Gelar

Mei 1453 Muhammmad Al Fatih berhasil menaklukan Konstatinopel yang selama lebih 1.000 menjadi pusat kekuasaan Roma Timur atau Byzantium. Pasca kekalahan Kekaisaran Byzantium, Konstatinopel sepenuhnya dibawah kekuasan Kekhalifahan Islam Turki Ustmani. Nama Konstatinopel pun berubah menjadi Islambul, lambat laun berubah menjadi Istambul yang kita kenal sekarang.

Sejak itu jalur perdagangan rempah-rempah dari Negeri bawah angin (Asia Tenggara, termasuk Nusantara) menuju Eropa sepenuhnya dibawah kendali Turki Usmani. Akibatnya harga rempah melambung tinggi di daratan Eropa. Daging-daging terasa amis karena tidak mendapat pasokan rempah-rempah dari Malaka, Banten, Cirebon, Demak Tuban, Makasar, Maluku atau Banda. Konon khabarnya di Amsterdam harga sekilo merica lebih mahal dari sekilo Emas.

Untuk mengatasi masalah ini (harga rempah yang selangit) maka pada penghujung abad ke-15 Negeri Atas Angin (Bangsa Eropa) mencari rempah ke sumbernya lansung. Kapal Portugal dan Spanyol berlayar jauh hingga Nusantara. Pada tahun 1511 Portugal menaklukan Malaka, selanjutnya Banten, Demak, Mataram, Gowa hingga Ternate.

Lambat laun hubungan antara Raja-Raja Nusantara dengan Pedagang Eropa termasuk Belanda tidak lagi sebatas hubungan dagang atas dasar kerelaan masing-masing pihak. Demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar, mereka tidak hanya membawa uang tapi juga tentara disertai senjata.

‘Belanda minta tanah’, kata orang-orang tua terdahulu. Hawa nafsu mereka ingin menguasai seluruh rempah Nusantara mengantarkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat. Raja-raja dan Priyayi diberi kemewahan dunia, yang nanti dibayar oleh rakyat dengan cara menjual hasil rempah mereka dengan harga murah kepada kolonial. Jika ada satu-dua raja atau putera mahkota yang menghalagi keinginan mereka, itulah guna tentara dan senjata yang mereka bawa.

Raja atau Pangeran yang mengganjal rencana mereka akan diadu-domba terlebih dalu sebelum menggunakan senjata. Di Mataram V.O.C berhasil mempengaruhi Amungkurat I, Trunojoyo memberontak sebagai bentuk protes terhadap sikap Sultan Mataram, V.O.C mengirimkan bantuan kepada Amangkurat I guna menghadapi Trunojoyo yang didukung para Ulama dan cendikiawan. Akhirnya Trunojoyo terbunuh pada masa Amangkurat II. Di Kesultanan Banten awalnya V.O.C mengalami kesulitan menaklukan Sultan Ageng Tirtayasa. Pintu masuk terbuka ketika terjadi konfilk antara Sultan Ageng dengan anaknya, Sultan Haji. V.O.C membantu Sultan Haji dan mengirimkan pasukan melawan Sultan Ageng, hingga Sulten Ageng tertangkap.

Di Gowa pun demikian, V.O.C. membaca keinginan Sultan Hasanuddin untuk menguasai seluruh Sulawesi. Hasrat itu terbentur ketika Aru Pallaka Pangeran dari Bone ingin memerdekaan rakyat Bone dari Kesultanan Makassar. V.O.C yang selama ini kesulitan masuk untuk menguasai jalur perdagangan rempah di Sulawesi hingga Ternate mengulurkan tangan untuk membantu Sultan Hasanuddin melumpuhkan Aru Pallaka. Pada tahun 1667 ditandatangi Perjanjian Bongaya bagai kompensasi atas bantuan V.O.C dalam meringkus perlawan Aru Pallaka. Perjanjian antara Kesultanan Gowa yang diwakili Sultan Hasanuddin dengan petinggi V.O.C Cornelis Speelman. Meskipun berbunyi perjanjian damai namun isi sebenarnya adalah deklarasi kekalahan Gowa atas V.O.C serta pengesahan Monopoli oleh V.O.C untuk perdagangan rempah di pelabuhan Makassar yang sebelumnya dikuasai Kesultanan Gowa.

