Gempa

Dear Alwi

Semalam kita menonton mengenang 10 tahun gempa Padang di Padang TV. Meskipun kamu masih dalam rahim saat bencana ini terjadi. Namun dari cerita kami dan orang-orang, kamu sudah sering mendengar peristiwa naas ini. Cuplikan rekaman yang kita tonton semalam sekiranya membantu menjalin gambaran-gambaran tentang gempa itu yang ada dalam benakmu selama ini. Kita pernah berkunjung ke Museum Gempa Padang yang berada di Museum Adityawarman akhir tahun lulu.

Pada salah satu cuplikan yang diiringi lagu Minang yang sungguh menyayat hati liputan evakuasi korban Hotel Ambacang. Hotel megah yang tadinya 6 lantai lalu ambruk tersisa 2 lantai. Melihat korban-korban dikeluarkan dari bawah reruntuhan, menyadarkan saya bahwa hidup ini ringkih belaka, getas seperti daun ‘karisiak’.

Gempa merupakan satu-satunya bencana alam yang tidak bisa diprediksi. Beda dengan gunung meletus, hantaman meteor, topan, banjir atau kebakaran hutan yang bisa dipantau pergerakannya. Meskipun telah banyak penelitian dan teknologi semakin canggih namun hingga saat ini belum satupun teknologi yang bisa memprediksi datangnya gempa.

Dan karena gempa tidak bisa diprediksi secara pasti, manusia mesti mampu meminimalisir dampak dari gempa. Kajian tentang rumah tahan gempa salah satunya. Konon khabarnya Rumah Gadang merupakan rumah tahan gempa. Menurut ahli rumah panggung dengan bentuk atap runcing seperti tanduk kerbau, dengan sejumlah tiang penyangga terlihat miring ke dalam, yang jika ditarik garis imajiner dari semua tiang itu akan bertemu pada satu titik, inilah rahasianya Rumah Gadang tahan terhadap goncangan gempa. Namun sayang kearifan lokal ini sudah ditinggalkan, terutama Minangkabau Pesisir sudah sejak lama beralih ke rumah beton. Rumah Gadang meskipun sedikit masih bisa kita temukan di Minangkabau ‘Darek’ (daratan). Sedangkan untuk gedung-gedung bertingkat di kota besar ada beberapa gedung yang telah menanam bola-bola raksasa di dasar pondasi yang berfunsi untuk menstabilkan posisi gedung seandainya terjadi goncangan akibat gempa.

Saya kira ada baiknya, kamu dan juga aku sering menonton acara seperti ini. Betapa ringkihnya kita manusia ini. Hotel Ambacang yang megah dan kokoh saja dalam dalam hitungan menit luluh lantah akibat gempa. Banyak hal yang dapat kita serap dari sini. Melihat bukti bahwa betapa gampangnya hidup berakhir. Dengan menyadari itu barangkali kamu lebih rajin sholat. Barangkali juga bisa meminimalisir sifat agresor yang ada dalam diri kita masing. Melihat dunia dari sisi berbeda.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close