Tackling & Diving

Setidaknya ada tiga istilah dalam pertandingan sepakbola yang belum punya padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Yang pertama offside kedua dan ketiga Tackling dan Diving. Offside arti bebasnya ‘posisi mati’. Istilah ini sangat jarang digunakan. Masyarakat sepakbola lebih nyaman menyebutnya dalam Bahasa Inggris ; Offside. Sedangkan ‘takcling’ yaitu aksi merebut bola dari lawan dengan cara mengulurkan kaki sambil menjatuhkan badan. Saya tidak tahu padanan kata yang cocok untuk ‘tackling’. Begitu pula dengan ‘diving’ yaitu aksi pura-pura jatuh yang biasanya dilakukan di daerah pertahanan lawan yang bertujuan agar pihak lawan dijatuhi hukuman. Syukur jika terjadi di area pinalty, jika wasit tidak jeli lalu memberikan hukuman kepada tim lawan dengan tendangan 12 pas.

Steven Gerrad, Edgard Davis, Sergio Basquet, Gerrad Pique adalah pesepakbola yang mampu melakukan tackling sempurna. Artinya bola berhasil direbut namun tidak mengenai kaki lawan sehingga tidak dinilai sebagai pelanggaran. Ada nama Genaro Gatusso, Sergio Ramos, Pepe nama-nama yang sering dihadiahi oleh wasit karena tacking yang kasar ; bola lewat yang dapat malah kaki lawan.

Neymar, Arjen Robben, nama yang mendapat stigma negatif karena dianggao sering melakukan diving. Tentu saja nama Filippo Inzaghi berada posisi puncak raja diving, barangkali kalau di dunia persilatan sejajar dengan pendekar berwatak culas dalam serial Wiro Sableng yaitu Pangeran Matahari atau Arya Dwi Pangga alias Pendekar Syair berdarah dalam serial Tutur Tinular. Ada pendekar berwatak culas seperti Filippo Inzaghi di sepakbola yang dikenal sebagai raja diving, tentu juga antitesisnya yaitu Marcelo Salas, penyerang Chile yang bermain untuk Juventus juga dikenal sangat antidiving. Jujur. Jika wasit keliru karena pemain lawan dinilai telah menjatuhkannya di kotak pinalti, maka ia akan jujur kepada wasit bahwa ia jatuh akibat kelalaian sendiri bukan karena dijatuhkan lawan.

Seorang pesakbola yang melakukan tackling akan dua kemungkinan ; (1) Tackling sempurna tanpa mengenai kaki lawan. Dinalai sesuatu yang wajar, permainan terus berjalan dan (2) Tackling yang dinilai sebagai pelanggaran. Alih-alih merebut bola malah menghajar kaki lawan. Jelas ini pelanggaran yang konsekwensinya jatuhi hukuman ; sekadar peringatan, kartu kuning bahkan kartu merah, tergantung berat pelanggaran. Berbeda dengan tackling, seluruh diving adalah pelanggaran. Tidak ada diving yang bukan pelanggaran. Meskipun hukumannya tidak seberat tackling. Saya tidak tahu apakah ada pesepakbola yang kena kartu merah karena diving.

Jika istilah-istilah sepakbola itu ditarik ke panggung politik yang sedang berlansung saat ini ; gelombang Mahasiswa yang menolak UU KPK, RUU KUHP, RUU Agraria, RUU Pemasyarakatan dan lainnya. Barangkali pemberitaan dari Polda Metro Jaya bahwa ditemukan Ambulan Pemda DKI berisi batu dan bom molotov merukan “diving” politik. Sedangkan Intruksi Menristek & Dikti memerintahkan rektor untuk memberi sangsi mahasiswa yang turun demo merupakan “tackling” politik. Apakah tackling sempurna atau tackling yang buruk, silakan dinilai menurut persepsi masing-masing.

Ingat! dalam sepakbola seluruh diving merupakan pelanggaran, bagaimana dalam politik?

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close