Dongeng Kaum Tasawuf Mendewakan Raja

Orang Minangkabau, sama seperti etnis lainnya masih asyik dengan adatnya. Sangatlah dipengaruhi oleh hikayar Cinduemato. Dalam hikayat ini tampak betapa pujangga-pujangga istana mencari sumber dari dalam telaga Tasawuf, sesuatu yang keramat untuk akan menjadikan kebanggaan sang Raja.

Anggaplah Bundo Kanduang bagi orang Minang, sama pula dengan anggapan orang Bugis terhadap Siti Malangkai, Ratu mereka yang konon berasal dari keturunan Ratu Balqis dalam pernikahannya dengan Nabi Sulaiman kemudian menurunkam Sawirigading yang dianggap dewa.

Dalam pendahuluan Hikayat Cinduemato, disusun perkataan meminta ampun kepada daulat Tuan Kita, sebab keadaan Baginda akan perkatakan (perbincangkan) dan kebesaran Baginda akan dipaparkan.

Ampun baribu kali ampun, ampunlah kami mengabarkan, seorang diraja perempuan, di dalam Ulak Tanjuang Bungo, di dalam Koto Pagaruyuang, di dalam Jorong Kampuang Dalam. Bukanlah rajo yang meminta, bukanlah rajo yang membeli, raja berdirinya sendiri, sama tajalli dengan alam. Timbalan Raja Benua Ruhum (Romawi/Eropa), Timbalan Raja Benua China, Timbalan di lautan.

Kemudian disebutkan pula Bahwa Bundo Kanduang memerintahkan kepada Kembang Bendahari agar membangunkan Dang Tuangku yang sedang berada di atas anjuang peranginan. Berdatang sembah Kembang Bendahari, memohon diberi ampun karena ia tidak berani membangunian Dang Tuangku, sebab Baginda sangatlah keramat.

“Apabila disebut namanya lidah menjadi kelu, jika ditentang matanya , mata akan buta, jika terlintas baginda sedang tidur kakipun akan lumpuh”–demikian benarlah tuah dan keramat baginda, “niscaya bunda juga yang akan kehilangan”

Disebutkan bahwa tiga orang raja besar dahulunya telah datang meminang Bundo Kanduang. Pertama, Raja Ruhum (Romawi), kedua Raja Cina, ketiga Raja Aceh. Raja Rum datang membawa hadiah hantaran nikah berupa sebuah kapal yang penuh isinya. Pinangan itu telah diterima. Akan tetapi, setelah kapal dan isinya diterima, Raja Rum itu pun mati sehingga Bunda Kandung menjadi kaya raya. Demikian juga Raja Cina membawa pelang seisinya. Pelang pertanda raja mati. Raja Aceh membawa hantaran perahu gurab lengkap dengan isinya. “Gurab teranda raja pun mati”. Di situ mengertilah orang bahwa ketiga raja yang besar itu bukanlah jodoh Bundo Kanduang.

Diperintahkanlah Bujang Selamat, pesuruh istana yang sangat setia memanjat pohon kelapa yang bernama Nyiur Gading karena Bundo Kanduang ingin benar hendak memakan buahnya. Demikian lamanya memanjat pohon kelapa itu. Hari Kamis naik memanjat, hari Rabu baru sampai turun ke bawah. Buah kelapa itu hanya dua saja. Yang satu karena sangat hausnya memanjat, telah dimakan oleh si Selamat di atas pohon itu juga. Setelah isinya habis diminum, buah itu dilemparkannya ke bawah. Sabutnya dimakan oleh kerbau, itulah asal si Kabau (Kerbau) Benuang. Sebagian sabut lagi dimakan oleh seekor kuda, itulah asal si Kuda Gumarang, dan isi kelapanya dimakan oleh seekor ayam jantan, itulah asal si Ayam Kinantan. Setelah si Selamat turun ke bawah membawa buah yang satu lagi, diserahkanlah kepada Bundo Kanduang, lalu baginda makan. Itulah asal daulat tuan kita, nama sanan gelar sanan, bernama Sultan Rumanduang. Air kelapa yang diminum oleh si Selamat, itulah menjadi Cinduemato dengan isterinya Kembang Bendahari. Oleh sebab itu Dang Tuangku, Cinduemato, si Kinantan, si Gumarang, si Binuang semua itu berasal dari bangsa dewa. Atau Indrajati.

Akan tetapi, sebagaimana disebutkan di atas, Bundo Kanduang sendiri bukan saja dewa, bahkan lebih dari dewa, sama tajalli dengan alam dan raja berdiri sendiri.

Tentang Bundo Kandung dengan amat halus masuklah salah satu pokok penting dari pegangan kaum tasawuf. yaitu tentang Insan Kamil. Al-insan al-kamil, manusia yang maha sempurna, menurut ahli tasawuf Dialah Allah Ta’aala sendiri yang menyatakan dirinya, dan itulah Nur Muhammad saw atau al-haqiqatul muhammadiyah, dialah permulaan wujud, tapi dia pula kesudahan nabi saw. Insan Kamil tidaklah mati, selamanya dia hidup. Mungkin dia menyatakan dirinya dengan bentuk yang berlain-lain, seumpama menjadi tubuh Nabi Adam a.s. atau Nabi Isa a.s., atau yang lain. Akan tetapi, kesempurnaan mazhar- nya ialah pada tubuh Nabi Muhammad saw. Bila Nabi Muhammad saw. wafat, hanya tubuh Muhammad saw. yang wafat. Adapun Insan Kamil terus menjelma dalam tubuh yang lain. Menurut kepercayaan setengah mereka, Insan Kamil itu menjelma pada diri Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan menurut kepercayaan setengahnya lagi. Insan Kamil itu terus menjelma dalam tubuhnya wali-wali (Aulia) yang tinggi martabatnya yang disebut juga ghaust atau quthub. Di antara Insan Kamil itu ialah Sayyid Abdul Qadir Jailani, yang kakinya di atas pundak segala wali.

