Kemarin

Kemarin kami berkunjung ke Museum Adityawarman untuk membayar utang (janji kepada) kepada Alwi ; Putera Tunggal Kami. “Ayah ngomongnya aja, anak² itu mainnya ke Museum, perpustakaan bukan ke Transmart atau Basko, giliran diajak nggak mau nemanin” ia menagih sejak beberapa beberapa hari lalu agar saya menemaninya ke Museum Adityawarman dan Perpustakaan Daerah Sumatera Barat.

Pukul 8 kami beranjak dari rumah, berdua saja karena bundanya memasak dan membereskan rumah karena siang nanti kami akan menghadari resepsi pernikahan kerabat di Pariaman. Seperti biasa, kami menuntaskan ritual minggu pagi dulu dengan sarapan Bubur Ayam di Tuga Simpang Aru. Beres perjalanan kami lanjutkan. Saya sengaja menempuh jalan melingkar melewati Kota Tua, Kawasan Pecinan ; masuk melalui Pasa Gadang, terus pondok hingga bentaran Batang Arau. Melewati bangunan-bangunan tua yang sebagian difungsikan sebagai gudang oleh Etnis China dan India. Melintasi Klenteng dengan yang didominasi warga merah, serta gereja. “Nak, ini lho kota Padang Aselinya pada zaman dahulu! kawasan rumah kita 100 tahun silam paling masih rawa-rawa atau semak belukar” saya menerangkan.

Tiba di pelataran museum, gerbang baru saja dibuka, petugas loket sedang berberes, kami pengunjung pertama untuk hari itu. Setelah mendapatkan karcis kami bersegera manaiki tangga menuju ruang audiotarium dan menyerahkam karcis kepada petugas. Sambil mengisi data di buku tamu, saya berbasa basi dengan petugas “Bagaimana, ramai pengunjung sejak liburan sekolah ini?”, “lumayan Pak ada peningkatan dari hari biasa, apalagi sejak dibangun Taman Pintar sebagai sarana edukatif untuk anak-anak” ia menerangkan.

“Iya, ketika 6 bulan lalu kami ke sini juga sudah ada Taman Pintar, bagaimana sudah ada penambahan sarana baru ?”, “Sudah Pak ada beberapa ” balasnya, “nanti kami akan coba” saya mengalihkan pembicaraan. “Waktu berkunjung ke sini 6 bulan lalu, saya melihat di etalase buku yang berada di tangga menuju ruang peraga bawah ada buku ‘Sejarah Pers Minangkabau’, saya berminat dengan buku itu, namun sayang saya tidak mendapatkan di Gramedia dan Sari Anggrek, barangkali di sini saya bisa mendapatkannya?”. “Kita dapat buku beberapa eksemplar buku itu dari penerbit, tapi sudah dibagikan kebeberapa orang, itu tinggal satu-satunya kita juga sedang mencari beberapa eksemplar lagi untuk koleksi di sini”, petugas itu menjelaskan dengan ramah. “Oh, begitu ya” saya menanggapi. “Tapi kalau Bapak mau ini ada ringkasan intisari dari buku itu” ia menjangkau sebuah laci di sebelah kanan dan menarik sebuah buku lalu menyerahkan kepada saya. “Ini gratis lho pak!” serunya. Saya mengulurkan tangan dan mengucapkan “terima kasih banyak yo diak!”, sambil tersenyum lebar. “Bapak Jurnalis?” Ia bertanya. “Bukan” jawab saya. “Atau peneliti?” cecarnya, “bukan juga”. “Terus buat apa buku semacam ini?” Ia penasaran. “Buat dibacalah, untuk pengetahuan saja, masa nggak boleh!” jawab saya.

Semalam saya menuntaskan buku ini, buku tipis hanya 48 halaman. Buku ini ditulis oleh Guti Asnan, Dosen Sejarah Fakultas Sastta Universitas Andalas. Buku ini merupakan makalah yang disampaikannya pada Seminar Internasional Communication and Media Studies Curriculum and Education ; Potency dan Prospects in Indonesia anda Malaysia pada 5-6 April 2007 di Padang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close