[M]andeh

Kemarin sepupu saya Novi Merlin tapi tepatnya keponakan, karena Neneknya (dari garis ibu) adik kandung Abak–panggilan saya untuk Bapak– membagikan foto kenangannya bersama Andeh– panggilan saya untuk adik perempuan Abak–saat mereka bertamasya di Dufan pada tahun 1985. Photo itu mengimpresi saya untuk mengenang kembali Andeh yang telah berpulang sejak 3 tahun silam tepatnya 1 Ramadhan 1436 H.

Dahniar namanya. Saya memanggilnya Andeh. Andeh Nian. Biasa lidah Minang tidak mengenal suku kata terakhir berakhiran ar. Tetangga memanggilnya Etek Nian. Bagi saya Andeh merupakan Abak dalam versi perempuan. Tidak hanya secara fisik, karakter mereka pun hampir sama. Sama-sama punya percaya diri tinggi, tegas dan berani.

Bagi etnis Minang yang matriakat, lelaki yang sudah menikah akan tinggal di rumah isterinya. Di rumah keluarga isteri seorang lelaki disebut Sumando. Meskipun begitu tidak memutus hubungan seorang lelaki Minang dengan keluarga induknya ; dengan orang tua dan saudara perempuan yang tinggal di rumah induk. Setidaknya seminggu sekali. Biasa setiap Jum’at. Selepas sholat Jum’at di Masjid yang tak jauh dari rumah Andeh, Abak mengajak saya mampir ke rumah Andeh, rumah masa kecil Abak. Sekitar 200 m dari masjid arah selatan, rumah kedua sebelah kiri setelah Jembatan Batang Sariak

Saya tidak mengenal nenek (ibu dari Abak) karena Iyak, begitu saudara-saudara saya yang lebih besar menyebut beliau telah meninggal sebelum saya dilahirkam. Hanya Andeh yang saya dapati di rumah masa kecil Abak. Andeh tinggal sendiri karena semua anaknya sudah besar dan menikah, merantau ke Kota. Suaminya pun sudah meninggal sejak lama. Jika malam hari Andeh ditemani oleh tetangga dengan senang hati. Karena Andeh seorang dermawan yang senang memberi. Itu karena anak-anaknya lumayan sukses dan mengirim uang setiap bulan.

Hampir setiap diajak Abak ke rumah Andeh selepas sholat Jum’at kami selalu makan. Andeh menyiapkan makan siang. Lauknya paling sering Asam Padeh. Selesai makan Abak berbincang-bincang dengan Andeh. Menanyakan keadaan dan kesehatan masing-masing, menanyakan khabar berita keponakannya (anak-anak Andeh) yang berada di perantauan. Setelah itu Abak ke turun melalui dapur untuk melihat keadaan ladangnya yang percis di belakang dapur rumah Andeh. Abak menanam cabe, kacang panjang kadang jagung. Sebelum kami kembali pulang Abak kadang menyelipkan beberapa lembar uang untuk Andeh. Pernah juga saya melihat Abak membentak Andeh “kau, anak bamanjo-manjoan bana, anak alah gadang jan disuok’an jo lai” hardik Abak.

Di rumah Andeh saya senang duduk di jendela yang menghadap ke selatan, duduk menjuntaikan kaki sambil melemparkan pandangan ke hamparan sawah dan menikmati hembusan angin.

Sependek pengetahuan saya Abak sangat sayang kepada Andeh. Pertengkaran mereka hampir selalu masalahnya karena Andeh terlalu memanjakan anak-anaknya. Abak tidak suka itu. Barangkali karena Andeh adik perempuan satu-satunya. Saya tidak tahu pasti berapa orang Abak bersaudara. Adeh dan Pak Uncu Yakub adalah saudara kandung Abak. Setelah itu saya hanya mengenal Pak Adang Abdul Rozak, Pak Uniang Damang, Pak Amir. Ketiganya saudara Abak seibu tapi beda bapak. Sedangkan saudara Abak sebapak beda ibu ada Pak Ali Hasan, ketika SLTP saya pernah diajaknya Abak berkunjung ke rumahnya di Medan. Abak pernah bercerita kalau Bapaknya memiliki beberapa isteri dan beberapa anak dari isteri yang berbeda. Namun yang saya kenal hanyalah Pak Ali Hasan. Dulu saya pernah menyangka bahwa Pak Tanggi adalah saudara Abak satu Bapak beda ibu karena saking akrabnya mereka. Saya pernah diajak beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Pak Tangi sering datang ke rumah. Abak hanya menyebut “iko Apak, kakak Abak” ia memperkenalkan. Tapi belakangan baru saya tahu bahwa mereka sepupu (bapak mereka saudara kandung). Begitulah orang-orang tua kita terdahulu, untuk menjaga keakraban memperkenalkan kerabatnya hanya dengan menyebut “saudara” tanpa menjelaskan hubungan secara detail.

Saya dapat menangkap kesedihan dan kekecewaan Abak, setiap kali ia menceritakan penderitaan dan kesangsaraan adik perempuan satu-satu yang sangat disayanginya disia-siakan oleh suaminya. Beberapa kali Abak menceritakan kepada bahwa dahulu sekali, ketika mereka masih muda di Tembilahan. Abak mendapati Andeh di sebuah gubuk yang tak pantas ditempati akibat suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Lalu Abak membawa Andeh-adik kesayangannya-ke tempat yang lebih pantas dan memberikan kehidupan yang lebih baik. Syukurlah penderitaan Andeh masa muda sudah dibayar tuntas oleh Anaknya Ajo Dirman. Andeh selalu diajaknya dimanapun Ajo Dirman bertugas atau berlibur dan bersenang-senang. Tidak hanya dalam negeri mereka juga bolak-balik ke luar negeri.

Satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang : Setiap lebaran datang, jika Andeh merayakan di Kampung alias tidak sedang di Jakarta . Sama seperti orang-orang kampung lainnya yang sudah menjadi kebiasan merayakan lebaran dengan ‘Marandang’ (memasak rendang) sehari sebelum lebaran. Ada dua tempat pemotongan Sapi di Kampung kami, Kanagarian Kuranji Hilir ; Pasar Sungai Limau dan Surau Lubuak. Andeh hanya mau daging Sapi yang di sembelih di Surau Lubuak tidak mau Daging Sapi yang disembelih di Pasar Sungai Limau. “Baunyo harum, rasonyo manih” begitulah alasannya. Barangkali tempat pemotongan Surau Lubuak terletak di pingggir sungai yang mengalir deras sehingga dagingnya dicuci lebih bersih dibanding daging sapi yang dipotong di Pasar Sungai Limau. Sekilo Daging, sekilo hati itulah yang saya antarkan ke rumah Andeh atas perintah Abak.
“Lai Daging Lubuak ko” Andeh menyakinkan saat saya menyerahkan daging.
“Lai, tantu Abak alah tahu kesukaan andeh ” jawab saya.

Sejak saya kecil Andeh memang tak menetap di Kampung. Setelah Novi, cucu yang menemaninya selama di Kampung tamat SD kembali ke Jakarta berkumpul bersama orang tuanya, Andeh hanya sebentar-sebentar saja di Kampung. Biasa menjelang Ramadhan ia pulang. Ikut sembayang 40 di Surau Batang Sariak alasannya agar Ajo Dirman memberi ia izin dan mengantarnya pulang Kampung. Sembahyang 40 yaitu sholat berjamaah bagi kaum muslimah di surau selama 40 hari berturut-turut tanpa terputus menjelang masuk bulan Ramadhan. Hingga beberapa minggu usai lebaran Andeh masih di Kampung sampai Ajo Dirman datang lagi menjemput dan membawanya kembali ke Jakarta.

Suatu hari saya berkunjung ke rumah Andeh. Pompa air sedang rusak. “Al cubu ang pelok’an pompa aie” pintanya. Saya berjalan menuju pompa. Lalu memasang colokan listrik dan pompa mendesing, namun air tidak keluar. Saya memukul pelan-pelan tabung isap pompa, karena hanya itu kemampuan saya dibidang teknik. Air tak kunjung mengalir juga. “Ndak bisa awak doh ndeh” saya menyerah. “Aaa, ba’atu ang Insinyur tapi mempaelokan pompa aie ndak bisa, ba’a caro kuliah ang tu”. Saya hanya mangut-mangut malu.

Kenangan saya tentang Andeh memang lebih banyak semasa kecil di Kampung. Justeru setelah saya menetap di Jakarta dan Andeh juga tinggal di Jakarta, saya jarang sekali menemuinya. Barangkali karena Andeh juga tak sepenuhnya menetap di Jakarta. Kadang ia dibawa Ajo Dirman ke Palembang. Kadang kala ia pulang ke Kampung untuk beberapa lama. Dan lagi pula karena kami sama-sama sibuk; sebagi buruh saya sibuk disuruh-suruh dan dimarah-marahi atasan, sedangkan Andeh yang tegas juga sibuk memarah-marahi anak-cucunya (bercanda). Tapi Andeh memang tegas kok. Meskipun ia tinggal di rumah anaknya, namun ia tak pernah sungkan untuk memarahi cucu-cucunya maupun anaknya sekalipun yang dianggapnya bersalah.

Andeh meskipun sudah berusia lanjut selalu sehat. Yang saya tahu Andeh beberapa kali masuk Rumah Sakit hanya untuk mengeluarkan kelebihan sel darah merah. Hampir sama seperti donor darah. Karena produksi sel darah merahnya tinggi. Pantasan mukanya selalu merah meskipun tidak sedang marah.

Hingga dini hari menjelang sahur pertama di bulan Ramadhan 1436 H ponsel berdering. Dilayar tertulis Ari Alamsyah. “Nenek sudah tidak ada jo” ia mengabarkan. “Innalillahi wainnalillahi rajiun” balas saya. Ari mengabarkan bahwa jenazah akan diselenggarakan di rumah Ajo Dirman yang di Slipi. Selepas sarapan saya meluncur ke Slipi menghadiri penyelenggaraan jenazahnya, ikut mensholatkan serta mengantarkan ke pemakaman Karet.

Sudah lebih tiga tahun Andeh meninggal, lalu Abak menyusul setahun yang lalu, namun setiap melintas di depan rumah Andeh saya menoleh ke rumahnya seakan-akan terkenang pada masa kecil dulu setiap kali saya datang; “ang Al” ucapnya sambil menguak daun pintu dan mempersilakan masuk. Lalu membuat teh dan menyuruh minum. Tentu saja hal itu tak mungkin saya dapatkan lagi. Namun rumah kosong, pagar tertutup rapat, rumput liar dibalik pagar menaiki pagar dan bibir teras.

Untuk Andeh, Abak serta Amak ;

“Allahummaghfir lahum warhamhum wa ‘aafihi wa’fu ‘anhum, wa akrim nuzulahum, wa wassi’ mudkhalahum. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari.”

****

Al-Albana, Korong Kenagarian Kuranji Hilir, Pariaman 11 Muharam 1441

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close