Dari Teatrikal Menjadi Meme

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik lalu simpatik terhadap perjuangan adik-adik mahasiswa ini. Yang utama tentu saja tuntutan yang mereka usung. Saya tidak punya basic pengetahuan tentang hukum sehingga tidak paham mengenai RUU yang dianggap bermasalah oleh sebagian ahli seperti RKUHP, RUU Agraria, RUU Minerba, RUU Pemasyarakatan dan RUU ketenagakerjaan.
Namun revisi UU KPK yang telah disahkan sungguh menyakiti hati sebagian besar rakyat termasuk saya.

Selain substansi yang mereka usung yang membuat saya senang tentu saja poster-poster yang mereka bawa sebagai alat peraga. Kreatif, dengan kalimat-kalimat yang menggelitik dan jenaka seperti dibawah ini. Di tengah keadaan yang serba tidak menentu saat ini mereka masih mampu menertawakan diri sendiri dalam rangka mentertawakan elite-elite yang akrobat mereka di panggung sandiwara, maksudnya panggung politik lebih lucu dari Srimulat. Mustahil tidak ada kata-kata sarkas seperti demo-demo sebelumnya. Pasti ada, namun tertutupi oleh oleh poster jenaka dan menggelitik ini.

Sepintas kelihatan sepele dan terlihat sekadar lucu-lucuan poster yang mereka bawa. Meskipun tidak penting namun ini perlu. Apalagi bawah matahari yang terik membakar kulit. Poster ini memberi sedikit jeda sebelum melangkah lebih maju. Apalagi aksi unjuk rasa marathon hinggaa beberapa hari atau minggu seperti demonstrasi 98 atau Hongkong yang telah berlansung lebih dua bulan.

Mundur ke belakang. Aksi 98. Barangkali bisa saja sebagian mahasiswa yang kelelahan itu mundur dan tidak kembali lagi ke jalanan akibat yang diperjuangkannya tak kunjung berhasil. Aksi-aksi teatrikal yang menarik bisa jadi alasan mereka kembali turun ke jalanan. Terutama di Jogja. Kelompok seniman ISI dalam hal ini mengambil peran. Aksi Teatrikal mereka di jalanan saat unjuk rasa menghibur peserta aksi. Memberi jeda sejenak sekaligus memompa semangat baru untuk terus bergerak.

Steak Daging Kacang Ijo yang selalu mendampingi aksi demonstrasi 98 di Jogja. Band Undergound yang dibesut oleh 3 perupa ISI-Jogja yang tidak bisa bermain musik. Bob Sick–Presiden Tatto Indonesia–yang tempo hari ditolak oleh belasan biro umbroh karena sekujur tubuhnya hingga wajahnya dipenuhi tatto dan dua orang temannya Alm Yustoni Voluntero dan Alm S Teddy D

Setiap tampil justeru penonton yang naik ke panggung dan mereka turun berjoget dalam kerumunan masa, sekali-kali berorasi atau baca puisi.

Zaman berganti, generasi baru tumbuh membawa budaya baru menyesuaikan dengan zaman. Aksi teatrikal menarik memang tidak terlihat lagi pada aksi yang telah berlansung beberapa hari ini. Poster-poster jenaka dan menggelitik ini cukuplah sebagai gantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close