Ceking

Sejak pertengahan 90-an, waktu masih mahasiswa, bahkan hingga tahun 2007 sebelum menikah, saya menggunakan celana nomer 27, itupun mesti dilapisi celana pendek di dalam sebelum mengenakan pantolan atau jeans. Meskipun tidak sixpack badan rata tanpa tonjolan lemak di perut. Dengan rambut agak panjang lurus, namun tidak sepanjang rambut driver go jek di iklan terbaru (go food). Badan tanpa lemak, dengan bobot 46 kg, sungguh tidak nyaman dan mengerikan setiap kali melintasi anjing. Bagi anjing saya tampak mempesona, santapan dengan tulang-belulang yang menggairahkan bagaikan jerangkong hidup.

Ketidaknyaman dan kengerian setiap kali berpapasan atau sekadar melewati ‘guk-guk’ menuntun saya untuk mencari solusi agar bobot badan naik, target minimal 55 kg, cukuplah. Dan karena pada masa itu penggunaan mbah Google belum ada (belum seperti saat ini) tentu saja langkah yang saya tempuh dengan cara bertanya-tanya kepada sahabat-sahabat yang bertubuh ‘subur‘ agar bisa tumbuh mekar seperti mereka. Seorang sahabat memberi kiat seperti ini ; (1) Kurangi begadang, alias lipat gandakan tidur, (2) perbanyak makan disertai ‘ngemil’, dan (3) Berhenti merokok. Melihat badannya ‘subur’ saya lansung percaya sepenuhnya kepada kiat yang dibagikannya.

Setelah kami berpisah dan kembali ke rumah masing-masih, sepanjang perjalanan pulang saya pikir ulang kembali trik yang diberikannya ;

(1) Perbanyak tidur. Alm ibu saya pernah bilang “Si Al, lalok umpamo pambali bareh dek nyo”– {si Al, tidur ibarat mata pencaharian bagi dia{–, karena setiap kembali ke rumah setiap akhir pekan semasa kuliah, saya lebih banyak di kamar, sedikit sekali beraktifitas di luar kamar apalagi di luar rumah. Begitupun saat merantau ke Batavia dan bekerja, setiap akhir pekan saya tuntaskan untuk membayar utang tidur akibat sering lembur di hari kerja. Malas berpergian.

(2) Perbanyak makan dan ‘ngemil’. Soal makan meskipun tidak terlalu banyak namun tidak bisa juga dibilang sedikit. Pas, begitu. Tapi saya memang tidak pernah ‘ngemil’. Bahkan saya heran melihat jejeran toples di meja rekan-rekan kantor dahulu, terutama perempuan, saya jarang sekali tidak mendapati toples berisi cemilan di meja kerjanya. Ketika ditawarin cemilan, “makan agar perut tidak lapar, kalau sudah kenyang buat apalagi ‘ngemil” saya menolak tawaran. Belakangan saya terasa ‘mati gaya’ ketika malam hari di kamar tidak ada cemilan. Untuk mengatasi itu saya sering mengingatkan isteri akan perihal stok cemilan.

(3) Berhenti merokok. Meskipun saat itu saya masih menjadi ‘pengisap’ saat ditawarkan rokok oleh teman, tapi saya bukan perokok, apalagi perokok berat. Karena saya memang jarang sekali membeli apalagi membeli rokok.

Alhasil, semua trik dari sahabat ini telah saya amalkan selama ini. Toh tubuh saya masih ceking dan sangat menggoda bagi anjing. Salah satu amalan yang saya lakukan untuk menaikan bobot badan yaitu mengkonsumsi susu Appeton Weight Gain. Namun saya menghentikan setelah mengkonsumsi 3 pack. Selain tidak terlihat hasilnya juga harga yang terlalu mahal.

Sampai saya lupa bahwa saya tidak memikirkan tentang berat badan lagi, di situlah bobot mulai merangkak naik. Dari 46 kg, tahu-tahu sebelum Donor darah pada sebuah acara amal tahun 2007 jarum timbangan berhenti di angka 57 kg. Saya heran, tentu juga senang sekali. Ternyata waktu memang obat yang paling mujarab, selain menyembuhkan luka bagi yang patah hati, mengubah ulat menjadi kepompong kata ABG, merubah Kalio menjadi Rendang jika dipanaskan di atas kompor, ternyata waktu juga bisa menaikan berat badan.

Oktober 2008 saya menikah. Ketika itu berat 58kg. Pertengahan 2009 isteri hamil. Setiap bulan kontrol ke Dokter Kandungan, tentu saja saya selalu menemaninya. Sesuai prosedur, perawat melakukan penimbangan berat dan mengukur tensi sebelum konsul dengan dokter. Setelah ia turun dari timbangan saya naik ke atas timbangan. Sebagaimana ibu hamil lazimnya berat badannya selalu naik setiap kontrol, itu wajar. Yang aneh bobot saya juga bertambah setiap bulan (setiap kali kontrol ke dokter). Kontrol terakhir sebelum putera kami lahir jarum timbangan saya menyentuh angka 67kg. Barangkali sebagai bentuk empati atau sebagai bentuk tanggung jawab, sehingga bobot saya terus merangkak naik.

Saat ini timbangan digital ini berhenti di angka 70,0 kg. Saat turun dari timbangan tadi pagi , saya berandai-andai kira-kira berhenti pada angka berapakah timbangan digital ini seandainya isteri saya sampai hamil 3 hingga 4 kali. Dan Betapa aduhainya perut ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close