Bukan Sepakbola Rugby Barangkali

Saya menyesal saat menonton cuplikan berita tentang kekalahan Tim Nasional Sepakbola Indonesia atas Malaysia dengan skor tipis 2-3 tadi pagi. Penyesalan saya bukan atas kekalahan. Sudah biasa kok, akan tetapi karena saya tidak menonton pertandingan ini yang disiarkan lansung. Apalagi kedua tim menyajikan permainan memukau yang menghibur penonton.

Sudahlah tak perlu menyesal dan tak perlu juga menganalisis. Apalagi sampai menimpakan tuduhan yang tak elok kepada pihak lawan. Wasit tidak adil misalnya. Tak perlu juga rusuh untuk mempertontonkan nasionalisme tingkat dewa kita, karena Agustus telah berlalu. Indonesia sudah bermain bagus, percaya diri, kompak begitupun Malayasia (meskipun saya menonton hanya lewat cuplikan video di youtube). Satu hal yang membedakan selain hasil akhir yaitu Malaysia punya percaya diri memilih pelatih lokal ; Tan Ceng Hoe sedangkan kita (maksudnya pengurus PSSI) sudah terlanjur keranjingan Pelatih Import sejalan halnya dengan kebijakan import pemerintahan kita selama ini. PSSI lebih percaya memilih Simon Mc Menemy daripada menunjuk pelatih lokal.

Selain tak rela meninggalkan Tukang Ojek Pangkalan yang lagi seru-serunya untuk mengganti chanel mononton Indonesia vs Malaysia, saya memang ‘lelah’ dengan prestasi sepakbola Indonesia yang tak kunjung memenuhi ekspektasi rakyat Indonesia. Padahal antusias masyarakat Indonesia terhadap Sepakbola luar biasa. Sekolah-sekolah sepakbola menjamur, tidak sedikit orang tua yang mencomot nama pemain sepakbola top Eropa untuk nama putera mereka yang baru lahir. Perbincangan tentang sepakbola di medsos tak pernah sepi. Antrian tiket yang membludak atau permainan calo saat pertandiangan penting Tim Nasional adalalah pemandangan yang biasa. Belum lagi keresuhan demi kerusuhan bahkan hingga korban jiwa merupakan bukti shohih bahwa minat orang Indonesia terhadap sepakbola sangat tinggi. Ironis memang prestasi Tim Nasional Indonesia bukan meningkat malah menukkik tajam, jika dibandingkan dekade 80-90. Belum lagi kisruh kepengurusan PSSI yang berlarut-larut. Jika jikaa 2-5 tahun masih bisa ditolerir, bahkan ini sudah belasan tahun. Sibuk bereantem. Saling sikut. Saling klaim. Kudeta-mengkudeta.

Saking ‘lelah’ saya sampai berkesimpulan tanpa riset ; Endonesia memang tidak berjodoh dengan sepakbola. Saatnya kita beralih ke cabang olahraga lain; Kabadi. Meskipun kita banyak dipengaruhi kebudayaan negeri lembah Hindustan ini, tapi olahraya yang baru saja menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada Asian Games 2018 lalu, raya belum busa menyalurkan energi orang-orang Endhonesia belakangan. Rugby barangkali. Cocok. Olahraga yang menggabungkan kekuatan, kecepatan, ketangkasan dan dendam kesumat..

Bagaimana?

****

Al Albana–Berniat menjadi Atlit Kabadi namun ingin beralih ke Rugby–

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close