Tasawuf dan Filsafat

Secara sederhana Tasawuf yaitu laku pembersihan jiwa. Tujuannya mendekatkan diri kepada sang Khalik. Jalan yang ditempuhnya ialah jalan cinta, asyik-masyuk, rindu-dendam. Menyelami kekerdilan diri sendiri dan kebesaran Ilahi. Boleh disebut juga bahwa Tasawuf lebih mengandalkan rasa dibanding akal (rasio). Sebaliknya Filsafat berdasarkan kepada pikiran. Injakan dalam menelaah segala sesuatu adalah rasio. Filsafat dipenuhi oleh tanda tanya ; apa?, bagaimana?, kenapa? Sedangkan Tasawuf tidak mempertanyakan. Menerima apa adanya.

Dan oleh karena itu, mereka yang tidak menyelami Tasawuf tidak akan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para sufi. Bahkan bagi para sufi pun tidak bisa mewakilkan gambaran perasaan mereka dengan kata-kata. Luapan perasaan itu melebihi kemampuan kata-kata. Perasaan tidak tunduk kepada susunan huruf yang membentuk kata, selanjutnya kalimat paragraf serta cerita. Kata-kata hanya mampu menampung sedikit saja yang mereka rasakan.

Maka menjadi tinggilah martabat Tasawuf, jika saja para penyelam Tasawuf juga menguasai filsafat. Mengkombinasikan antara ‘rasa’ Tasawuf dengan ‘rasio’ filsafat. Itulah yang dilakukan Imam Al Ghozali. Ketika Islam mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 hingga ke-14 ilmu pengetahuan berkembang, filsafat tinggi, Tasawuf mengiringi. Namun ketika Islam runtuh pasca penyerangan bangso Mongol merosot peradaban Islam, Tasawuf dan Filsafat pun meredup.

Pada suatu hari bertemulah Ibnu Sina seorang ahli filsafat dengan Abu Sa’id-seorang ahli Tasawuf. Kedua berbincang dengan asyik. Setelah keduanya berpisah, ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sina bagaimana kesan beliu terhadap Abu Sa’id, “Saya ketahui apa-apa yang dia rasakan” jawab Ibnu Sina. Sebaliknya seseorang mendatangi Abu Sa’id menanyakan kesan beliu tentang Ibnu Sina, “Saya merasakan apa-apa yang yang dia pikirkan” jawab Abu Sa’id.

Buya Hamka menuliskan dalam bukunya Perkembangan Pemurnian Tasawuf bahwa dua orang pentolan Muhammadiyah yaitu K.H. Mas Mansur yang mempunyai pengetahuan yang sangat luas tentang worldview Islam dan satu lagi A.R Sutan Mansur Kakak ipar Buya Hamka yang sangat kuat perasaan keislamannya. Pendeknya jika K.H. Mas Mansur bisa disebut seorang filsuf Islam sedangkan A.R. Sutan Mansur seorang sufi, begitulah kira-kira. Jika kedua orang ini berjumpa ; Sutan Mansur akan mengambil notes untuk mengutip hikmah yang diucapkan K.H. Mas Mansur, sebaliknya saat A.R Sutan Mansur yang bicara K.H. Mas Mansur akan memejamkan mata untuk meresapi ucapan yang keluar dari mulut A.R Sutan Mansur.

Sesungguhnya demikian adalah beberapa cabang ilmu yang sama-sama dimasuki oleh Tasawuf dan Filsafat yaitu ethika (akhlak) , Estetika (keindahan), Ilmi Jiwa (psikologi) dan yang utama Metafisika (yang tak terlihat). Meskipun keduanya (Tasawuf dan Filsafat) mendekati dari jalur masing-masing.

Pada tempat inilah Imam Al Ghozali berdiri ; mengembalikan Tasawuf dan Filsafat ke dalam Syariat Islam. Menjewer Filsafat yang kebablasan dengan Tasawuf sekaligus menyentil Tasawuf dengan filsafat.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close