Tak Mau Kalah

Dalam banyak hal dia ingin selalu sama dengan saya, sebanyak dia mengambil posisi berseberangan (berbeda) dengan saya. Dalam berpakaian kami, sama-sama konservatif, tidak mengikuti yang kekinian apalagi yang nyentrik. Setiap piala dunia kami juga sama-sama menjagokan Jerman. Dulu ketika dia usia 6 tahunan, saya membeli celana jeans dengan dengan pengait full kancing tanpa resleting, ia juga menginginkan celana yang sama. Saya menyakinkan dia tidak ada celana untuk anak-anak seperti itu. Dia suka sandal jenis slipper daripada flip (jepit) sama seperti saya. Tempo hari saya cerita bahwa tenggorakan dan otot yang saya miliki memang tidak didesain Allah untuk mengeluarkan suara merdu dan berjoget. Dia buru-buru menimpali ”Saya juga”. Beberapa waktu kemudian dia kedapatan sedang bernyanyi sambil joget dan belakangan dia semakin sering bernyayanyi.

Dalam banyak hal kami banyak persamaan, sebanyak kami berseberangan dalam hal lain. Dia suka film fiksi ilmiah, saya suka drama dan kolosal. Dia selalu merendahkan kebudayaan India yang saya gemari karena orang India tidak punya beladiri khas serta tidak cakap olahraga alasannya, sebaliknya dia tergila-gila kebudayaan Jepang karena Manga dan Kartun dan beladiri Karate dari negeri Sakura itu. Dia menghafalkan beberapa kosa-kata bahasa Jepang. Pernah saya menyarankannya untuk memilih WHY Penemuan Arkeologis Yang mengguncang Dunia, malah dia memilih WHY Penemuan Sains Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Meskipun sekolah dan kuliah di jurusan Eksak namun saya lebih tertarik ilmu sosial humaniora, sedangkan dia sangat yakin memilih jalur sains. “Ilmu sosial dan humaniora tidak memberikan konstribusi untuk peradaban, Sains yang berguna untuk kehidupan manusia” kilahnya. Ia mengagumi James Watt, Faraday, Alfa Edison, Graham Bell, Einsten, Stepan Hawking, Elon Musk yang memimpin Tesla untuk menciptakan mobil terbang. Dia juga mendesak saya untuk menjelaskan teori relativitas Einstein dan Fisika Kwantum. “Bagaimana mungkin, ayah saja tidak paham” jawab saya singkat.

Minggu kemarin saya deman. Deman ringan, sendi terasa ngilu, mata terasa pegal, pundak terasa berat. Suhu tubuh sedikit naik. Saya tiduran di kamar dengan memejamkan mata. Dia tidur disamping saya melingkarkan tangan kecilnya merangkul leher saya.
“Ayah, buka mata! kata ayah demamnya cuma sedikit, tapi kok mata ditutup terus”.
“Ayah, memang lebih nyaman menutup mata meskipun tidak sedang ingin tidur”.
“Tapi, benar? Ayah demamnya sedikit” ia berusaha menyakinkan saya dan dirinya sendiri.
“Iya, ayah nggak apa-apa, paling suhu tubuh ayah masih 38°, insyaallah besok sudah segar” saya berusaha menentramkannya dengan mata masih merem.

Alhamdulillah senin siang saya sudah segar seperti sediakala. Ia senang, terlebih lagi saya. Kemarin (selasa) ia deman di sekolah. Padahal pagi saat saya antar tidak terlihat gejala dia akan sakit. Rasanya bukan pula menular dari saya, karena saya tidak pilek dan batuk hanya masuk angin ringan.
Barangkali dia sekadar ingin selalu sama dengan saya. Saya sakit dia pun ikutan.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close