GAGAL KENA [BUK]TI [(PE)LANG(GARAN]

Selepas mandi dan berganti pakaian pagi ini, saya mematut-matut wajah di cermin. Apa gerangan yang menyebabkan polisi batal menerbitkan surat tilang atas pelanggaran yang saya lakukan petang kemarin. Padahal pelanggaran itu nyata; saya tidak menyalakan lampu sepeda motor.

Kota Padang masih diselumuti awan. Sebagian awan komulus masih menggantung di langit, meskipun hujan sudah turun pagi. Petang yang lembab. Jalanan sepi, saya melaju dengan pelan dari Gramedia menuju Plaza Andalas, seorang polisi memberhentikan laju kendaraan saya. Tak ada niat kabur, saya pun berhenti. Lalu membelokkan sepeda motor ke halaman pos jaga. Saya pun mengikutinya ke dalam pos dengan langkah santai.

Di sebuah meja kecil, Saya mengeluarkan STNK dan SIM setelah diminta. Ia menunjukan pasal tentang pelanggaran yang saya lakukan (berkendara tanpa menyalakan lampu). Saya membenarkan ucapannya. “Saya bersalah dan Bapak sebagai penegak aturan lalu lintas tentu berhak menilang” jawab saya dengan intonasi yang datar tanpa penekanan dan eksresi yang dingin.

“Sudah pernah menghadiri sidang sebelumnya” ia melanjutkan pertanyaan. Saya memberi jeda sedikit dengan membenarkan posisi kacamata “sudah, tiga tahun lalu di Jakarta” masih dengan suara datar namun tetap menatap wajahnya. “Nanti sidangnya di mana dan kapan ?” Saya balik bertanya. “(Jl) Khatib Sulaiman, kira-kira 3 minggu lagi” jawabnya. “Baik, insyaallah saya datang, kebetulan waktu saya longgar”. “Apa pekerjaan pak?” ia melanjutkan pertanyaan. “Jika jawaban itu penting, saya kuli”. “Kuli apa?” Cecarnya lagi, “kuli bangunan”.

Saya merasa dia sedang bermain psikologis ; menunggu saya mengaku bersalah dan selanjutnya minta bantuannya dengan cara “berdamai”. Tapi saya memang tidak ada niat untuk “berdamai”. Saya memang bersalah, silakan hukum (tilang). Saya mengaku bersalah tapi tidak meminta “Pemakluman” darinya dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

Melihat gelagat saya tidak terpancing mengajak “Berdamai”, dia melanjutkan “Tinggal di mana Pak?”. “Polamas Andalas” jawab saya dengan normatif. “Kampung dimana?” Lanjutnya, “Sungai Limau, Pariaman” jawab saya dingin dan kaku. “Oh, Ajo kironyo, sakampuang kito, ambo di Simpang ampek Toboh”, ia mencairkan suasana.

“Ka pai kama ajo ko?” Ia terlihat sok akrab. “Ka Plaza Andalas menjemput anak dan isteri keluar dari bioskop” saya pun mulai cair. “Kok ndak ikuik manonton” tukasnya, “film kartoon, ambo kurang suko, jadi samantaro mereka menonton ambo ka Gramedia”, jelas saya.

“Karano kito sakampuang, iko STNK dan SIM ajo”, ia menjulurkan tangan, saya pun menyambut dengan senang. “Mato ajo, pakai softlens?” Ia meneruskan. “Ndak alah bantuak iko sejak ketek”, jawab saya.

“Terimo kasih Pak” saya mengulurkan tangan untuk berjabat, ia tersenyum dan saya pun berlalu.

Hingga tadi pagi bahkan sampai saat ini, saya tidak yakin saya tidak jadi ditilang hanya karena sama-sama Ajo (sama-sama berasal dari Pariaman). Saya mencoba menyusun beberapa praduga ; (1) dia curiga saya seorang wartawan investigasi yang akan membongkar praktik ‘damai’ yang sering terjadi selama ini, (2) wajah saya bercayaha seperti wali, saat diintrogasi, (3) dia tidak yakin di dompet saya cukup uang untuk ‘berdamai’, (4) meskipun ada di peraturan lalu lintas bahwa pengendara wajib menyalakan lampu kendaraan pada siang hari, namun belum lazim (masih janggal) pengendara ditilang hanya karena tidak menyalakan lampu saja, kecuali pasal tambahan yang bertujuan memberatkan.

Apapun itu, satu hal yang patut saya syukuri adalah pernah hadir pada sidang pelanggaran lalu lintas yang saya lakukan tiga tahun silam, dan sejak itu saya selalu siap setiap kali diancam akan ditilang oleh polisi. Dan kalau pun ditilang, saya akan akan hadir sidang di pengadilan sesuai tempat dab jadwal yang ditentukan. Saya pun telah bertekan tidak akan “berdamai” di tempat. Berani salah, harus berani bertanggungjawan (hadir di pengadilan), setidaknya denda tilang yang kita bayarkan masuk kas negara yang sedang kembang-kempis.

Saya memang jarang mengekpresikan nasionalisme misalnya ; menuliskan besar-besar ‘Saya Indonesi-Saya Pancasila, NKRI Harga Mati, atau mengamuk saat warisan kebudayaan bangsa ini diklaim negara lain, atau ketika Merah-Putih dipasang terbalik. Saya mencintai negari ini dengan sederhana, dengan cara-cara sederhana bukan dalam bermewah-mewah seperti di atas, semisal yang saya lakukan kemarin-tidak minta ‘berdamai’ dengan aparat ketika melanggar lalu lintas-,tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyerobot antrian, tidak menerobos lampu merah yang sedang menyala, tidak memanipulasi kartu keluarga atau surat keterangan domisili agar anak diterima di sekolah unggulan. Saya malu saat mulut berteriak Saya Indonesia-Saya Pancasila namun bikin Passport masih ‘nembak’, krasak-krusuk mencari ‘orang dalam’ agar anak diterima di sekolah unggulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close