Majelis Taklim

Makna sebuah kata terbentuk dari konsensus penuturnya, dibatasi oleh tempat dan waktu. Sebuah kata akan berbeda maknanya di tempat yang berbeda, serta dapat pula bergeser maknanya pada masa yang berbeda.

Meskipun makna sebuah kata sudah disepakati secara umum serta telah dibakukan dan dibukukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun setiap orang boleh saja memaknai sebuah kata sesuai imajinasi masing-masing asalkan tidak memaksakan definisinya kepada pihak lain.

Apa yang terlintas dipikiran anda setiap mendengar atau membaca kosa-kata Majemuk ‘Majelis Taklim?’

Setiap mendengar atau membaca itu Majelis Taklim saya teringat Abdel dan Mama Dedeh, Ustadz Maulana, Ustadz Solmed, Oki Setiana Dewi dan sederet nama pendakwah di televisi. Selanjutnya aneka dresscode ibu-ibu Majelis Taklim dengan dandanan cetar membahana di studio televisi.

“Yang sebelah sana dari mana” ujar Abdel menghadap ke arah kanan studio. Serentak suara ibu yang sebelumnya sudah di coaching menjawab dengan bersemangat “Majelis Taklim Masjid Raya Bintaro Tangerang”, lalu Abdel berpaling ke sebelah kiri “yang sebelah sini dari ?” Majelis Taklim Masjid Al Fur’qon Batu Ceper” sahut sekumpulan ibu-ibu dengan gamis Pink Manja dan jilbab ungu seakan-akan tak kalah semangat dengan jawaban sebelumnya.

Pada waktu dhuha beberapa tahun silam, dari pengeras suara saya mendengar suara ustazah memberikan ceramah kepada ibu-ibu Majelis Taklim Masjid At Taqwa yang tak jauh dari rumah dengan tema Parenting. Selesai sesi ceramah. Sebuah bakul pakaian syar’i dari brand mashur telah menanti untuk melanjutkan sesi “transaki” alias jual-beli.

Saya pernah mendapat cerita dari isteri tentang ibu-ibu Majelis Taklim di komplek perumahan kami yang diundang untuk kajian subuh di salah satu studio televisi swasta. Karena akan tampil di televisi, wajar saja kaum hawa ingin tampil dengan dandanan paripurna. Tidur lebih awal, saat pergantian hari bangun lalu dandam maksimal ; make up, eye shadow, bahkan hingga pakai bulu mata palsu. Lalu kenakaan gamis dan jilbab yang telah disepakati. Mematut-matutkan diri di cermin. Berkumpul di tempat yang dijanjikan. Pukul 02 dini hari, cap-cus berangkat. Sampai di studio gladi resik. Selesai sholat subuh acara di mulai. Dan ibu-ibu Majelis Taklim pun senang dan bahagia tak terhingga. Terlihat hingga beberapa hari mereka tak henti-henti. membahas masalah perfomance di televisi. Namun sayang yang dibahas bukan kajian dari ustazah namun dresscode Majelis Taklim lain yang mereka temui di Studio, persiapan dan perjalanan sebelum dan sesudah acara, sambil berharap semoga diundang lagi ke studio.

Begitulah sebagian gambaran dari kosa-kata ‘Majelis Taklim’ yang ada dalam pikiran saya. Wajar ketika mendengar berita bahwa Majelis Taklim wajib mendapat izin dari Kementrian Agama saya kaget dan heran.

Jika tujuan perizinan Majelis Taklim dalam rangka program deradikalisasi (yang kita pahami secara umum) dan memang sedang gencar dilakukan pemerintah belakangan ini, otak saya yang pas-pasan kok belum bisa mencerna. Namun jika tujuan perizinan ini agar ibu-ibu Majelis Taklim tidak radikal konsumtif (belanja) dan radikal eksis saya sangat setuju.

****

Al Albana, Padang 05 Rabiul Akhir 1441.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close