Rasa

Masih perihal Indomie tadi pagi.
Mendapati saya yang sedang berusaha menuang susu kental manis ke dalam semangkok Indomie dia heran. “Ihhh enak apa?, orang ganjil, seleranya suka yang aneh-aneh”. “Ya enaklah, kalau tidak mana mungkin ayah berusaha mengeluarkan susu kental ini dari kaleng. Memangnya saya orang bodoh apa? suka menyusahkan diri untuk hal yang tidak enak” saya membela diri. “Coba” katanya lagi. Saya diam saja.

Selesai mengaduk dengan sempurna saya menyodorkan sesendok kuah mie kepadanya “nih cobain”, dia menjauhkan kepala dari sendok. “Katamu coba, setelah ayah beri kamu menghindar” saya bingung. “Bukan, maksudnya ayah yang coba”, “kalau itu tak perlu diminta, ayah bukan hanya mencicip tapi akan menyisakan sendok dan piring saja, selebihnya akan ayah tenggelamkan kedalam perut ini”, ujar saya sambil menupuk perut.

Dan saya pun mulai memasukan sendok ke dalam mulut. “Bagaimana yah, enak” ia penasaran. “Iya enaklah, eee tapi buat ayah, bagi kamu tentu tidak dan belum tentu bagi orang lain”. “Kok begitu?” ia menimpali. “Enak dan tidak enak itu perihal rasa. Dan itu relatif. Enak bagi kita belum tentu orang lain sepakat”. Hingga seluruh isi mangkok berpindah ke dalam perut saya. Dan saya membuktikan bahwa yang tersisa hanya mangkok dan sendok.

“Begini cah bagus, rasa itu terletak di pikiran, bukan di lidah. Fungsi lidah hanya sebagai instrumen untuk mengirim informasi ke otak, kemudian informasi itu dioleh oleh otak. Catat! Informasi yang dikirim dari lidah hanya salah satu parameter saja, banyak hal lain yang terkait misalnya soal higienis, penyajian, pengalaman masa lalu. Informasi itulah yang diolah oleh otak sebelum memutuskan ; oh, enak, itu kurang, kalau yang itu tidak sama sekali. Misal ; kamu yang sangat suka dengan kebab, tiba-tiba setelah memakan beberapa potekan, menemukan bangkai lalat atau potongan ekor tikus di kertas pembungkusnya. Apakah rasa kebab yang sudah kamu makan dengan sisanya berbeda? sehingga kamu tidak menghabiskannya? tentu saja tidak. Contoh lain ; dulu kamu tidak suka ‘palaih bada’, sekarang kamu keberatan berbagi dengan ayah setiap kali bunda membelinya dari tempat yang sama. Masih kurang dulu Ayah jijik melihat Bubur Ayam, ayah menyebutnya muntah kucing, sekarang kita rajin mengunjung Bubur Ayam Ade di Simpang Haru setiap minggu, atau begini dulu waktu seumuranmu semua air mie rebuh ayah buah baru ditambahkan bumbunya agar penyedapnya lebih berasa, sekarang membayangkan saja ayah jadi eneg”

“Jadi cukup bilang tak suka, jangan bilang tidak enak, karena semua makanan yang dimasak pasti enak, setidaknya bagitulah maksud hati dari orang yang memasak”

“Paham! Ayah akan membuatmu menyukai urap daun dan kembang pepaya atau pare, bagaimana?”, “tak nak, tak nak” dia menghindar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close