Beririsan Kepentingan Bukan Kesamaan Cita-Cita

Periode kedua Pers Minangkabau bermula pada awal 1900-an hingga Invasi Jepang yang fasis membabat habis seluruh surat khabar, kecuali yang mempropagandakan kepentingan Jepang di Indonesia. Inilah masa paling gemilang dalam sejarah Pers Minangkabau. Jumlah surat khabar di Minangkabau pada periode itu lebih dari 50. Secara garis besar ada 5 aliran pers saat itu ; (1) Pers yang menjadi toa suara kelompok Pembahuruan Islam disebut juga Kaum Mudo. Dipelopori oleh Syekh Abdullah Ahmad-pendiri PGAI dan Y.O.S Adabiah, Inyiak Doktor (Ayah Buya Hamka) mereka mendirikan Al Munir. Zainuddin Labay El Yunusi mendirikan Munirul Manar, Syekh Ibrahim Musa Parabek menerbitkan Al Bayan. (2) Surat Khabar yang menjadi corong Kebangkitan Adat Minangkabau. Mahyuddin St Marajo mendirikan Soeloeh Melayu dan Oetoesan Melajoe. Ada Berita Minangkabau, Berita Adat, Boedi Chaniago. (3) Pers yang menjadi propaganda faham Komunis ; Natar Zainuddin menerbitan Djago-Djago, H. Datuak Batuah dan Djamaluddin Tamin mendirikan Pemandangan Islam. (4) Surat Khabar yang menjadi corong suara ‘Kaum Tuo’ ; Kelompok Islam yang cenderung konsorvatif dan berpegang pada praktek keagamaan lama, jumud dan anti pemurnian, Sirajuddin Abbas sebagai ikon tokoh Perti menerbitakan Arrad Wal Mardud. Dan (5) Tentu saja pers yang menjadi corong propaganda pemerintah Kolonial Belanda seperti Sumatera Bode.

Dalam praktiknya, masing-masing surat khabar tidak hanya menyuarakan gagasan yang menjadi cita-cita meraka. Misalnya Oetoesan Malajoe, merupakan surat khabar kaum adat dalam menyampaikan pikiran dan gagasannya yang kala itu tengah berhadapan dengan kelompok Islam Ulama Kaum Mudo, Ortoesan Malajoe memperlihatkan keberpihakan kepada pemerintah kolonial Belanda.

Doenia Achirat, surat khabar terbitan For De Kock Bukittinggi dengan pimpinan Sain Al Maliki. Doenia Achirat yang awalnya beraliran Islam, berkoalisi dengan aliran komunis, karena sama-sama anti kolonial (penjajahan).

Surat Khabar Djogo-Djago dan Pemandangan Islam yang merupakan corong paham komunisme, juga tak jarang menyuarakan kepentingan umat islam. Begitu pula media ‘Kaum Tuo’ meskipun samar, terlihat lebih condong kepada pemerintah kolonial dibanding kepada kelompik Islam ‘Kaum Mudo’.

Sejarah Pers ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk bekerjasama atau berkoalisi (bahasa kekiniannya) tidak selalu didasarkan oleh cita-cita yang sama namun lebih sering karena kepentingan yang beririsan.
Cita-cita sama tapi kepentingan berbeda kecil kemungkinan berkoalisi, namun cita-cita berbeda kepentingan beririsan, inilah lebih sering menjadi perekat hubungan mereka.

Jika belajar politik dari sejarah seperti ini tentu tidak mudah diombang-ambing, diaduk-aduk perasaan oleh aktraksi politisi belakangan ini. Pasti tidak ada pemujaan berlebihan terhadap Rocky Gerung, Abu Janda, Jonru, Denny Siregar, Ahok, Surya Paloh, Ali Muchtar Ngablin, La Nyala, Andy Arif, Ferdinand Hutahean, Surya Prabowo, dan siapapun itu, termasuk Prabowo atau Jokowi sekalipun.

#belajarpolitikdarisejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close