Kabut Asap

Kabut asap semakin mendesak. Kami yang selama ini sesak karena ikut prihatin atas bencana kabut asap yang menimpa saudara-saudara yang berada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan. Sejak seminggu lalu juga sesak benaran akibat hal yang sama; kabut asap akibat pembakaran lahan.

‘Habis asap timbullah sawit’ begitu seorang sahabat menulis di beranda facebook. Bukan rahasia lagi bahwa kabut asap ini akibat pembakaran lahan untuk pembukaan lahan sawit. Pembakaran merupakan cara pembukaan lahan yang paling murah meskipun dampaknya sangat parah. Pemilik lahan yang tak punya hati akan milih cara itu. Celakanya lagi pemerintah tak berdaya menghadapi penguasa seperti ini. Kita maklum bahwa memadamkan api tidaklah mudah namun jika pemerintah berani tentu tidak susah menindak pemilik korporasi yang membakar lahan. Bagaimana tidak teroris pelaku Bom Bunuh diri saja yang tubuhnya berserakan polisi mampu mengidentifikasi masak mencari dan menindak pemilik lahan yang dibakar tidak mampu. Sudahlah saya tak membahas tentang itu.

Saya teringat film Bumi Manusia yang tayang lebih dari sebulan yang lalu. Sanikem seorang perawan desa yang dijual ayah kandungnya kepada Tuan Administratur Pabrik Gula : Herman Mellema demi meraih ambisi agar naik jabatan menjadi juru bayar. Sastrokartomo nama lelaki yang terbakar ambisi itu dan kemudian hari Sanikem menjelma menjadi Nyai Ontoroh pemilik perkebunan, pertanian dan perternakan yang menguasai ratusan hektar lahan.

Saya tidak percaya Hanung, sutradara kondang yang sering membuat film-film sejarah tidak punya gambaran yang cukup mengenai sosial ekonomi awal tahun 1900-an, setting film ini. Dalam buku-buku sejarah menceritakan kepada kita bahwa Kopi dan Gula adalah komoditas Dunia yang telah banyak membantu perekonomian Kerajaan Belanda. Dam-dam yang dibangun untuk melindungi kota-kota di Belanda dari abrasi laut dibangun dari hasil pertanian Kopi dan Tebu dari Sidoarjo, Deli, Lampung, Toraja, Gayo dan lainnya wilayah Nusantara.

Kenapa Nyai Ontosoroh dalam Film Bumi Manusia karya Hanung ini justeru menanam cabe, tomat, kentang dan lain sebagainya. Tanaman yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal bukan komoditas eksport seperti Kopi dan Tebu. Nyai Ontosoroh juga juga memaamfaatkan lahan yang luas itu untuk perternakaan sapi dan memproduksi susu yang dijual di pasar lokal. Nyai Ontosoroh yang kaya raya itu tidak menjadi importir susu dan daging.

Peternakan dan pertanian dan semua lini bisnis Nyai Ontosoroh berorientasi lokal. Ia memproduksi bukan importir. Hasil pertanian dan peternakan dari lahan yang luas juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan lokal bukan komoditas dunia.

Ahh, andai saja pengusaha-pengusaha kita saat ini yang menguasaai ratusan ribu lahan secerdas (atau sebodoh) Nyai Ontosoroh yang tak pernah sekolah tentu kita saat ini tidak akan mendengar ; stop import beras, Harga Cebe melangit”, stop import daging, Bawang dan Tomat dilempar ke jalanan akibat harga anjlok dan lain sebagainya.

Ayolah para elite yang menguasai ribuan lahan alokasikan sepersekian dari lahan anda untuk tanaman komoditas lokal. Menanam cabe, tomat, kentang, kedele, Jagung, Singkong dan lainnya. Bahkan jika berkenan dengaan bantuan teknologi tidak mustahil lahan sawit dapat dialihfungsikan menjadi sawah untuk menanam padi. Sehinggga dengan begitu tidak ada lagi elite yang penjara akibat kasus import. Jika anda berkenan barangkali penderitaan kami akibat kabut asap secara berkala dapat berkurang atau hilang.

Tak semua lahan harus sawit bukan!

Masa’ kalah (nasionalis) dibanding seorang Nyai.

****

Al Albana, Padang 24 Muharam 1441

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close