Cukup! sebut saja Kebakaran Hutan Lahan

Apa susahnya sih menyebut penjara daripada menyebut lapas atau LP. Warga binaan atau napi juga terlalu halus untuk menyebut orang yang dipenjara.
Kenapa sih para musyi lebih senang menulis ; “oknum pejabat Kementerian X yang terbukti melakukan kurupsi sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya di Lembaga Pemasyarakatan Suka Miskin Bandung. Apa susahnya menulis seperti ini ; ‘Pencuri uang rakyat dari Kementrian X sedang menjalani hukuman dalam penjara Suka Miskin’. Kalimat kedua tentu sedikit banyak membuat kita bergidik, takut, ngeri, barangkali juga setidaknya mempunyai pesan preventif terhadap orang-orang yang punya potensial mengemplang uang yang sedianya untuk kemaslatan rakyat. Kata korupsi, lapas, LP, Lembaga Pemasyarakatan, Warga Binaan, semua kata atau frasa itu, tidak mengakar bagi masyarakat, jauh dari ‘kuping’ masyarakat, terutama kelas menengah bawah yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.

Begitu pula dengan kata zina diganti dengan selingkuh. Merampok uang rakyat disebuat rasuah. Maaf, Lonte disebut penjaja cinta, wanita simpanan, orang ketiga . Rumah Bordil ditulis lokalisasi. Ilegal loging, human traficking dan lain sebagainya.
Selain bangsa yang pemaaf dan gampang lupa ternyata kita juga bangsa yang senang memperhalus bahasa. Tapi celakanya. Secara tak sadar dan lambat laun kita menjadi permisif terhadap hal-hal yang buruk yang disebutkan di atas.

Jika memperhalus bahasa, seperti menyebut Kamar Kecil untuk Kakus atau Jamban itu tidak masalah. “permisi, bisa menumpang ke kamar kecil ?” atau “boleh menumpang ke ‘belakang'” Untuk minta izin menggunakan jamban saat bertamu, tentu saja ini sangat baik, daripada “bisa menumpang ke kakus?” padahal anda sedang menikmati jamuan tuan rumah.

Belakangan, saat nafas saudara-saudara kita ‘mengap-mengap’ di Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan sebagian Kalimantan akibat kabut asap dari pembakaran lahan oleh pengusaha kakap. Para munsyi yang senang bermain kata-kata menulis di media masa, cetak maupun elektronik Karhutlat
“Sekolah di Pekanbaru diliburkan karena Kabut Asap semakin tebal akibat karhutla”. begitu tertulis di running text. “Puluhan orang menderita ISPA dirawat dirumah sakit dampaK dari Karhutla” judul berita media daring.

Saya tidak tahu apakah awak media ini punya kepentingan dengan pengusaha yang membakar hutan atau tidak. Bagi saya mereka orang-orang yang ‘ganjen’ dalam berbahasa.

Sila tanya ke Paijo ; buruh harian lepas, Parman ; petani penggarap, Iyem : asisten rumah tangga, Togar ; kenek Metromini, apakah mereka tahu apa itu Karhutla?

Itulah sebabnya saya tak memberi caption photo ini dengan “inilah Penampakan Matahari Pagi ini akibat Karhutla”

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close