Relasi Islam dan Kekuasaan

Raden Paku yang masyur dikenal dengan nama Sunan Giri merupakan salah seorang dari walisongo. Sunan Giri adalah putera dari Maulana Ishak-sahabat Maulana Malik Ibrahim. Mereka penyiar Islam yang pertama di tanay Jawa.

Setelah Sunan Ampel melihat kedua muridnya ; Sunan Bonang (Puteranya) dan Sunan Giri mendapat pelajaran yang cukup darinya, maka disuruhlah kedua murid ini berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Namun mereka singgah terlebih dahulu di Pasai. Menuntut Ilmu kepada ulama di sana. Di sana Sunan Giri bertemu dengan ayahnya.

Sewaktu kecil ditinggal oleh ayahnya yang berangkat ke Pasai untuk memperdalam ilmu agama Islam, ia dititipkan kepada seorang perempuan yang kaya raya, Nyi Gede Maloka. Setelah tumbuh besar ia berangkat ke Ampel belajar kepada Sunan Ampel. Ia seumuran dan sama-sama belajar dengan putera Sunan Ampel yaitu Sunan Bonang.

Setelah mempelajari Islam kepada Sunan Ampel dan merasa cukup. Atas perintah Sunan Ampel, Sunan Giri dan Putera Sunan Ampel yaitu Sunan Bonang disuruh berangkat melaksanakan ibadah haji ke Mekkah sekaligus untuk memperdalam ilmu agama. Namun mereka mampir dulu di Pasai. Di sana Sunan Giri bertemu dengan Ayahnya, Maulana Ishak. Ia dan sahabatnya Sunan Bonang juga belajar kepada beberapa ulama Pasai.

Pada saat itu, banyak Ulama keturunan India dan Persia membuka pengajian di Pasai, kepada ulama itulah Sunan Giri dan Sunan Bonang belajar Tasawuf. Kedua sahabat itu kembali ke Tanah Jawa.

Di Jawa mereka menyebarkan Islam dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Sunan Bonang memasukan pengaruh Islam kepada kalangan atas, ke dalam Keraton Majapahit, sedangkan Sunan Giri mengajarkan Islam kepada rakyat kalangan bawah, jelata. Ia membuka pengajaran Islam di Giri. Jika Sunan Bonang menanamkan pengaruh Islam ke dalam Jawa sedangkan Sunan Giri menyebarkan Islam ke luar Jawa. Sunan Giri mengirimkan mubaligh ke Lombok hingga Ternate.

Siasat Sunan Bonang memberikan didikan Islam kepada Raden Fattah, Putera Raja Majapahit Raden Brawijaya V berhasil. Yang kemudia Raden Fattah mendirikan kerajaan Islam yang pertama di Demak. Kesultanan Demak. Sunan Bonang menyebarkan Islam melalui jalut politik-kekuasaan sedangkan Sunan Giri menyebaran Islam dengan siasat mendekati Masyarakat.

Cita-cita Sunan Bonang mendirikan kerajaan Islam berhasil. Muridnya Raden Fattah mendirikan Kerajaan Islam Demak. Namun harapannya agar Demak menjadi pusat Islam selama-lamanya sirna. Hanya bertahan hingga tiga raja. Adipati Pajang, Adiwijoyo berhasil merampas tahta dan memindahkan pusat kerajaan ke Pajang pada 1546. Dari Pajang tahta dirampas pula oleh Ki Gde Pamanahan dan pusat kekuasaan dipindahkan ke Mataram. Sampai di saja (Mataram) karena ambisi Mas Ransang (Sultan Agung) menyatukan seluruh Tanah Jawa dibawah kekuasaannya bercampurpah ajaran Islam dengan ajaran Hindu dan Budha.

