Roti Tilambuang

Selasa sore lalu, saya mendapati roti ini dijual di Warung Es Campur Rajawali Ampang. Di sini hanya dua varian es yang dijual ; Es Campur dan Es Rumput laut. Roti Tilambuang merupakan satu-satunya jajan lain yang dijual di tempat itu.
Entah apa alasannya. Barangkali pemilik Warung Es ini punya nostalgia dengan roti jadul ini, sehingga ia bersedia menerima dan membantu penjualan roti jadul ini di warungnya, sedangkan makanan lain tidak.
“Baru kok bang, baru tadi pagi diantar” kata pemilik warung yang juga seorang tentara saat saya meraba-raba roti ini.
“Murah bang, cuma Rp 5.000” katanya lagi. Saya mengambil sebungkus dan ia memasukan kedalam kantong plastik bersamaan dengan dua bungkus es yang saya pesan.

Sesampai di rumah saya memperlihatkan kepada Alwi.
“ini roti jaman ayah kecil dulu, sekarang sudah langka” saya menyodorkan potekan kecil ke mulutnya.
“Emang enak” ujarnya sambil menghindar.
“Ya, enaklah, kalau tidak , ngapain orang capek-capek bikin”
“Bagi ayah enak, tapi saya tak” ia menghindar dan benar-benar tak mau mencicipi sedikitpun.
“Makanan itu bukan soal rasa saja nak, namun ada hal lain yang tak tercerna oleh lidah sehingga seseorang mau membeli dan memakannya” saya menjelaskan
“Maksud” ia mencecar
“Ini bukan, soal rasa tapi kenangan”

Roti yang berisi parutan kelapa dan tepung adonan yang diberi sedikit susu ini, namanya Roti Tilambuang. Roti ini merupakan makanan mewah bagi saya waktu kecil, apalagi dimakan dengan bubur kacang hijau. Saya sudah lupa berapa harganya kala itu. Yang masih ingat, walaupun harga roti ini ralatif murah, saya mesti berhemat untuk mendapatkan roti ini dengan menyisihkan dari uang jajan yang memang ramping. Atau kalau tidak jika ada orang yang panen kebon kelapa. Setelah semua buah kelapa dijatuhkan oleh monyet yang terlatih lalu dikumpulkan oleh pemilik kebon. Maka si pemilik kebon mengizinkan bocah-bocah mencari-cari jika sekiranya ada buah yang terselip di lereng-lereng atau tertutup oleh semak-belukar. Buah Kelapa yang ditemukan oleh bocah-bocah boleh diambil dan dijual. Dari uang itulah kami membeli jajanan yang kami suka. Kalau saya memang memilih Roti Tilambuang.

“Betapa sengsaranya hidup anak-anak jaman dulu” ledeknya.
“Tapi kami senang dan enjoy menjalaninya” tepis saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close