Hingga penghujung abad ke-16 kekuasan Raja-raja Nusantara yang tersisa hanyalah simbolik, kekuasaan seutuhnya ditangan Kompeni (Kolonial). Bagi mereka (Raja atau Sultan) mendapatkan kompensasi harta yang berlimpah dan kekayaan dunia dengan segala kemewahan serta selir. Bahkan Kompeni punya akses untuk menentukan Putera Mahkota. Tentu saja putera mahkota yang tidak selaras dengan rencana kompeni akan disingkirkan dengan berbagai cara.

Sejak tidak lagi punya kuasa penuh atas kerajaan atau kesultannya. Mereka (Raja atau Sultan) menambahkan gelar-gelar yang mentereng seakan-akaan menjulang tinggi ke angkasa dan mengakar dalam ke bumi dan lautan. Misalkan “Mangkubumi”, yang berarti memangku bumi, “Hamengku Bowono” berarti memangku benua, “Paku Buwono”, berarti paku atau pasak agar benua tidak goyah.

Mari kita tilik Gelar lengkap Sultan Mataram ; Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah. Silakan browsing betapa mentereng dan prestisius gelar ini. Senopati ; penguasa yang syah di dunia fana. Ing alogo; raja yang mempunyai kekuasaan menetukan perdamaian dan perperangan, atau panglima tertinggi dalam perang. Abdurahma sayiddan panotogomo berarti sultan dianggap sebagai penata, pemuka dan pelindung agama. Dan khalifatullah sebagai wakil Allah di dunia. Mungkin gelar ini megalomania namun bisa juga maksud lain.

Mari kita lihat pula gelar-gelar Kesultanan Banten ; Abul Fattah, yang berarti yang empunya kemenangan. Abun Nashar ; yang empunya kejayaan, Abul Fadh Muhammad Yahya ; yang empunya keutamaan, Abul Muhasin Muhammad Zainal Abidin ; yang empunya serba kebajikan, Zainal Abidin ; Perhiasan orang yang ‘abid, Abul Fattah Muhammad Syifa Zainul Arifin ; yang empunya kemenangan, Zainul Arifin ; perhiasan Orang Arif, Abu Nashr Muhammad Arif Zainul ‘Asyiqin ; Perhiasan orang-orang yang rindu kepada illahi dan seterusnya.

Nama-nama itu relatif baru dalam khasanah kerajaan Nusantara. Kemunculan gelar itu seiring dengan semakin kuat pengaruh kolonialsime di Nusantara. Jika kita mundur ke belakang ; nama-nama Raja Majapahit, Singosari hingga Mataram kuno relatif pendek dan singkat, seperti Hayam Wuruk, Gajahmada, Sanjaya, AirLangga, Raden Fattah, Sultan Trenggono, Raden Hadiwijaya, Sultan Hasanuddin, tanpa terkesan prestisus.

Kesan yang kita tangkap dari perubahan nama dan gelar-gelar ini adalah pada zaman sebelum kedatangan kolonial raja atau sultan memiliki kekuasan penuh (mutlak) atas negerinya masing-masing sehingga mereka tidak perlu lagi tambahan gelar atau nama-nama prestisius yang seakan-akan beliau gagah dan berkuasa. Sedangkan setelah kedatangan kolonial justeru sebaliknya ; kekuasaan mereka telah dilucuti. Mereka hanya supervisi bagi rakyat sedangkan kebijakan sepenuhnya dibawah kendali kolonial.

Namun jika melihat nama-nama dan gelar Sultan Banten terlihat pengaruh Tasawuf semakin kuat. Seperti ‘Asyiqin, Arifin, Abidin. Isyiqin (Isyiq) ; rindu adalah salah satu pokok ajaran Tasawuf.

Memang lazimnya seperti itu ketika dunia dan segala isinya termasuk kekuasaan telah dikuasai pihak lain, orang-orang kalah biasanya lari ke Tasawuf, masuk ke alam kebatinan, ‘asyik masyuk’ dengan pemilik alam semesta seutuhnya. Meneguk manis cinta-Nya. Begitu pula yang terjadi di Minangkabau, ketika Kaum Paderi, kekuatan kolonial menancap kukunya di Alam Minangkabau, masyarakat Minang larut mencari ketengan dalam tharikat, begitu orang minang menyebut Tasawuf
Bagaimana pula kiranya mengenai gelar-gelar petinggi adat di Minangkabau seperti ; Datuak Panungkek Ameh~Datuk Bertongkat Emas, Datuak Malenggang Di Langik~Datuk berlenggok di Langit, Datuak Basa Batuah~Datuk Agung Sakti, Datuak Rajo Intan~Datuak Raja Intan, dan lain sebagainya.

****
Al Albana, 03 Dzulkhaidah 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close