MENANG-KALAH SOAL TAKDIR

“Kita kalah ma” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”

Itulan epilog novel yang paling sering dikutip. Bumi Manusia. Buku pertama dari tetralogi Pulau Buru karya Pram yang difilmkan oleh Hanung Bramantyo dan akan tayang perdana 15 Agustus mendatang.

Dialog di atas merupakan percakapan antara menantu dan mertua. Minke dengan Nyai Ontosoroh, sesaat setelah kereta yang membawa Annelis Mellema sudah tak terlihat lagi dari pekarangan rumah mereka.

Perjuangan mereka kandas, setelah Pengadilan “Totok” (pengadilan untuk kulit putih) telah mengetuk palu bahwa pernikahan antara Minke dan Annelis dibatalkan dengan alasan Annelis masih dibawah umur dan hak asuh Annelis jatuh kepada saudara tirinya (lain ibu) Maurits Mellema, karena Nyai Ontosoroh (ibu yang melahirkan Annelis) hanya seorang gundik. Dan Annelis dilayarkan ke negeri Ratu Wihelmina, ikut Maurits Mellema, saudara tiri yang menjadi walinya.

Dunia dipenuhi ketidakadilan. Pengadilan adalah bentuk ikhtiar manusia dalam meniadakan ketidakadilan. Ikhtiar bisa saja berhasil dan sebaliknya ; gagal, yang melanggengkan ketidakadilam. Begitu pun yang berangkat ke pengadilan (pemohon). Mereka sebatas “mencari” keadilan bukan “mengambil” keadilan. “Mencari” ; bisa dapat bisa nihil. Tentu berbeda dengan “mengambil”. Karena itulah mereka yang berangkat ke pengadilan disebut sedang juga dengan “pencari keadilan”.

Teladan ini yang disampaikan oleh Pram melalui tokoh rekaan Minke dan Nyai Ontosoroh. Mereka telah melakukan dengan cara terhormat. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa pribumi tidak pernah memenangkan perkara di pengadilan ”kulit putih”. Apalagi cuma seorang Nyai ; Gundik.

Dari awal sudah tercium aroma ketidakadilan bagi seorang Nyai dan menantunya ; Sidang perkara dilimpahkan ke pengadilan untuk kulit putih, mestinya di pengadilan pribumi.

Sama seperti Nyai Ontosoroh dan Minke, kurang lebih seperti itu pulalah harapan dan perasaan dari sebagian orang yang menunggu keputusan sidang Makamah Konstitusi tadi malam.

Dunia memang dipenuhi oleh ketidakadilan, sedangkan manusia hanya berusaha “mencari” keadilan bukan “mengambil” keadilan. Satu hal yang tidak boleh kita ingkari ; rukun iman ke-6 ; percaya kepada takdir baik dan takdir buruk.

Kategori Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close