Agus Salim Jago Debat Tak Terkalahkan

Semua sudah tahu bahwa Agus Salim pendekar pilih tanding dalam dunia debat. Ia dikenal sebagai diplomat ulung. Tidak berlebihan pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh dunia Internasional merupakan jasa beliau bersama Sutan Sjahrir, Muhammad Roem, Hatta, Achmad Soebarjo, A.K Gani, Ali Sostroaamijoyo dll.

Agus Salim tidak hanya jago dalam debat forum resmi, debat non formal bahkan hingga olok-olokan beliau juga tak pernah kalah, rekor terburuknya hanya seri (draw). Bukan orang pintar atau intelektual yang menghentikan rekor debat tak terkalahkan beliau melainkan seorang kusir delman. Istilah debat kusir yang kita kenal hari ini berasal dari beliau. Barangkali itulah sebabnya Islam mengajarkan ummatnya untuk menghindari debat apalagi dengan orang fasik.

Pada suatu petang Agus Salim pulang ke rumah kontrakannya dengan delman. Di perjalanan pulang Salim dan kusir sama-sama memandang pantat kuda yang menarik delman. Tiba-tiba kuda kentut.

“Ini kudanya masuk angin pak!” Ujar Salim

“Bukan, kuda saya keluar angin” bantah Pak kusir.

“Iya, ia kentut keluar angin, tapi itu artinya ia masuk angin” Salim menjelaskan.

“Tapi pak itu artinya ia keluar angin, bukan masuk angin” balas Pak kusir

“Coba diperiksa pak! Barangkali kuda Bapak sakit, makanya masuk angin”

Sudah diobati pak, makanya ia bisa keluar angin.

Begitu terus hingga sampai di rumah kontrakan dan Salim turun, perdebatan tidak berujung tidak menemukan kesepakatan.

H. Agua Salim menceritakan kejadian itu di Parlemen. Saat perdebatan sedang panas dan alot. Agus Salim mengingatkan agar seluruh anggota Konstituante (Parlemen) tidak berdebat kusir. “Hadirin sekalian mari kita tinggalkan debat kusir! Kita cari pemecahan permasalahan ini bersama-sama demi persatuan-dan kesatuan bangsa”

Sejak itulah istilah debat kusir populer hingga hari ini.

Banyak sekali kisah tentang kecerdikan Agus Salim dalam membalas sinisme atau olok-olokan pihak lawan. Dalam rapat-rapat Serikat Islam, kakek berjenggot ini acapkali diolok-olok oleh sebagian anggota Syarikat Islam yang perpaham komunis seperti Musso, Dharsono yang kemudian mendirikan SI Merah sebab Agus Salim salah seorang yang sangat keras ingin mengeluarkan orang-orang berpaham komunis dalam tubuh Syarikat Islam. Setiap kali ia naik mimbar untuk bicara ada saja suara mbekkk..mbekkk…mbekkk (menyerupai suara kambing) dengan maksud mengejek Agus Salim seperti Kambing karena beliu berjenggot. Kakek berjenggot ini sangat pandai dalam hal mengelola emosi. Ia tak lansung marah tapi memikirkan cara membalas yang elegan dan mematikan. Beberapa saat kemudian Salim membalas ;

Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam, bagi kambing pun ada amanatnya dan saya menguasai banyak bahasa” . Muso dkk yang mengejek Salim sirahnya memerah tak bisa membalas. Malu.

Dari sekian banyak kisah tentang kehebatan Salim bersilat lidah ini yang paling saya suka. Kisahnya terjadi saat Salim menjadi penerjemah dan petugas urusan haji di Jeddah. Atasannya Mr. N. Sceltema mantan controler (jabatan setingkat Bupati) di Wlingi Jawa Timur. Mr. N. Sceltema sering dibuat kesal oleh Salim. Salim sering terlibat adu argumen dengan atasannya ini. Meskipun begitu, semua pekerjaan dan tugas yang diberikan kepadanya selalu beres, jadi sama sekali tidak ada alasan untuk mengatakannya sebagai pemalas lalu memecatnya. Ia tidak dapat dicap sebagai ongeschikt(tidak berguna). Bahkan ia diakui mampu meringankan beban atasannya, dan ia dihargai sebagai asisten yang bermanfaat. Cuma, karena sering ngeyel, sang Konsul suka sebal.
Dalam sebuah kesempatan bertukar pikiran yang panas antara Salim dengan atasannya, Konsul Belanda itu menyindir: “Salim, apakah engkau kira bahwa engkau ini seorang yang paling pintar di dunia?” Sindiran yang tidak perlu dijawab ini malahan dengan tangkas ditanggapi oleh Haji Agus Salim: “Itu sama sekali tidak benar, meneer. Banyak orang yang lebih pintar dari saya, cuma saya belum bertemu dengan seorang pun di antara mereka di sini.” Si Konsul tambah sebal. Tetapi apa mau dikata.

Saya membayangkan seperti apa ekspresi wajah meneer saat itu. Mau balas lagi takut kena ‘smash’ yang lebih mematikan lagi. Mau diam tengsin terlihat bodoh di mata bawahan. Mau meninggalkan Salim terlihat seperti pengecut. Paling yang agak tepat “ya sudah, kowe silaken tinggalkan ruang ini, saya kepengen sendiri di sini”

Begitulah Inyiak yang khas dengan jenggot ini tak terkalahkan dalam hal debat. Pencapaiannya dalam debat formal (diplomasi) mengantarkan Kemerdekaan Indonesia mendapat pengakuan dunia internasional dalam debat non formal, seperti yang diceritakan di atas dan lebih banyak lagi. Namum hidupnya tetap sederhana. Sepanjang hidup tidak punya rumah sendiri. Hidup berpindah-pindah kontrakan ; kadang bocor, kadang WC mampet.

Bagaimana pula pandangannya dalam merespon hal-hal kontemporer dalam Islam? Bagaimana Agus Salim berbuka puasa saat di Amerika? Kenapa kelompok liberal sering merujuk pendapat beliau.

Sila cari tahu!

****

Al Albana, Andalas 08 Safar 1441.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close