Keberagaman Dalam Satu ; Islam

Kongres Ulama Islam International yang diselenggarakan pada 27 Ramadahan 1425 H di Amman, Jordania menghasilkan sejumlah kesepakatan yang dikenal dengan nama Risalah Amman. Salah satunya pengakuan 8 Mahzab dalam Islam ; (1) Hanafi, (2) Hambali, (3) Maliki, (4) Syafi’i, (5) Ja’fari, (6) Zaydi, (7) Ibadi dan (8 ) Zahiri.

1-4 dari Mahzab golongan Sunni, 5&6 Syiah, sedangkan 7&8 tidak masuk ke dalam dua kelompok besar itu.

Keempat imam Mazhab Sunni yang hidup di zaman dan tempat berbeda ini, walaupun jelas sepenuh-penuhnya merujuk pada al-Qur’an, sunnah, dan warisan pemuka Islam sebelumnya—bahkan rujukan-rujukannya masih dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in—dan kompetensi keilmuan mereka begitu luar biasa, plus dedikasi adiluhung mereka kepada marwah Islam yang tak perlu diragukan sedikit pun, nyatanya tetap menisbatkan keragaman bangunannya.

Imam Hanafi dikenal dengan karakternya yang mengoptimalkan nalar analogis (qiyashi), Imam Malik dikenal dengan perujukannya secara dominan pada khazanah tradisi Madinah, Imam Syafii dikenal penuh kehati-hatian namun tetap mengakomodir khazanah budaya dan tradisi secara moderat dan tak segan merevisi pandangan lamanya dengan pandangan barunya, dan Imam Hanbali dikenal dengan karakter tekstualisnya. Semuanya berbeda tendensi, karakter, sehingga logislah mewariskan keragaman bangunan konseptualisasinya pula.

Itu baru pengelompokan dalam kelompok besar. Setiap mahzab terdapat pula perbedaan fiqih di dalamnya masing-masing. Sederhananya mesti sama-sama penganut mahzab Syafi’i tidak otomatis keseluruhan fikihnya akan sama pula.

Dengan keluasan dan ke dalaman ilmu mereka, masing-masing Imam Mahzab jauh hari dengan segala kerendahan hati mengingatkan kita bahwa diperlukan kelapangan dada untuk menerima keberagaman fikih.

Imam Hanafi ; “apabila aku mengatakan suatu perkataan (pendapat) menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah nabi Muhammad saw, maka tinggalkanlah pendapatku tersebut”.

Imam Malik ; “sesungguhnya aku adalah manusia biasa (mungkin) aku salah dan (mungkin) aku benar, maka perhatikanlah pendapatku, selama pendapatku itu sesuai Al Qur’an dan. As Sunnah. Dan selama pendapatku itu tidak sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka tinggalkanlah”

Imam Syafi’i ; ” apabila engkau menemukan dalam kitab (pendapat)-ku menyelisihi sunnah Rasulullah Saw, maka katakanlah (ikutilah) yang disampaioan Rasulullah Saw, dan tinggalkan apa yang aku katakan (pendapatku) itu”

Imam Ahmad ; ” janganlah engkau taklid kepadaku, demikian pula kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i, dan Imam al-Tsauri. Namun ambilah (ikuti) dari mana mereka (para imam itu) mengambil yaitu Al Qur’an dan Hadits”

Apalagi di zaman kita kini! Apalagi dalam bentang waktu, jarak, dan dinamika khazanah kehidupan riil umat Islam yang telah melimpas jauh, luas, dan sekaligus penuh kekhasan antarwilayah, mustahil tidak membuhulkan corak-corak yang kuat pada bangunan Islam setiap kita, bangunan-bangunan agama yang masing-masing kita menyatakannya “Islam”. Mustahil kita memaksakan wajah Islam haruslah satu!

Termasuk dalam hal yang membuat heboh karena Menteri Agama ingin memaksakan keseragaman dalam menafsirkan cara berpakaian (cadar dan celana cingkrang) kaum muslimin.

Begini saja ! Yang bercadar jangan dipaksa untuk melepaskan, yang tidak bercadar jangan dipaksa untuk bercadar, begitu pula yang cingkrang jangan dipaksa untuk isbal dan sebaliknya yang isbal jangan dipaksa cingkrang.

Mestinya, dengan kejembaran nalar tersebut, semua kita mampu dengan mudah menerima realitas kamajemukan Islam kita sebagai kehendak-Nya belaka. Sekali lagi, jauhkan prasangka benar/salah pada konteks ini. Kalau Anda tetap ngotot perihal benar/salah di hadapan kemajemukan ini, jelas bukan Andalah hakimnya, tapi semata Allah, nanti di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close