Sedangian kedudukan Giri teguh sebagai pusat keagamaan (Islam) tidak ikut campur dalam politik kekuasaan. Pewaris Sunan Giri mempertahankan Giri pusat agama Islam. Melihat keislaman Mataram telah berubah (bercampur dengan ajaran Hindu-Budha), Giri bergabung dengan koalisi Adipati Surabaya, Adipati Madura berontak melawan Mataram pada 1615. Hingga 1625 Mataram belum juga bisa menumpas pemberontakan Adipati-Adipati dari Jawa Timur ini. Namun akhirnya Sunan Giri berhasil ditangkap dan dibawa ke Mataram, kemudian dikembalikan ke Giri. Gelar kebesarannya diturunkan dari Sunan menjadi Panembahan.

1654 Raja Mataram, Sultan Agung mangkat dan digantikan oleh puteranya ; Amungkurat I. Amangkurat tak sehebat Ayahnya yang keras menantang V.O.C. ia telah berhasil ‘dijinakan’ oleh Kompeni. Sehingga saat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo dari Madura yang dibantu oleh Kareang Galesong dan Giri serta Adipati-adipati dari Jawa Timur pada 1675, Mataram meminta bantuan Kompeni untuk menumpas.

Dengan bantuan pasukan Kompeni yang datang dari Batavia Trunojoyo terkepung di utara Gunung Kelud. Kapten Jonker, seorang putera Ambon-Muslim) yang bekerja sebagai prajurit Kompeni berhasil membujuk Trunojoyo untuk menyerahkan diri. Dalam keadaan terjepit Trunojoyo mengirimkan utusan membawa kerisnya kepada Kapten Jonker sebagai tanda menyerah. Ketika menyerah ia berkata,

Saya serahkan diriku kepadamu, Kapten. Karena aku lihat engkau seorang ksatria yang teguh janji. Aku hanya menyerah kepadamu, bukan kepada Susuhunan (Raja Mataram), engkau harus memperlakukan aku sebagai tawanan perang”

Awalnya Jonker menyakinkan akan meneguhi janjinya. Tapi karena desakan kompeni ia menyerahkan Trunojoyo kepada kompeni lalu diserahkan kepada Amangkurat II. Beberapa hari kemudian dihadapan majelis Amungkurat II menghujamkan kerisnya ke tubuh Trunojoyo pun tewas.

Adapun Kapten Jonker kecewa tawanannya dibunuh, ia berharap hukuman untuk Trunojowo hanya diasingkan. Sejak itu Kapten Jonker sakit hati kepada kompeni dan Mataram yang telah melakukan tindakan pengecut dan tak beradab. Kemudian hati Kapten Jonker juga dihukum mati karena ikut dalam komplotan menantang Kompeni di Batavia.

Giri yang ikut membantu Trunojoyo pun diserang besar-besaran, bahkan Giri disebut sebagai latarbelakang pemberontaian karena memprovokasi agar Trunojoyo melawan kepada Mataram. Pangeran Giri, keturunan terakhir Sunan Giri ditahan dan dihukum mati. Beserta beliau 5.000 Kyai dan Santri dihukum gantung dihadapan khalayak ramai. Sejak itu jangan ada lagi yang menyebut Islam yang bersih, tauhid yang khalis (murni).

Dari kisah penaklukan Giri kita bisa mengambil ibroh bahwa ; (1) Proses ‘Pe-Nusantaraan Islam’ sudah berlansung sejak lama, tidak berselang lama sejak masuknya Islam ke Nusantara terutama Tanah Jawa, (2) Proses ‘Penusantaraan’ Islam berkait erat dengan politik-kekuasaan, (3) Pihak asing, pada era Kerajaan dan Kesultanan tentu saja kolonial dan zaman sekarang imperealis modern (Kapitalis) terganggu dengan adanya Islam yang lurus dan tauhid yang murni, maka dari itulah mereka baik lansung maupun secara tersembunyi berperan penting secara baik material ataupun moril dalam proses Islam Nusantara.

****

Al Albana, Andalas 28 Dzulhijah 1440 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close