Dulu Susi Sekarang Nadiem

Pada pengumuman Kabinet Indonesia Kerja 5 tahun silam, publik dikejutkan oleh nama Susi Pujiastuti yang duduk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Seorang perempuan dengan tampilan di luar “kewajaran” masyarakat pada umumnya ; perempuan bertatto dan perokok. Belum lagi cibiran dari mereka yang sudah terbiasa mengukur seseorang dengan gelar akademis. Sosok perempuan bertatto dengan suara serak ini drop out ketika SMA dan tak memegang selembar pun ijazah sarjana.

Belakangan Susi membuktikan dengan kinerja. Ratusan kapal asing pencuri ikan ditenggelamkan anak buahnya. Meskipun bagi sebagian orang ini bukan prestasi. Sama seperti sebagian orang yang pro revisi UU KPK yang menilai OTT yang dilakukan KPK bukan prestasi. Tak masalah.
Susi memberi pukulan telak bagi penyanjung gelar akademis. Ia membuktikan bahwa gelar akedemik tidak menjamin bertemunya pengetahuan dengan keberanian.

Banyak orang Endhonesia mempunyai ilmu pengetahuan yang sangat baik, dengan gelar akademis berjejer di depan dan belakang nama. Puluhan ribu orang lulus cumlaude setiap tahun dari PTN bergengsi bahkan Universitas tersohor di US dan Eropa. Namun soal keberanian memang tidak ada ijazahnya. Susi berada pada tangga paling atas.

Kita tunggu kiprah penggantinya saat ini yang memegang gelar akademik (pengetahuan) apakah mempunyai keberanian (menenggelamkan) seperti Susi.

Posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ditempati oleh Nadiem Makarin mungkin tidak seheboh ketika nama Susi Pujiastuti mengisi posisi Kementrian Kelautan dan Perikanan 5 tahun silam. Oleh karena nama Pendiri Go Jek ini sudah dikenal cukup luas oleh publik. Dikenal sebagai anak muda sukses dengan bisnis berbasis IT. Jika mantan CEO Go Jek ini menjadi menteri komunikasi & informatika atau Menteri Pariwisata & Ekonomi kreatif tentu publik tidak kaget, masalahnya Nadiem ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Bidang yang tidak bersinggungan dengan dunia bisnis yang dia geluti selama ini.

Namun tak mengapa juga, bukankah Susi yang tanpa ijazah sarjana selembar pun sukses (maksudnya berani melawan Lord LBP dalam hal reklamasi Teluk Benoa dan Jakarta) sedangkan Nadiem meski tidak berkecimpung di dunia pendidikan setidaknya ia pemegang ijazah MBA dari Harvard University. Bahkan jika seorang yang seperti Mark Zuckerberg sekalipun yang tidak punya ijazah seperti Susi menjadi Menjadi Menteri Pendidikan tidak mengapa. Yang penting sukses. Sebab dengan begitu ia bisa menunjukan kepada masyarakat luas bahwa pendidikan punya dimensi yang luas, sehingga ruang kelas dan prestasi akademis tidak lagi menjadi patokan dalam menilai masa depan seseorang.

Banyak orang tua yang mengeluh karena kurikulum pendidikan saat ini terlalu padat dan berat, saya pun demikian, namun ada hal lain yang membuat saya khawatir dengan kecenderungan pengarusutamakan STEM (Sains, Technologi, Ekonomic, Mathematica) di dunia pendidikan saat ini, yang seakan-akan “meminggirkan” aspek humaniora dan seni. Bahkan selentingan khabar pembukaan program study baru untuk ilmu sosial dan humaniora akan diperketat oleh dikti. Dari sini menunjukan orientaasi pendidikan kita masih sekadar memenuhi kebutuhan pasar. Menghasilkan “manusiaa robot” yang siap pakai di dunia industri.

Sebagai orang tua murid, harapan saya pada Kementrian Pendidikan, saat ini kepada Dek Nadiem tidaklah terlalu muluk dan tinggi, sederhana saja ; jika putera-puteri kami tidak perlu ikut les untuk menghadapi Ujuan Nasional (UN), selanjutnya tidak perlu bimbingan belajar (Bimbel) agar putera kami bisa diterima di PTN yang mereka ingin. Jika itu terpenuhi, saya kasih bintang lima (*****) untuk Nadiem pada evaluasi kinerja kementerian. Entah standard kelulusannya diturunkan atau infratruktur dan SDM yang dibenahi dari hulu hingga ilir. Terserah.

Satu lagi yang mengganjal bagi saya dan terasa ganjil. Standard kualitas pendidikan dipatok tinggi namun pendayungnnya diletakan di Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) bukan di sekolah.
Satu lagi perihal kebingungan saya dengan kurikulum yang ada saat ini. Jika kita sering ngobrol dengan orang yang mengenyam pendidikan tahun 60-70 terasa sekali literasi matematikanya jauh lebih hebat daripada kita apalagi dengan pelajar saat ini jika disodorkan soal matematika terapan yang sama. Misalnya berikan beberapa lembar papan dan balok dengan panjang bervariasi untuk membuat meja yang ukurannya juga bervariasi. Bisa dipastikan penggunaan bahan baku (balok dan papan) lebih sedikit jika dikerjakan oleh orang-orang yang mempelajari matematika pada tahun 60-70, sedangkan jika dikerjakan oleh pelajar sekarang yang katanya jago matematika bisa jadi bahannya (balok dan papan) tidak cukup, karena kurang cakap dalam mengkalkulasi. Banyak bahan terbuang mubazir. Bingung kan? Padahal katanya pelajaran sekolah sekarang tinggi-tingi.

Selamat Bekerja Dek Nadiem dan Selamat Kembali Melaut Bu Susi

***

Kategori Esai, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close