Tidak perlu diragukan bahwa pelajaran seperti ini sekali-kali tidaklah berasal dari Islam. Ia adalah inti filsafat hinduisme yang bernama Atman, yang masuk pengaruhnya ke dalam tasawuf Islam. Ia adalah Panteisme yang terdapat juga dalam Neo Platoisme dan berpengaruh juga ke dalam agama Kristen, yang bahkan dijadikan dasar kepercayaan Agama Nasrani tentang Ketuhanan Nabi Isa as.

Rupanya pengarang Cindue Mato, tentu saja pujangga istana, mendapat inspirasi untuk mensucikan raja atau mendewakannya, dengan memakai kepercayaan demikian terhadap Raja Minangkabau. Insan Kamil adalah tasawufnya al-Hallaj, difilsafatkan oleh Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Abdul Qadir Jailany dalam bukunya, al-Insan al-Kamil. Abdul karim Jailany, keturunan Sayyid Abdul Qadir jailany meninggal pada tahun 813 H atau 1410 M, di zaman mulai berdirinya Kerajaan Islam Melayu Malaka.

Disebutkanlah dalam kitab itu bahwa: Insan Kamil adalah Khalifah Allah swt, padanya tajalli ketuhanan, dan disetiap zaman ada saja insan tempat Allah swt mentajallikan diri-Nya. Sesudah nabi ialah wali, dan wali itu bertingkat-tingkat. Tingkatan yang paling atas Wali Quthub.

Oleh sebab itu, dijelaskan dalam permulaan Hikayat Cindeumato bahwa Raja Minangkabau itu bukanlah sembarang raja, ia berdiri sendiri, sama tajalli dengan alam. Dari sini terlihat jelas unsur Tasawuf. Hikayat ini karangan kaum sufi.

Kemudian diceritakan pula bahwa terjadi perperangan antara Raja Negeri Sungai Ngiang yang bernama Rajab Imbang Jaya dengan Raja Minangkabau karena memperebutkan Puteri Bungsu sehingga negeri Minang diserang oleh Sungai Ngiang. Minangkabau dibakar, rumah-rumah dimusnahkan dengan cermin terus. Pada waktu yang genting datanglah Kapal Nabi Nuh a.s dari langit menjemput Bundo Kanduang, Dang Tuangku dan Puteri Bungsu, Isteri Dang Tuangku. Berhenti perahu di depan istana besar dan dipersilakan mereka masuk ke dalam perahu. Setelah semua penumpang naik ke dalam perahu terbang ke langit. Membawa Bundo Kanduang dan seluruh anggota keluarga. Yang tersisa di bumi hanyalah Cinduemato sendiri, yang disuruh menyingkir ke Indrapura dan menjadi raja di sana.

Bertahun-tahun setelah Cinduemato menjadi tua, datanglah seekor burung yang turun dari langit. Burung Nuri Bayan, membawa putera-puteri di dala keranda kaca yaitu Sutan Alam Dunia dan Puteri Sri Dunia, anak dari Dang Tuangku dan Puteri Bungsu, untuk menjadi raja di Minangkabau.

Selain Raja Alam Minangkabau adalagi dua raja, yaitu Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Adalagi empat orang besar negara ; Bendahara di Sungai Tarab, Mangkhudun di Sumanik, Indomo di Suruaso dan Tuan Kadhi di Padang Gantiang. Satu lagi orang besar dalam perperangan, yaitu Tuan Gadang di Batipuh.

Nyata benar Hikayat Cinduemato ditulis setelah agama Islam masuk. Huruf yang dipakai huruf Arab bahasa melayu, langgam cara Minangkabau.

Ragulah orang menolak dongeng itu karena demikian indah susunannya, bagus khayalannya, pandai benar penyusunya sehingga bercampur aduk khayal dan fakta. Sebab Rajo Tigo Selo dan Basa Empat Balai memang ada. Kubur mereka masih dapat ditemukan, tetapi raja-raja yang berasal dari Indrajati, turun dari buah kelapa nyiur dan mengirab (mi’raj) ke langit dengan perahu nabi Nuh a.s memang tidak diketahui kapan datangnya, perginya dan kapan tahunnya. Tidak ada bukti arkeologis yang dapat ditemukan.

Kepercayaan Tasawuf Iran (Syiah) diseludupkan ke dalam legenda Minangkabau. Pengaruh mitos ini mulai memudar setelah pergerakan kaum paderi di awal abad ke-19. Gerakan Paderi telah menurunkan martabar dewa sekaligus wali itu ke dalam gelanggang kemanusiaan dan dituntut di hadapan makamah segala keturunan raja, yang tidak patuh mengerjakan hukum syari’at Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close