Bakwan ; Simetris dan Presisi

Saat menetap Batavia, saya jarang makan Bakwan. Bukan karena saya punya standard kesehatan dan higienis yang tinggi terhadap makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan berbagai penyakit. Tidak. Tidak biasa saja. Bagi saya biasa saja mengkonsumsi gorengan pinggir jalan ; Tahu isi, combro singkong, ubi, pisang goreng, dan lain sebagainya kecuali Bakwan.

“Ayah suka bakwan kan?” tanya isteri saya pada suatu minggu pagi beberapa tahun silam saat kami masih menetap di Batavia. Pagi itu kami makan Nasi Uduk di pojok Pasar Arinda, Pondok Aren. Barangkali ia penasaran melihat saya tak tak menyentuh bakwan.

“Suka” jawab saya.

“Tapi kok nggak pernah makan bakwan, selalu makan tahu isi, setiap kita mampir di sini?, Waktu kuliah dulu bukannya Ayah pernah ikut kami makan Gado-Gado di Gang Mela, di sana Bakwannya enak bangat”

“Iya, pernah beberapa kali, Bakwannya mantap pakai udang dan mie kuning di atasnya” jawab saya.

Kenapa di Jakarta tak pernah makan bakwan?”

“Malas makan bakwan di sini bentuk bakwannya aneh, tidak bulat seperti di Padang”

Dari kecil hingga remaja, saya mengenal hanya satu bentuk bakwan meskipun beraneka varian rasanya tergantung adonan pembuatnya. Bagi saya bentuk bakwan ; bulat cekung, bagian bawah licin, pinggiran membentuk lingkaran sempurna tanpa gerigi sedangkan bagian atas berjejer mie kuning kadang diberi toping udang.

Sedangkan yang saya temukan di Batavia bakwan bentuk tidak teratur, sudah pasti tidak bulat. Bundar juga bukan. Tidak pula persegi apalagi bujursangkar. Pinggiran bergerigi. Sudah pasti bentuknya tidak simentris apalagi presisi. Soal rasa saya tidak tahu. Barangkali lebih enak dari pada bakwan yang pernah saya makan ketika di Padang dahulu atau saat ini. Bisa jadi lebih enak dari pada bakwan yang saya dapati di dapur pagi tadi.

Makanlah Gorengan!

Kenapa?

Dari setiap gigitan bakwan yang anda kunyah, anda telah turut serta “membangun perekonomian”. Saat membeli bahan bakunya ; tepung, minyak goreng, kol, mie, penyedap, udang anda telah berperan serta ‘menghidupi’ penjual bahan dan distributor barangkali juga importir, tentu juga petani yang menanam. Malas repot memasak sendiri ; beli sama tukangan gorengan di warung atau pinggir jalan. Anda telah memperpanjang nafas penjualnya, barangkali penjual tengah ‘ngap-ngap’ nafasnya akibat tunggakan uang komite putera-puteri mereka yang menunggak hampir setahun.

Lalu apalagi?

Kolesterol naik. Ada dokter dan paremedis yang turut serta kita pastikan ijazahnya berguna. Bagi pemegang kartu BPJS anda telah berpartisipasi membuat direktur BPJS selanjutnya Rini Sumarno mengeluarkan seluruh ilmu Ekonomi dan kemampuannya.

‘Ayo, makan gorengan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close