Happy Anniversary

Bisa dibilang saya sedikit terlambat dalam hal pekerjaan domestik- Pekerjaan rumah tangga yang umumnya lebih banyak dilakukan oleh kaum hawa. Sewaktu kerabat dan sahabat samasa kecil dahulu sudah mulai belajar mandiri dengan mencuci sepatu dan pakaian sekolah setiap hari minggu di sungai, saya malah masih enak-enaknya tidur-tiduran di atas tumpukan pakaian yang baru diangkat dari jemuran dan siap untuk disetrika. Paling saya diberi tugas memasukan pakaian yang telah disetrika ke dalam lemari atau membakar arang untuk menyetrika, sekali-kali mengambil daun pisang sebagai pengontrol tingkat panas setrika arang. Begitu pula dalam hal memasak, hingga tamat SMA saya belum pernah memasak nasi, apalagi lauk, bahkan memasak air pun belum pernah. Paling sering saya disuruh meniup bara agar api menyala atau mengeluarkan bara agar api tungku mengecil. Di musim kemarau panjang yang mengakibatkan sumur kering saya disuruh mengambil air bersih di pancuran.

Keterlambatan saya dalam mengenal pekerjaan rumah tangga, karena selain ada Amak, saya punya 5 kakak perempuan yang sangat cergas lagi cekatan, sehingga seringkali berebut pekerjaan di rumah, tentu saja saya tidak kebagian. Saya hanya diwajibkan mencuci celana dalam saya sendiri. Sekali-kali menyapu halaman dan menglap dan menaruh piring yang baru dicuci di rak piring.

Saat kuliah dan menjalani hidup sebagai anak kos semuanya berubah. Anak kos dalam artian sesungguhnya. Bukan anak kos jaman now ; makan pesan Go Food, pakaian cuci di laundry. Bukan. Anak kos konvensional dengan segala keterbatasan yang dipaksa mandiri. Saat kos saya pertama kali belajar memasak nasi, lauk, sayur. Ingat! belum ada rice cooker, masih pakai kompir minyak. Di kos saat kuliah pula saya pertama kali mencuci pakaian sendiri, menyetrika, merapikan kamar dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga.

Awalnya saya mencuci pakaian sangatlah lama ; bagian dalam dan luar pakaian disikat semua. Disikat berkali-kali dan lama tidak ada fokus pada bagian-bagian yang kotor saja. Semua pukul rata dalam waktu yang nisbi lama, lalu dibanting ke lantai hingga beberapa kali. Begitu pula saat membilas ; tidak cukup hanya 3-4 bilas. Barangkali karena terbiasa melihat orang mencuci di sungai dengan air sepuas-puasnya dab membanting kain cucian ke batu-batu besar. Hingga seorang teman memberitahu ; fokus sikat bagian yang kotor sedangkan yang lain kucek secukupnya.

Dalam banyak hal saya memang kurang adabtif, namun dalam hal pekerjaan rumah tangga saya lumayan cepat menyesuaikan diri. Tak butuh lama, dari seorang remaja yang tak bisa apa-apa bermetamorfosis menjadi anak kos yang tangguh dan jarang mengeluh.

Pengalaman menjadi anak kos selama lebih 5 tahun semasa kuliah. Membuat saya percaya diri untuk melangkah ke Batavia untuk menguji ketangkasan sebagai anak kos. Hasilnya ternyata nyaman-nyaman saja.

Hampir 10 tahun saya menjadi anak kos membuat saya terbiasa melakukan sendiri hal-hal yang dibutuhkan.

Awal-awal menikah isteri berusaha menjalankan peran seperti gambaran isteri-isteri yang diidealkan orang. Subuh sudah bangun dan menyiapkan sarapan lalu bertanya ; mau minum apa teh atau kopi? ngak usah saya bisa bikin sendiri. Kadang saya larang memasak dengan alasan saya cukup makan apa saja makanan semalam yang tersisa di dapur.

Dulu semasa kuliah kami (saya dan isteri) ber-partner dalam penelitian dan tugas akhir, insyaallah setelah menikah pun begitu. Kami berbagi tugas dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Isteri mencuci, saya yang menjemur. Kalau hari libur saya bantu menyetrika. Dulu saya masih pakai jeans, saya cuci sendiri. Karena bagi saya celana jeans terlalu berat bagi tangan wanita untuk mencucinya.

Dan sampai sekarang pun, saya berusaha untuk melakukan sendiri hal-hal yang mampu untuk dilakukan sendiri. Menyeduh teh di pagi hari, memanaskan ketel untuk kopi misalnya. Meskipun tidak seleluasa dulu di areal dapur. Kadang kangen juga mengulek cabe seperti saat awal menikah dulu, atau memasak nasi goreng untuk Alwi seperti dulu, ketika ia sering teriak lapar menjelang tidur.

Bagi saya isteri itu partner dalam menjalani kehidupan. Bukan asisten rumah tangga dan bukan pula majikan. Dulu, bahkan sampai sekarang pun kami tidak selalu sepakat dalam semua hal, tidak juga berselisih pendapat dalam segala hal. Ia senang kebersihan dan higienitas sedangkan saya suka kerapian, keteraturan dan keindahan . Bagi saya baju tidur tidak mesti ganti setiap hari, asal di atas meja kamar tidak ada ciput jilbab, tidak mengapa baju takwa dipakai hingga tiga hari karena hanya dipakai untuk sholat ke masjid asal di lantai tidak tergeletak tas dan di tempat tidur tidak teronggok handuk . Bagi ia justeru sebaliknya. Dan banyak hal-hal lain kami berbeda. Namun baik-baik saja. Fine.

Meskipun yang didapatkannya masih dua strip di bawah Shahruk Khan, jika diukur dengan “test ketamvanan” namun lumayan rajin melipat selimut dan merapikan kamar. Sekali-kali membantu cuci piring dan ngepel.

Waktu itu nisbi. Manusia mendefinisikan untuk mempermudah segala urusan. 60, 12, 24, 7, 29, 30, 31. Manusia menyebut ; detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad semua kesepakatan saja.

Hari ini 11 tahun, tahun depan 12 tahun, esok 25 tahun bahkan 50 tahun. Bisa disebut sebentar juga dapat disebut lama. Karena itu tadi waktu nisbi. Waktu hanya bisa dibandingkan namun tidak bisa disebut lama atau sebentar. Dua menit menegangkan saat kita mengalami gempa 2009 terasa jauh lebih lama dibanding saat kita bersanding di pelaminan setahun sebelumnya.

Aku ingin berjalan kita berdampingan, sampai kita sama-sama menua. Salah satu dari kita mungkin lebih dulu kena radang sendi, sehingga butuh tonggkat saat tulang dan otot tak kuat lagi menupang tubuh. Ketika nakas di kamar tidak lagi dipenuhi kosmetik tapi berganti aneka obat dan minyak gosok. Entah aku yang menuntunmu atau engkau yang menuntunku kelak, semoga arah pulangnya tetap sama. Hingga kita benar pulang ke kampung akhirat yang kekal dan abadi.

***

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close