar. Tentu saja saya memilih (tepatnya disuruh memilih) di SMA Unggulan-SMA 1 Pariaman.

Waktu awal-awal masuk SMA bahkan hingga tamat saya malu tiap kali ditanyai teman ; Rumahmu di mana?

Sungai Limau itu jauh, desa, udik. Ada jarak peradaban yang njomplang cukup jauh antara Sungai Limau dan Pariaman. Jadi urutan derajatnya: Kota Pariaman, Kuraitaji, Mangguang, Nareh (Sekarang menjadi Kotamadya Pariaman) setelah itu baru Sungai Sariak, Pauh Kamba terakhir Sungai Limau, Sungai Geringging.

Rumah ortu saya di Korong Lampanjang Nagari Kuranji Hilir, setengah perjalanan menuju Sungai Geringging dari sungai limau, tentu lebih udik lagi dari sungai limau, salah satu sudut Kabupaten Padang Pariaman paling ndeso pada masa itu.

Sementara itu teman-teman saya tinggal di Kampuang Perak, Kampuang Baru, Kampuang Pondok, Cimparuah, Kampuang Jawo, Kampuang Paneh, Taratak, Galombang dan sebagainya. Area-area yang terdengar sangat “kota” di telinga saya ketika itu.

Keminderan semacam itu mesti, hal yang wajar bagi seorang anak desa yang baru lulus SMP dan belum cukup punya amunisi kepercayaan diri dalam soal-soal yang lebih substantif.

Belum lagi ukuran-ukuran eksistensial yang bersifat material dan keduniaan : pekerjaan orang tua, sekolah naik angkot atau bawa motor, uang jajan sedikit atau berlebih, main nitendo atau cuma main layangan, tv di rumah sudah bisa menangkap siaran RCTI atau cuma TVRI dan TPI, dan ukuran-ukuran lain yang membuat minder.

Selama 3 tahun di SMA, 4 semester saya sekolah siang. Senin-Kamis masuk 12.45 pulang 17.30 sedangkan Jum’at masuk pukul 13.45 pulang pukul 17.30, sabtu masuk 12.30 pulang 16.30. Setiap sabtu sebelum pulang upacara penurunan bendera.

Rumah jauh; berjarak 22 Km dari sekolah, tidak punya motor, angkutan umum relatif sedikit, membuat saya ‘sport’ jantung setiap menunggu angdes (angkutan pedesaan) berangkat sekolah, terlebih pulangnya. Takut terlambat sampai di sekolah dan takut kehabisan angdes untuk pulang. Perihal berangkat bisa saya atasi ; bangun lebih pagi untuk sekolah pagi dan berberes lebih awal jika sekolah masuk siang. Meskipun pernah terlambat namun tidak sering.

Masalahnya adalah untuk pulang, jika sekolah masuk pagi pun tak masalah, yang menjadi masalah sekolah masuk siang. Jam belajar usai 17.30 dari sekolah ke terminal 1 km jarak tempuh dengan berjalan kaki 12-15 menit. Ingin naik bendi (Andong) tidak punya uang untuk bayar angkutan pedesaan nantinya. Sampai di terminal angkutan pedesaan mulai sepi. “Sungai Limau, Sungai Geringging!!, Sungai Geringging terakhir, terakhir!” Teriak kenek terdengar dari jauh saya pun berlari kencang. Alhamdulillah jika dapat bangku untuk duduk, berdiri pun tidak masalah, kadang pun bergelantungan di pintu yang sengaja tak ditutup, yang penting bisa sampai di rumah.

Itulah alasannya saya paling kesel jika teman sekelas mengajukan pertanyaan kepada guru menit-menit menjelang bubaran sekolah, yang mengakibatkan kami tertahan 2-5 menit di kelas meskipun bel pertanda pulang telah berbunyi. Waktu yang relatif singkat itu, sungguh sangat menentukan apakah saya mendapatkan angdes terakhir atau tidak. Sebaliknya kebahagian akan membuncah jika guru mata pelajaran terakhir tidak datang.

Alasan saya meloloskan diri agar tidak ikut upacara penurunan bendera saban sabtu sore juga sama. Agar bisa sampai di rumah dengan cepat sehingga dengan begitu, saya tak perlu lagi mencegat bis Padang-Lubuak Basuang atau Padang-Ujung Gading lalu turun di Pasar Sungai Limau selanjutnya harap-harap cemas menunggu kedaraan apa saja yang lewat agar sampai di rumah, semoga truk atau motor yang menuju Sungai Geringging berbaik hati memberi saya tumpangan hingga sampai di rumah.

Selain hal teknis (transportasi dan jarak rumah yang lumayan jaub) yang mengganggu konsentrasi saya dalam belajar selama SMU tentu juga alasan psikis ; merasa ndeso dan udik bergaul dengan siswa yang saya anggap “kota” pada masa itu. Prestasi akademis yang saya dan orang tua banggakan sejak SD hingga SMP sesampai di SMA hilang tak berbekas. Bagaikan seorang Ksatria yang hilang kesaktian setelah melewati hutan terlarang. Saya yang memang berkharakter introvert kesulitan beradaptasi. Celakanya sebagai anak yang penurut, saya sungkan meminta kepada orang tua agar mengeluarkan saya dari sekolah unggulan ini. Semua saya tahan sendiri tanpa pernah bercerita dan mengadu kepada siapapun.

Setiap kita punya hak yang sama dalam mensikapi setiap kebijakan publik yang terkait kepada kita, termasuk kebijakan Kementerian Pendidikan mengenai Sistim Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Sulit untuk bersikap objektif, karena subjektifitas mustahil kita amputasi. Oleh karena itu sebagian antusias dan sebagian menolak. Pro-Kontra adalah keniscayaan, karena latar belakang dan kondisi sosial kita yang beragam. “Buat apa capek-capek belajar siang-malam untuk dapat nilai tinggi kalau akhirnya tak bisa diterima di SMUN 70 Jakarta hanya karena rumah tidak masuk zona”, “semua yang dilakukan sia-sia, toh akhirnya anak saya yang nilainya tinggi dicampur juga sama anak-anak bodoh dan kampungan”, atau ekspresi kebahagian semacam ini, “Dulu, Setiap kali melintas di SMU 1 Padang, saya selalu berkhayal Malin bisa sekolah di sini, tapi mana mungkin anak saya nilainya ‘cuma lapeh makan’, sudah gitu pemalas lagi, tapi untung sekarang sistim zonasi, maka ia bisa sekolah di sana, karena rumah kami masuk zona SMU 1”.

Mari kita simak reaksi masyarakat terhadap kebijakan ini. Jika disikapi dengan bijak, ada banyak hal yang dapat kita serap dan menjadikan refleksi dalam mengambil langkah ke depan baik dari penolakan maupun dari mereka yang berpihak atas kebijakan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close